- Kota Palembang diselimuti kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan pada Jumat, 2 Oktober 2026.
- Stasiun PM2.5 Musi 2 mencatat lonjakan polusi udara ekstrem hingga mencapai level berbahaya di pagi hari.
- Dampak kabut asap tersebut mengganggu belasan jadwal penerbangan serta memicu ribuan kasus infeksi saluran pernapasan.
Palembang menjadi salah satu kota yang merasakan dampaknya.
Dampaknya sudah masuk ke berbagai aktivitas
Kabut asap bukan hanya mengubah warna langit Palembang. Pada 1 Oktober, asap tebal telah mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II. Sebanyak 12 penerbangan tercatat terdampak, termasuk pesawat yang harus kembali ke bandara asal dan penerbangan yang dialihkan.
Gangguan juga berlanjut pada 2 Oktober. Laporan operasional Bandara SMB II mencatat lima penerbangan terdampak akibat kondisi visibility below minima.
Artinya, persoalan kualitas udara mulai bersinggungan dengan mobilitas masyarakat.
Di sektor kesehatan, dampaknya juga sudah terlihat. Dinas Kesehatan Kota Palembang mencatat 12.589 kasus ISPA selama 1–21 September 2026 yang ditangani di rumah sakit dan puskesmas. Kasus tersebut ditemukan pada berbagai kelompok usia.
Angka tersebut menjadi bagian dari gambaran yang lebih luas mengenai dampak kabut asap terhadap masyarakat Palembang. Yang membuat situasi ini sulit dirasakan secara utuh adalah polusi udara tidak selalu terlihat dengan mata.
Kabut asap yang tebal memang mudah dikenali. Tetapi partikel berukuran sangat kecil seperti PM2.5 dapat tetap berada di udara ketika pandangan mulai terlihat membaik.
Karena itu, turunnya angka PM2.5 dari 652,7 µg/m³ pada pukul 05.00 menjadi 465,5 µg/m³ pada pukul 07.00 bukan berarti persoalan telah selesai.
Baca Juga: Kabut Asap Karhutla Kembali Ganggu Penerbangan Palembang, 5 Pesawat Terdampak Hari Ini
Angkanya memang turun, tetapi masih berada pada tingkat yang sangat tinggi.
BMKG mengimbau masyarakat memperhatikan perkembangan kualitas udara, mengurangi aktivitas luar ruangan ketika kondisi memburuk dan menggunakan masker saat harus beraktivitas di luar.
Di Palembang, pagi 2 Oktober memperlihatkan satu hal: asap karhutla belum benar-benar pergi. Ia hanya berubah mengikuti waktu, angin dan kondisi atmosfer.
Berita Terkait
-
Kabut Asap Karhutla Kembali Ganggu Penerbangan Palembang, 5 Pesawat Terdampak Hari Ini
-
7 Kali Reshuffle Prabowo, Pengamat UIN Raden Fatah Palembang Soroti Efeknya ke Birokrasi
-
Kabut Asap Palembang, Pesawat Jakarta Putar Balik dan Yogyakarta Dialihkan ke Pekanbaru
-
Bukan Sekadar Touring, Mereka Menyusuri Desa Sumsel untuk Menjaga Energi Bersih Tetap Menyala
-
Ruang Bersama Indonesia Pertama di Palembang, Kilang Plaju Dukung Pemberdayaan Masyarakat
Terpopuler
- 5482 Korban Keracunan MBG, Viral Ucapan Wapres Gibran: Bawa Bekal dari Rumah, MBG Jangan Dimakan
- WNI Tentara Bayaran Rusia, Rendi Apriyanto Sempat Kirim Duit ke Ortu Tapi Rekening Diblokir
- Angka Hoki Shio untuk Menarik Rezeki dan Keberuntungan Finansial
- Timnas Indonesia vs Everbody: Panen Cibiran dari Negara Se-Asia Tenggara
- Indonesia Impor Nikel dari Filipina Gara-gara RKAB
Pilihan
-
Hadir di Istana, Pratikno Buka Suara Soal Isu Jadi Ketua Wantimpres Era Prabowo
-
Disorot Gegara Gaya Hidup Mewah, Timothy Ivan Mundur dari Deputi II Bakom RI: Ingin Introspeksi Diri
-
KBRI di Singapura Tak Punya Dokumen Soal Jenjang Pendidikan Gibran di Orchid Park dan MDIS
-
Pemain Timnas Indonesia Dapat Ancaman Pembunuhan
-
Babak I Indonesia vs Bangladesh: Garuda Pesta Gol, Mitchell Baker Quattrick
Terkini
-
Palembang Diselimuti Asap Karhutla, Kualitas Udara Masuk Zona Berbahaya Lagi
-
Kabut Asap Karhutla Kembali Ganggu Penerbangan Palembang, 5 Pesawat Terdampak Hari Ini
-
Habitat Terbakar, Anak Kucing Kuwuk 2 Bulan Ditemukan Sendirian di Ogan Ilir
-
7 Kali Reshuffle Prabowo, Pengamat UIN Raden Fatah Palembang Soroti Efeknya ke Birokrasi
-
Digantikan Jenderal Dudung, Ke Mana Langkah Politik Djamari Chaniago Setelah dari Kabinet?