- Satgas Karhutla Sumsel mencatat luas kebakaran hutan dan lahan mencapai 1.926,22 hektare sepanjang Januari-Juli 2026.
- Komandan Satgas Brigjen TNI Khabib Mahfud menyatakan kesiapan melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca pada malam hari.
- Kebakaran pada ekosistem gambut berpotensi merusak penyimpanan karbon jangka panjang meskipun api telah dipadamkan.
Menurut dia, jika kawasan gambut telah dikeringkan, tata airnya berubah dan kemudian terbakar berulang kali, maka persoalannya jauh lebih kompleks daripada sekadar kehilangan pepohonan.
Ia mengingatkan bahwa lingkungan memiliki kemampuan untuk menjaga dirinya sendiri apabila fungsi alaminya tetap dipertahankan. Lahan basah yang masih utuh dapat menyimpan air dan karbon, sementara tutupan vegetasi membantu menjaga kehidupan di dalam ekosistem.
"Ketika fungsi tersebut terus terganggu oleh perubahan bentang alam, kerusakan yang terjadi dapat berlangsung jauh lebih lama dibandingkan satu musim kebakaran," ucapnya.
Khairul juga menyoroti cara pandang pembangunan yang terkadang baru berbicara tentang pemulihan setelah kerusakan terjadi. Menurutnya, perlindungan lingkungan seharusnya tidak hanya diukur dari jumlah bibit yang ditanam atau luas lahan yang dihijaukan kembali, tetapi juga dari seberapa jauh ekosistem yang masih tersisa mampu dipertahankan agar tidak mengalami kerusakan lebih lanjut.
Dalam konteks karhutla, persoalan inilah yang menurut Khairul perlu menjadi perhatian. "Api memang dapat padam dalam hitungan jam atau hari, tetapi pemulihan ekosistem yang rusak bisa membutuhkan waktu jauh lebih panjang. Begitu pula karbon yang terlepas dan fungsi ekologis yang hilang tidak serta-merta kembali hanya karena api telah berhasil dipadamkan," imbuhnya.
Jadi, api yang terlihat hanya bagian paling kasatmata dari persoalan.
Ketika gambut mengalami pengeringan dan penurunan muka air, proses dekomposisi menjadi lebih aktif dan karbon lebih mudah dilepaskan sebagai CO. IPCC mencatat pengeringan tanah gambut meningkatkan emisi CO dan NO, sementara menjaga muka air tetap tinggi merupakan salah satu langkah penting untuk mengurangi emisi.
Artinya, memadamkan api bukan akhir dari pekerjaan. Jika tata air gambut tidak dipulihkan, lahan yang pernah terbakar dapat tetap menjadi lanskap yang rentan terhadap kebakaran berikutnya.
Baca Juga: 1.400 Pekerja Sumsel Kena PHK, Mayoritas Tanpa Perselisihan, Ada Apa?
Tag
Berita Terkait
-
1.400 Pekerja Sumsel Kena PHK, Mayoritas Tanpa Perselisihan, Ada Apa?
-
Ekonomi Sumsel Tumbuh 5,20 Persen, Uangnya Paling Banyak Berputar di Sektor Ini
-
Terungkap Peran 3 Pelaku Begal Polisi di Palembang, Ada yang Tusuk dan Ambil Kunci Motor
-
Kebakaran Empat Lawang, 20 Rumah Terdampak dan Kerugian Tembus Rp5,2 Miliar
-
Kemiskinan Sumsel Turun, Garis Kemiskinan Naik 3,15 Persen Jadi Rp628 Ribu Per Bulan
Terpopuler
- 3 Moisturizer Kolagen untuk Kulit Keriput Usia 45 ke Atas, Bikin Wajah Kencang Sesuai Review
- 5 Sepatu Skechers Max Cushioning yang Empuk untuk Jalan Kaki Jauh dan Olahraga
- 4 Parfum Aroma Teh di Alfamart yang Tahan Lama Sesuai Review, Harga Mulai Rp30 Ribuan
- Rekomendasi Produk Viva untuk Eksfoliasi Wajah, Mulai Rp12 Ribuan
- Apakah Pertalite Akan Naik Harga 26 September 2026? Ini Kata Bahlil
Pilihan
-
Tanpa Pengacara, WNI Didakwa Edarkan 25 Kg Heroin: Terancam Hukuman Mati di Malaysia
-
Dramatis! Ubed Persembahkan Medali Emas Asian Games 2026 untuk Indonesia
-
Massa Buruh Mulai Padati Thamrin, Andi Gani Pimpin Langsung Aksi Tuntut Keadilan RUU Ketenagakerjaan
-
Bawa Kentongan Hingga Kenakan Topi Caping, Massa Hari Tani Nasional Mulai Padati Depan Gedung DPR
-
Hukuman Lebih Ringan, Pengadilan Tinggi DKI Jakarta Vonis Nadiem Makarim 9 Tahun Penjara
Terkini
-
Pestapora 2026 Makin Meriah Bareng BRImo, Ada Cashback hingga Aktivitas Berhadiah
-
PHR dan Kejaksaan Agung Kawal Kerja Sama Produksi Sumur Minyak BUMD, Koperasi, dan UMKM
-
Dari Energi untuk Negeri, Kilang Plaju Hadirkan Harapan Dengan Donor Darah
-
Sumsel Raih 3 Penghargaan TPID dan TP2DD Awards 2026
-
Dua Pulau Baru Muncul di Dekat Anak Krakatau, Apakah Ini Pusat Erupsi Baru?