- Dokter Rista Lestari dari IDI Pontianak mengingatkan orang tua melindungi anak dari kabut asap.
- Anak menunjukkan gangguan pernapasan melalui kelelahan, rewel, perubahan perilaku, serta pola makan yang tidak biasa.
- Orang tua wajib membatasi aktivitas luar ruangan anak saat kualitas udara memburuk tanpa menunggu munculnya sakit.
SuaraSumsel.id - Dear Mom, ketika kabut asap mulai menyelimuti kota, perhatian orang tua biasanya tertuju pada satu hal: apakah anak mulai batuk?
Padahal, gangguan akibat udara tercemar tidak selalu dimulai dengan batuk. Anak bisa terlihat lebih cepat lelah, aktivitasnya menurun, pola makan dan minumnya berubah, atau menjadi lebih rewel. Pada bayi dan balita, tanda-tanda gangguan pernapasan bahkan bisa sulit dikenali karena mereka belum mampu menjelaskan apa yang dirasakan.
Pengurus Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Pontianak, dr. Rista Lestari, Sp.A., M.Sc, mengingatkan orang tua agar tidak menunggu munculnya keluhan untuk mulai melindungi anak dari paparan kabut asap. Menurutnya, paru-paru anak masih berkembang sehingga paparan polutan menjadi perhatian khusus.
“Kabut asap adalah persoalan kesehatan anak,” kata Rista.
Dear Mom, anak belum tentu bilang sesak
Ada alasan mengapa orang tua perlu lebih jeli ketika kualitas udara memburuk. Anak yang lebih besar mungkin hanya mengatakan dirinya lelah. Balita bisa menjadi lebih rewel dari biasanya. Sementara bayi tidak dapat mengatakan bahwa napasnya terasa tidak nyaman.
Karena itu, perubahan kecil pada perilaku anak patut diperhatikan. Apakah anak yang biasanya aktif tiba-tiba lebih banyak diam? lalu, apakah ia cepat lelah ketika bermain?, apakah makan dan minumnya berubah?
dan apakah napasnya terlihat berbeda dari biasanya?
Menurut Rista, perubahan cara bernapas, penurunan aktivitas, gangguan makan dan minum hingga perubahan perilaku merupakan hal yang perlu diperhatikan orang tua ketika kabut asap terjadi.
Baca Juga: Kabut Asap Palembang Makin Pekat, Kapan Sekolah Mulai Belajar dari Rumah?
Paru anak masih dalam masa berkembang
Persoalannya bukan sekadar anak menghirup udara yang terasa tidak nyaman. Menurut Rista, paru-paru anak yang masih berkembang membuat paparan polutan menjadi perhatian tersendiri. Setiap kali anak menghirup udara tercemar, terdapat paparan polutan yang masuk ke tubuhnya.
Karena itu, kabut asap sebaiknya tidak dipandang hanya sebagai persoalan lingkungan atau dampak karhutla.
Bagi keluarga, kabut asap juga merupakan persoalan kesehatan sehari-hari.
Anak tetap harus berangkat sekolah, bermain, berolahraga dan beraktivitas. Di sinilah orang tua perlu mengambil keputusan berdasarkan kondisi udara, bukan semata-mata rutinitas.
Kalau udara buruk, bermain di luar masih perlu? Jawabannya tidak harus menunggu anak sakit.
Tag
Berita Terkait
-
Kabut Asap Palembang Makin Pekat, Kapan Sekolah Mulai Belajar dari Rumah?
-
Ekonom Ungkap Efek Domino Karhutla: Dari Biaya Berobat hingga Pendapatan Warga Tertekan
-
Sumsel Dikepung 1.742 Hotspot, Seberapa Aman Warga dari Kabut Asap?
-
Kabut Asap Karhutla Ganggu Bandara SMB II Palembang, 6 Penerbangan Harus Tertunda
-
Karhutla Sumsel Belum Terkendali, 8 Lokasi Masih Terbakar, Air Makin Menipis
Terpopuler
- Total Dana Korban Penipuan Tembus Rp811,1 Miliar, Sebanyak 702.833 Rekening Diblokir
- Media Inggris: FIFA ASEAN Cup Akal-akalan Infantino Pertahankan Posisi, Prabowo Kena Prank
- Arti Mimpi Ketemu Orang yang Sudah Meninggal tapi Tidak Bicara Menurut Primbon Jawa
- Aliran Minyak di Selat Hormuz Sudah Normal, Mengapa Harga BBM Masih Mahal?
- Selamat Tinggal Kevin Diks, Cabut Lebih Cepat dari Skuad Timnas Indonesia Usai Juara
Pilihan
-
Polri Gerebek Sarang Narkoba Kampung Boncos dan Ambon! Operasi Masih Berlangsung
-
Prabowo Mau Ganti Panglima TNI dan Jaksa Agung Pekan Ini, Tapi...
-
Polisi Dalami Dugaan Pemalsuan Suket Pendidikan Gibran
-
PDI Perjuangan: Gibran Lebih Baik Mundur dari Wapres
-
Satgas PKH Pamer Tumpukan Duit Rp13 Triliun Hasil Penyelamataan Keuangan Negara di Hadapan Prabowo
Terkini
-
Kabut Asap Palembang Ganggu Penerbangan, 15 Pesawat Terdampak saat Jarak Pandang 400 Meter
-
Wamen LH Minta Perusahaan Bangun Infrastruktur Air untuk Cegah Karhutla Sumsel
-
Wisuda ke-8 USS, 109 Lulusan Ditantang Bawa Dampak bagi Masyarakat dan Dunia Kerja
-
12 Perusahaan di Sumsel Disegel KLH Terkait Karhutla, Sampel Diuji untuk Tentukan Sanksi
-
Pemprov Sumsel Janji Pulihkan Lahan Bekas Karhutla dengan Bibit, Bagaimana Mekanismenya?