Tasmalinda
Senin, 09 November 2026 | 00:00 WIB
Hamparan sawah di kawasan dataran tinggi Semende, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan [Mohamad Shabir Fikri/Suara.com]
Baca 10 detik
  • Petani kopi dan padi di dataran tinggi Semende mengalami penurunan hasil panen drastis tahun ini.
  • Anomali cuaca serta cekaman iklim ekstrem menjadi pemicu utama kerontokan bunga dan penurunan produktivitas tanaman.
  • Akademisi Universitas Sriwijaya menyarankan penerapan varietas padi genjah serta pengelolaan air dan pupuk sebagai solusi adaptasi.

Menurut dia, perubahan kondisi cuaca turut memengaruhi pertumbuhan tanaman padi. Salah satu gejala yang terlihat di lahan pertanian adalah tangkai atau malai padi yang tumbuh lebih pendek.

Cekaman iklim mengganggu pertumbuhan tanaman

Keluhan petani tersebut mendapat perhatian dari kalangan akademisi Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya. Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya, Umar Harun, menjelaskan bahwa perubahan produktivitas tanaman dapat berkaitan dengan cekaman iklim, termasuk dampak fenomena El Niño.

Menurut Umar, selama fenomena El Niño, perubahan iklim mikro di tingkat lahan dapat disertai peningkatan suhu udara sekitar dua hingga lima derajat Celsius. Kondisi tersebut dapat diperburuk oleh penurunan kelembapan udara hingga 50–60 persen.

Kombinasi suhu tinggi dan kelembapan rendah berpotensi membuat tanaman mengalami cekaman lingkungan. Besarnya dampak, kata dia, bergantung pada fase pertumbuhan tanaman dan lamanya cekaman berlangsung.

"Jika pada saat padi muda mengalami cekaman akibat peningkatan suhu dan kelembaban udara yang rendah maka padi tersebut akan mengalami peningkatan evapotranpirasi dan respirasi sehingga tanaman akan tercekam dalam waktu yang lama," katanya.

Umar menjelaskan, kondisi tersebut dapat menurunkan kandungan klorofil pada daun. Gejalanya antara lain perubahan warna daun menjadi lebih hijau muda, penyusutan panjang daun dan batang, serta berkurangnya panjang tangkai gabah.

Pada fase pembungaan, tanaman padi juga dapat mengalami percepatan pembentukan bunga. Namun, jumlah gabah yang dihasilkan pada setiap tangkai atau malai berpotensi lebih sedikit.

"Akibatnya panen di bawah 1 ton gkp per hektar yang biasanya 5 ton gkp per hektar," tutur Umar.

Baca Juga: PTBA Salurkan 1.250 Box Susu untuk 26 Anak Stunting di Muara Enim

Risiko kerusakan juga dapat terjadi ketika anomali iklim berlangsung saat padi memasuki fase generatif atau masa pembentukan hasil. Pada fase ini, cekaman lingkungan dapat mengganggu proses pembungaan dan pengisian bulir.

"Jika El nino terjadi saat tanaman padi sudah berbunga dapat berdampak terhadap jumlah gabah padi banyak gabah hampa dan terjadi daun klorosis sehingga jumlah panen padi mungkin di bawah 2 ton gkp per hektar dari biasanya 5 ton gkp per hektar," ujar Umar.

Sementara itu, hujan lebat yang disertai angin kencang juga dapat menjelaskan kerontokan bunga dan calon buah kopi yang dikeluhkan petani seperti Sansen.

"Hujan lebat pada dataran tinggi biasanya diikuti angin yang kencang dapat menyebabkan terjadinya kerontokan bunga betina atau calon putik," jelas Umar.

Menurut Umar, kerusakan pada tanaman padi dapat semakin besar apabila hujan lebat dan angin kencang terjadi berulang kali, terutama ketika tanaman berada dalam fase pembungaan, pengisian gabah, hingga matang penuh.

Dalam kondisi tersebut, bunga dapat gugur dan gabah terlepas dari malainya. Risiko kerusakan juga meningkat ketika tanaman kekurangan unsur hara kalium.

Load More