Tasmalinda
Senin, 07 September 2026 | 23:42 WIB
Erupsi 25 Jam anak Krakatau berakhir, tapi Mengapa Sumsel masih terdampak?
Baca 10 detik
  • Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda mengalami erupsi menerus dari 4 hingga 6 September 2026.
  • Badan Geologi menetapkan status Gunung Anak Krakatau tetap berada pada Level III atau Siaga.
  • Penyebaran abu vulkanik menyebabkan pembatalan sejumlah jadwal penerbangan dari dan menuju Bandara SMB II Palembang.

SuaraSumsel.id - Episode erupsi menerus Gunung Anak Krakatau yang berlangsung selama sekitar 25 jam memang telah berakhir. Namun, dampak aktivitas gunung api di Selat Sunda itu belum sepenuhnya reda, termasuk bagi wilayah Sumatera Selatan.

Abu vulkanik dari aktivitas Anak Krakatau sebelumnya memasuki ruang udara dan berdampak pada penerbangan, termasuk sejumlah jadwal penerbangan dari dan menuju Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang yang harus dibatalkan.

Di tengah dampak yang masih dirasakan masyarakat, perkembangan terbaru Gunung Anak Krakatau justru menunjukkan situasi yang menarik. Erupsi menerus telah berhenti, tetapi status gunung api tersebut masih berada pada Level III atau Siaga.

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencatat episode erupsi menerus Gunung Anak Krakatau berlangsung sejak Jumat, 4 September 2026, pukul 23.07 WIB hingga Minggu, 6 September 2026, pukul 00.04 WIB.

Setelah erupsi panjang tersebut berakhir, aktivitas Anak Krakatau kembali menunjukkan pola letusan yang lebih ringan dan terjadi secara berkala. Namun, kondisi itu belum cukup untuk menurunkan tingkat kewaspadaan.

Kepala Badan Geologi Lana Saria mengatakan setelah episode erupsi menerus berakhir, masih terjadi beberapa kali erupsi strombolian yang merupakan karakteristik aktivitas Gunung Anak Krakatau.

“Setelah episode erupsi menerus berakhir, teramati tiga kali erupsi strombolian dengan warna kolom erupsi hitam,” ujar Lana dalam keterangan resmi Badan Geologi, Senin, 7 September 2026.

Kembalinya pola erupsi tersebut untuk sementara diinterpretasikan sebagai akhir dari episode erupsi menerus yang berlangsung cukup panjang. Namun, aktivitas di dalam tubuh gunung api belum benar-benar stabil.

Data pemantauan pada periode 6 hingga 7 September masih merekam aktivitas kegempaan yang cukup tinggi. Kondisi inilah yang membuat status Anak Krakatau tetap berada pada Level III atau Siaga.

Baca Juga: Sukuk Ritel SR025 Dibuka, Bank Sumsel Babel Tawarkan Investasi Syariah Imbal Hasil 6,90 Persen

Badan Geologi mencatat adanya gempa erupsi, gempa hembusan, gempa frekuensi rendah, gempa hybrid, tremor menerus hingga gempa vulkanik dangkal dalam periode pemantauan terbaru.

Artinya, meski erupsi menerus telah berhenti, kemungkinan aktivitas baru masih tetap menjadi perhatian.

“Potensi bahaya utama berupa lontaran batu pijar dan hujan abu lebat, serta potensi aliran lava jika erupsi menerus kembali terjadi,” kata Lana.

Situasi tersebut menjelaskan mengapa perkembangan Anak Krakatau masih terus dipantau, termasuk dampaknya terhadap wilayah yang berada cukup jauh dari pusat erupsi.

Bagi Sumatera Selatan, dampak yang paling nyata dalam beberapa hari terakhir bukan berada di sekitar gunung api, melainkan pada jalur penerbangan.

Sebaran abu vulkanik di ruang udara membuat penerbangan dari dan menuju sejumlah bandara mengalami gangguan. Penutupan Bandara Soekarno-Hatta dan Halim Perdanakusuma di Jakarta turut memberikan efek berantai terhadap penerbangan dari Palembang karena sebagian besar rute memiliki konektivitas langsung dengan dua bandara tersebut.

Load More