Tasmalinda
Jum'at, 02 Oktober 2026 | 14:46 WIB
Palembang diselimuti asap Karhutla, kualitas udara masuk zona berbahaya lagi
Baca 10 detik
  • Kota Palembang diselimuti kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan pada Jumat, 2 Oktober 2026.
  • Stasiun PM2.5 Musi 2 mencatat lonjakan polusi udara ekstrem hingga mencapai level berbahaya di pagi hari.
  • Dampak kabut asap tersebut mengganggu belasan jadwal penerbangan serta memicu ribuan kasus infeksi saluran pernapasan.

SuaraSumsel.id - Kabut asap kembali menyelimuti Kota Palembang, Sumatera Selatan, Jumat (2/10/2026) pagi. Di balik langit yang tampak kelabu, konsentrasi partikulat halus atau PM2.5 sempat melonjak hingga 652,7 mikrogram per meter kubik (µg/m³).

Angka tersebut tercatat di Stasiun PM2.5 Musi 2 Palembang pada pukul 05.00 WIB. Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan Wandayantolis mengatakan kualitas udara Palembang kembali memburuk dan berada pada level berbahaya.

“Pagi ini kualitas udara Palembang kembali memburuk. Kategorinya tercatat pada level berbahaya. Angka tertinggi tercatat di Stasiun PM2.5 Musi 2 Palembang sebesar 652,7 µg/m³,” kata Wandayantolis, Jumat (2/10/2026).

Angka PM2.5 melonjak sejak dini hari

Buruknya kualitas udara tidak muncul secara tiba-tiba saat matahari terbit. Data pemantauan menunjukkan konsentrasi PM2.5 di Musi 2 mulai meningkat tajam sejak dini hari. Pada pukul 03.00 WIB, angkanya tercatat 590,5 µg/m³.

Satu jam kemudian, konsentrasi PM2.5 naik menjadi 630,1 µg/m³. Angka tertinggi tercatat pukul 05.00 WIB, mencapai 652,7 µg/m³.

Setelah itu konsentrasi mulai turun. Pada pukul 06.00 WIB tercatat 551,5 µg/m³ dan kembali turun menjadi 465,5 µg/m³ pada pukul 07.00 WIB.

Namun, penurunan tersebut belum berarti udara kembali aman. Wandayantolis mengingatkan konsentrasi partikulat masih sangat tinggi sehingga masyarakat tetap perlu memperhatikan perkembangan kualitas udara dan membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kondisi memburuk.

Mengapa angka kualitas udara bisa berbeda?

Baca Juga: Kabut Asap Karhutla Kembali Ganggu Penerbangan Palembang, 5 Pesawat Terdampak Hari Ini

Di tengah kondisi udara yang buruk, sejumlah angka kualitas udara beredar dari berbagai sumber pemantauan. Perbedaan ini penting karena ISPU dan konsentrasi PM2.5 merupakan indikator yang berbeda. Dalam sistem ISPU Indonesia, kategori berbahaya dimulai pada angka 301 ke atas.

Dengan demikian, yang perlu diperhatikan bukan semata-mata mengejar angka tertinggi, tetapi fakta bahwa sejumlah pemantauan menunjukkan kualitas udara Palembang berada pada tingkat yang sangat buruk.

Kondisi ini terjadi ketika karhutla masih berlangsung di sejumlah wilayah Sumatera Selatan. BMKG dan sejumlah pihak menjelaskan asap dari wilayah OKI dapat bergerak menuju Palembang mengikuti kondisi angin. Pada 1 Oktober, asap dari kawasan gambut OKI disebut menjadi salah satu sumber yang memengaruhi kualitas udara Palembang.

Di wilayah OKI sendiri, penanganan kebakaran masih berlangsung di sejumlah lokasi. Kondisi lahan gambut yang kering membuat proses pemadaman membutuhkan waktu lebih panjang dan asap dapat bertahan selama kebakaran belum sepenuhnya terkendali.

Situasi ini membuat persoalan karhutla tidak berhenti di lokasi api.

Asap dapat bergerak mengikuti arah angin dan kemudian memengaruhi wilayah yang berjarak cukup jauh dari titik kebakaran.

Load More