Tasmalinda
Senin, 28 September 2026 | 21:21 WIB
buruh angkut di kawasan Sungai Musi [Mohamad Shabir Fikri/suara.com]
Baca 10 detik
  • Rian, pengemudi ketek di Dermaga Pasar 16 Ilir Palembang, kesulitan mendapatkan penumpang pada Senin, 28 September 2026.
  • Jai, pengemudi jukung, menghadapi risiko tinggi saat mengangkut dua belas ton padi akibat kabut asap tebal.
  • KSOP menerbitkan peringatan kewaspadaan navigasi pada 9 September 2026 menyusul gangguan jarak pandang di Sungai Musi.

Jai mengandalkan radar elektronik sebagai alat bantu navigasi. Namun, ketika pandangan benar-benar tidak memungkinkan, ia memilih berhenti. “Kalau sudah tidak terlihat lagi di depan kapal, aku lebih memilih berhenti lalu menelepon bos dan menjatuhkan jangkar. Daripada celaka,” ujarnya.

Ada waktu dan penghasilan yang hilang ketika perjalanan dihentikan. Tetapi baginya, risiko kecelakaan tidak sebanding dengan ongkos yang harus dibayar.

Pada 9 September 2026, KSOP menerbitkan Notice to Mariners terkait kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan yang berpotensi mengganggu jarak pandang di Sungai Musi.

Nakhoda diminta meningkatkan kewaspadaan, mengaktifkan radio komunikasi dan memaksimalkan alat bantu navigasi elektronik, termasuk radar ketika jarak pandang terbatas.

Di Dermaga Pasar 16 Ilir, mesin ketek masih menyala. Di jalur lain, jukung masih membawa hasil panen. Rian dan Jai tahu risikonya. Mereka juga tahu bahwa tidak setiap hari mereka bisa memilih untuk tidak bekerja.

Sungai Musi tetap menjadi jalan bagi manusia dan barang. Hanya saja, ketika kabut datang, setiap perjalanan membawa pertanyaan yang lebih berat: Berapa besar risiko yang harus diambil untuk tetap membawa pulang penghasilan?

Load More