Tasmalinda
Senin, 19 Oktober 2026 | 12:05 WIB
Warisan budaya bukan sekadar jejak masa lalu, melainkan identitas yang perlu dirawat dan diwariskan lintas generasi
Baca 10 detik
  • Taufik Wijaya menyatakan warisan budaya takbenda Sumatera Selatan dapat menjadi instrumen diplomasi internasional dan memperkuat citra bangsa.
  • Potensi biokultural dan pengetahuan tradisional Sumatera Selatan di Palembang belum sepenuhnya terdokumentasi secara rinci oleh berbagai pihak terkait.
  • Kesenian tradisional seperti Wayang Palembang menghadapi tantangan regenerasi sehingga membutuhkan penyesuaian zaman serta dukungan berkelanjutan.

SuaraSumsel.id - Warisan budaya takbenda Sumatera Selatan memiliki potensi lebih luas daripada sekadar menjaga identitas masyarakat. Seni pertunjukan, bahasa daerah, adat istiadat, hingga pengetahuan tradisional dapat menjadi modal diplomasi budaya, pendidikan, dan pengembangan industri kreatif apabila dikelola secara berkelanjutan.

Jurnalis sekaligus pekerja budaya, Taufik Wijaya, mengatakan kebudayaan perlu dipandang sebagai instrumen diplomasi atau soft power yang dapat memperkuat citra bangsa di tingkat internasional. Menurutnya, kebudayaan tidak seharusnya berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi perlu dimanfaatkan untuk membangun hubungan antarbangsa.

“Tujuan diplomasi budaya itu secara umum ada tiga, yaitu membangun citra positif sebuah bangsa atau sebuah negara, menciptakan perdamaian, dan mendukung kepentingan nasional,” ujar Taufik dalam lokakarya Perlindungan dan Pemajuan Warisan Budaya Sumatera Selatan di Atrium PTC Mall, Palembang, Minggu (18/10/2026).

Pandangan tersebut menempatkan warisan budaya takbenda atau WBTb sebagai aset yang memiliki nilai strategis. Selain merepresentasikan identitas masyarakat, kebudayaan dapat menjadi sarana pertukaran pengetahuan, memperkuat hubungan internasional, dan membuka ruang bagi generasi muda untuk terlibat dalam diplomasi budaya.

Namun, peluang tersebut membutuhkan upaya pelestarian yang lebih konkret. Pendataan, dokumentasi, regenerasi pelaku budaya, serta keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting agar warisan budaya tidak hanya dikenal, tetapi juga tetap dipraktikkan dan diwariskan.

Dari identitas lokal menuju diplomasi internasional

Dalam pemaparannya, Taufik mencontohkan seni pertunjukan wayang sebagai salah satu bentuk kebudayaan Indonesia yang memiliki daya tarik lintas negara. Wayang tidak hanya menyajikan pertunjukan, tetapi juga membawa nilai, pandangan hidup, dan gambaran keberagaman masyarakat.

“Kenapa wayang menarik? Karena wayang itu bukan hanya seni pertunjukan, tapi wayang juga menjadi tuntunan hidup. Dia punya nilai-nilai, pijakan nilai, dan juga wayang juga mencerminkan multikultural kita,” katanya.

Bagi Sumatera Selatan, pendekatan tersebut membuka peluang untuk memperkenalkan kekayaan budaya daerah melalui pertukaran seni, forum kebudayaan, kegiatan pendidikan, dan pemanfaatan platform digital.

Baca Juga: Pertama Kali di Indonesia, Orkestra Batanghari Sembilan Tampil di Palembang

Akan tetapi, potensi diplomasi budaya tidak otomatis terwujud hanya karena suatu tradisi memiliki nilai sejarah. Diperlukan upaya untuk mengenali kekhasannya, mendokumentasikan pengetahuan yang terkandung di dalamnya, serta mengemasnya agar dapat dipahami masyarakat yang memiliki latar belakang budaya berbeda.

Di sinilah kebijakan kebudayaan memiliki peran penting. Pelestarian perlu mencakup keberlanjutan praktik budaya dan keberadaan komunitas pendukungnya, bukan semata-mata pencatatan atau pengakuan formal.

Kekayaan biokultural Sumsel belum sepenuhnya terdokumentasi

Taufik juga menyoroti keberagaman biokultural Sumatera Selatan yang terbentuk melalui hubungan panjang masyarakat dengan lingkungan hutan dan sungai.

Interaksi tersebut melahirkan beragam pengetahuan tradisional, mulai dari pengobatan, teknologi lokal, hingga pangan. Pengetahuan semacam ini bukan hanya bagian dari identitas masyarakat, tetapi juga menyimpan informasi mengenai cara komunitas beradaptasi dengan lingkungan.

Menurut Taufik, potensi tersebut belum seluruhnya tercatat sebagai warisan budaya takbenda resmi. Ia menilai persoalan anggaran dan berbagai hambatan operasional tidak seharusnya membuat upaya pendataan serta pelestarian berhenti.

Load More