- Ribuan ikan milik petani keramba jaring apung di Danau Ranau mati mendadak sejak Sabtu, 5 September 2026.
- Penyebab pasti kematian massal ikan tersebut masih belum diketahui dan memerlukan pemeriksaan lebih lanjut dari instansi terkait.
- Peristiwa ini menimbulkan kerugian bagi para petani serta kekhawatiran terhadap kelangsungan budidaya di perairan Danau Ranau.
SuaraSumsel.id - SUMSELUPDATE.COM, OKU SELATAN – Ribuan ikan budidaya milik petani keramba jaring apung di Danau Ranau, Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan, Sumatera Selatan, mati mendadak.
Kematian ikan dalam jumlah besar itu membuat warga dan petani keramba di sekitar Danau Ranau resah. Bangkai ikan mulai terlihat mengapung di permukaan danau pada Minggu, 6 September 2026.
Hingga kini, penyebab pasti kematian massal ikan tersebut belum diketahui dan masih membutuhkan pemeriksaan dari instansi terkait.
Salah seorang petani keramba di Danau Ranau, Zakmi, mengatakan peristiwa itu terjadi dalam waktu singkat. Ikan-ikan yang dibudidayakan di keramba mulai mati sejak Sabtu pagi, sebelum bangkainya kemudian muncul ke permukaan danau.
“Fenomena seperti ini sering terjadi, bahkan bisa setahun sekali. Kemarin terjadi dari sekitar pukul 06.00 WIB sampai 09.30 WIB. Ikan-ikan mati pada hari itu juga, kemudian baru muncul ke permukaan sehari setelahnya,” ujar Zakmi.
Jumlah ikan yang mati belum seluruhnya dapat dipastikan. Namun, kematian terjadi di sejumlah keramba dan menimbulkan kerugian bagi petani yang menggantungkan mata pencaharian dari budidaya ikan di Danau Ranau.
Petani pun berupaya segera membersihkan ikan-ikan yang mati dari area keramba. Langkah itu dilakukan agar bangkai ikan tidak terus mengapung dan memperburuk kondisi perairan di sekitar lokasi budidaya.
Kejadian terbaru ini bukan kali pertama kematian ikan dalam jumlah besar terjadi di Danau Ranau. Dalam beberapa tahun terakhir, peristiwa serupa pernah dilaporkan terjadi di kawasan danau yang berada di perbatasan Sumatera Selatan dan Lampung tersebut.
Pada kasus-kasus sebelumnya, sejumlah penelitian dan pemeriksaan pernah dilakukan untuk mengetahui perubahan kondisi perairan Danau Ranau. Namun, hasil pemeriksaan pada kejadian-kejadian terdahulu tidak bisa serta-merta digunakan untuk menyimpulkan penyebab kematian ikan yang terjadi saat ini.
Baca Juga: Bank Sumsel Babel Muaradua Apresiasi Kajari OKU Selatan atas Penyelesaian Kredit Bermasalah
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral sebelumnya pernah melakukan pemeriksaan terhadap peristiwa kematian ikan di Danau Ranau pada 2011. Pemeriksaan tersebut berkaitan dengan kejadian di lokasi dan kondisi tertentu, sehingga penyebab kematian ikan pada peristiwa terbaru tetap memerlukan penelitian dan pemeriksaan tersendiri.
Bagi petani keramba, kematian ikan kali ini menjadi persoalan serius karena terjadi ketika ikan masih berada dalam proses budidaya. Selain kehilangan hasil panen, mereka juga harus segera menangani bangkai ikan agar tidak menimbulkan persoalan baru di kawasan perairan.
Zakmi mengatakan kejadian seperti ini selalu menjadi kekhawatiran bagi warga yang menggantungkan hidup dari budidaya ikan di Danau Ranau.
“Kalau sudah seperti ini, petani tentu rugi. Ikan yang dipelihara bisa mati dalam waktu singkat,” katanya.
Danau Ranau sendiri selama ini menjadi salah satu kawasan perairan penting bagi masyarakat di sekitar OKU Selatan. Selain menjadi tujuan wisata, danau tersebut juga dimanfaatkan warga untuk budidaya ikan melalui keramba jaring apung.
Kini, setelah ribuan ikan kembali ditemukan mati dan mengapung, perhatian tertuju pada kondisi perairan Danau Ranau. Pemeriksaan dari instansi terkait diperlukan untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan apakah kondisi tersebut masih berpotensi mengancam ikan budidaya milik warga.
Berita Terkait
-
Bank Sumsel Babel Muaradua Apresiasi Kajari OKU Selatan atas Penyelesaian Kredit Bermasalah
-
Kepala KUA Pulau Beringin Tewas Ditikam, Cekcok Berawal dari Jemuran Kopi
-
Dirampok Rp3,5 Juta, Diikat lalu Dibakar Hidup-Hidup, Petani di OKU Selatan Tewas
-
Kabel Tower Telkomsel Dicuri di OKU Selatan, Kenapa Infrastruktur Telekomunikasi Mudah Dibobol?
-
Dikira Diamuk Massa karena Curi Kopi, Pria di OKU Selatan Ternyata Tewas Dikeroyok
Terpopuler
- Korupsi Rp18,7 Miliar, Wakil Bupati Indramayu Resmi Ditahan, Lucky Hakim Masih Bungkam
- Dingatkan Teddy Segera Akhiri Pidato, Prabowo: Letkol Ngatur Presiden
- Cetak 6 Gol dalam 6 Laga Bersama Persija, Shin Tae-yong Angkat Topi untuk Alexander Jeremejeff
- Keruk Batubara RI Tapi Sumbang Rp1,7 T ke Singapura, Eks Kepala BKPM Sentil Bos Bayan Resources
- Sepatu Lari Buatan Lokal Unjuk Gigi di Berlin dan Chicago Marathon
Pilihan
-
Prabowo Tak Takut Ancaman MSCI, OJK: Kita Tetap Usaha Jadi Emerging Market
-
Pasar Bergejolak, Kapan Waktunya Beli, Tahan, atau Jual Saham?
-
Aktivis Greenpeace: Kalau Rakyat Menanggung Semua Krisis Sendiri, Apa Kerja Pemerintah?
-
Polisi Bunuh Polisi karena Bully, Bharatu Valdo 4 Kali Didor dan Digorok Junior
-
Kamaruddin Simanjuntak Pengacara Brigadir J Meninggal Dunia di RS Pelni
Terkini
-
BRI Gandeng Prodia, Tawarkan Diskon MCU Hingga Free Medical Check-Up
-
Kabut Asap Kembali Selimuti Palembang, 4 Wilayah Catat Kualitas Udara Berbahaya
-
Karhutla Sumsel: 20 Korporasi Masuk Penyidikan, Identitas 4 Perusahaan Baru Belum Dibuka
-
KMP Batumandi Terbakar di Merak, 4 ASN Ogan Ilir Hendak Konsultasi ke BKN dan Kemendagri
-
Bobby Rizaldi Disebut dalam Dakwaan Suap Rp500 Juta, Temuan BPK Muara Enim Turun Jadi Rp2,32 Miliar