- Kabut asap tebal di Palembang pada Kamis, 17 September 2026, mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara SMB II.
- Empat pesawat tujuan Palembang dari berbagai rute mengalami penundaan kedatangan karena jarak pandang di bawah batas minimum.
- Kondisi jarak pandang yang rendah membuat empat pesawat tersebut harus tertahan di udara sebelum berhasil mendarat.
Empat Pesawat Sempat Menunggu
Jika dilihat dari data waktu penerbangan, keterlambatan kedatangan terjadi dengan rentang sekitar 23 hingga 138 menit dari jadwal awal.
TR 254 menjadi penerbangan dengan selisih waktu kedatangan paling panjang dalam daftar tersebut. Dijadwalkan tiba pukul 06.20 WIB, pesawat baru tiba pukul 08.38 WIB. Sementara tiga penerbangan lainnya memiliki selisih yang lebih pendek, yakni IP 310 sekitar 31 menit, IU 933 sekitar 30 menit, dan JT 077 sekitar 28 menit.
Data tersebut memberikan gambaran bahwa dampak kabut asap tidak berhenti pada kondisi jalanan atau aktivitas warga di darat. Ketika jarak pandang di sekitar bandara turun, perjalanan yang seharusnya berakhir dengan pendaratan juga dapat tertunda.
Kondisi Udara Masih Perlu Dipantau
Kondisi kualitas udara tidak bersifat tetap. Konsentrasi polutan dapat berubah mengikuti kondisi cuaca, pergerakan angin dan penyebaran asap. Karena itu, angka AQI maupun PM2.5 yang tercatat pada pagi hari tidak serta-merta menggambarkan kondisi udara Palembang sepanjang hari.
Begitu pula dengan jarak pandang di bandara yang dapat berubah seiring perkembangan kondisi atmosfer. Bagi masyarakat, kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa kabut asap bukan hanya persoalan apa yang terlihat di langit.
Dampaknya dapat merembet ke berbagai aktivitas, termasuk perjalanan udara. Pada Kamis pagi, empat pesawat tujuan Palembang sudah merasakan dampaknya: mereka harus menunggu sebelum akhirnya dapat mendarat di Bandara SMB II.
Baca Juga: Udara Palembang Hari Ini Berbahaya, PM2.5 Sempat Tembus 681,6 g/m
Tag
Berita Terkait
-
Udara Palembang Hari Ini Berbahaya, PM2.5 Sempat Tembus 681,6 g/m
-
Karhutla Sumsel Capai 6.552 Hektar, Kenapa Masih Ada 84 Hektar Belum Padam?
-
Karhutla Tak Pilih Korban, 4 Tokoh Lintas Agama Bicara Soal Menjaga Alam
-
ISPU Palembang Belum Stabil, Kapan Anak TK-SMP Boleh Kembali ke Sekolah?
-
Saat Karhutla Mengancam Sumsel, Generasi Muda Lintas Agama Diajak Turun Tangan
Terpopuler
- Banyak UMKM Mundur dari Rans Carnival Jogja, Warganet Pasang Badan Bantu Larisin
- Tak Ingin Sakiti Hati Warga Jogja, OM Wawes Pilih Batal Manggung di RANS Carnival
- 5 Sunscreen untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- Tolak Andrea Bocelli, GPCI Bakal Gelar Konser Besar Galang Dana Palestina
- Konser Andrea Bocelli di Borobudur Tetap Digelar, KIBBM Siapkan Tablig Akbar Penolakan
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
2 Juta Hektare Gambut Sumsel Punya Potensi Ekonomi, Bambu Betung dan Jelutung Diuji
-
Nelayan Air Nyatoh Kehilangan Penghasilan, Tangkapan Ikan Teri Turun akibat Laut Keruh
-
Hujan Sudah Turun, Karhutla Sumsel Belum Tuntas, Seberapa Efektif Dry Ice dan OMC?
-
Kambang Iwak Diterjang Pohon Tumbang, Palembang Hadapi Ancaman Pohon Tua saat Musim Hujan
-
Membaca Jongot: Hutan Warisan Suku Musi yang Menawarkan Harapan di Tengah Krisis Iklim