- OJK Sumsel menyelenggarakan edukasi reksa dana pada 23 April 2026 untuk meningkatkan literasi keuangan bagi para generasi muda.
- Kegiatan tersebut bertujuan memberikan pemahaman investasi jangka panjang di tengah kenaikan harga kebutuhan pokok dan laju inflasi.
- Data menunjukkan investor muda mendominasi pasar modal, namun partisipasi keseluruhan penduduk masih rendah sehingga perlu edukasi instrumen investasi.
SuaraSumsel.id - Pagi ini, Fitri membuka aplikasi mobile banking di ponselnya. Gaji bulanannya baru saja masuk beberapa hari lalu. Namun saldo yang tersisa tak sebanyak yang ia bayangkan. Tagihan listrik sudah terpotong.
Cicilan bulanan menunggu. Belum lagi kebutuhan dapur, ongkos transportasi, dan pengeluaran kecil yang sering datang tanpa aba-aba. “Sekarang uang rasanya cepat sekali habis,” ujar Fitri (28), pekerja swasta di Palembang.
Perempuan yang telah bekerja selama beberapa tahun itu mengaku penghasilannya tak banyak berubah, sementara harga kebutuhan sehari-hari terus merangkak naik. “Dulu uang Rp500 ribu masih bisa cukup untuk kebutuhan seminggu. Sekarang belum tentu. Apalagi kalau ada kebutuhan mendadak,” katanya.
Situasi seperti yang dialami Fitri tampaknya bukan cerita tunggal.
Di tengah kenaikan harga kebutuhan pokok, ongkos transportasi, hingga biaya gaya hidup yang ikut meningkat, banyak anak muda dan pekerja muda mulai berpikir ulang soal cara mengelola keuangan. Menabung masih terasa aman. Namun di tengah inflasi, menyimpan uang saja tak selalu cukup untuk menjaga nilainya.
Keresahan serupa terasa dalam kegiatan Roadshow PINTAR Reksa Dana yang digelar di Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sumatera Selatan, Kamis (23/4/2026).
Sejak pagi, aula kantor OJK Sumsel dipenuhi ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Sumatera Selatan. Sebagian sibuk memotret slide presentasi, sebagian lain mencatat poin-poin penting di buku kecil atau ponsel mereka.
Di salah satu sudut ruangan, Ali (21), seorang mahasiswa di Palembang, tampak serius menyimak materi yang disampaikan narasumber. Sesekali ia mengangkat ponselnya untuk mengabadikan slide tentang reksa dana pasar uang. Ia mengaku datang karena penasaran dengan investasi yang belakangan ramai dibicarakan di media sosial.
“Awalnya saya pikir investasi itu harus modal besar, jadi belum kepikiran untuk coba. Apalagi kalau dengar cerita orang rugi, jadi makin takut,” ujar Ali.
Baca Juga: Euforia Investasi Anak Muda Meningkat, BI Ingatkan Bahaya Keputusan Finansial Emosional
Ali mengaku selama ini sering melihat teman-temannya mulai berinvestasi melalui aplikasi digital seperti Bibit. Di media sosial seperti TikTok, topik investasi juga semakin sering muncul, mulai dari cerita untung besar hingga konten flexing hasil investasi.
“Sering lihat teman posting hasil investasinya, terus di TikTok juga sering muncul. Jadi penasaran, tapi masih bingung mulainya dari mana,” katanya.
Namun setelah mengikuti sesi edukasi, pandangan Ali mulai berubah. “Setelah dijelaskan tadi, ternyata ada reksa dana pasar uang yang cocok untuk pemula dan bisa dimulai dari nominal kecil. Jadi saya tertarik untuk mulai belajar investasi sedikit demi sedikit,” ujarnya.
Kegiatan yang digelar OJK bersama Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI), Bursa Efek Indonesia (BEI), serta pelaku industri jasa keuangan itu merupakan bagian dari rangkaian pre-event Pekan Reksa Dana 2026 dan kampanye nasional #ReksaDanaAja, untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan masyarakat, khususnya generasi muda.
Apa yang dirasakan Ali ternyata juga tergambar dalam data industri pasar modal Indonesia.
Dalam paparan APRDI, jumlah investor pasar modal Indonesia per Desember 2025 baru sekitar 20 juta orang atau sekitar 7 persen dari total populasi Indonesia yang mencapai 288 juta jiwa. Artinya, tingkat partisipasi masyarakat dalam investasi masih relatif rendah.
Berita Terkait
-
Euforia Investasi Anak Muda Meningkat, BI Ingatkan Bahaya Keputusan Finansial Emosional
-
Gen Z Pilih Kripto atau Reksa Dana? APRDI Ungkap Tren Investasi Anak Muda di 2026
-
BRI Bekali Atlet SEA Games 2025 dengan Edukasi Keuangan Berkelanjutan
-
Mengapa Warga Sumsel Mudah Tertipu? Kerugian Penipuan Online Tembus Rp100 Miliar di 2025
-
BRI Gandeng Enam Manajer Investasi Hadirkan Puluhan Produk Reksa Dana di BRImo
Terpopuler
- 3 Moisturizer Kolagen untuk Kulit Keriput Usia 45 ke Atas, Bikin Wajah Kencang Sesuai Review
- 4 Parfum Aroma Teh di Alfamart yang Tahan Lama Sesuai Review, Harga Mulai Rp30 Ribuan
- Guruh Soekarnoputra Sakit Apa? Wafat di Usia 73 Tahun usai Dirawat Intensif
- Cari HP Samsung Murah? Ini 8 Galaxy A Series yang Layak Dipilih
Pilihan
-
Bayi Dua Hari Ditinggalkan dalam Kardus, Tangisnya Bongkar Misteri di Depan Rumah Warga
-
Tanpa Pengacara, WNI Didakwa Edarkan 25 Kg Heroin: Terancam Hukuman Mati di Malaysia
-
Dramatis! Ubed Persembahkan Medali Emas Asian Games 2026 untuk Indonesia
-
Massa Buruh Mulai Padati Thamrin, Andi Gani Pimpin Langsung Aksi Tuntut Keadilan RUU Ketenagakerjaan
-
Bawa Kentongan Hingga Kenakan Topi Caping, Massa Hari Tani Nasional Mulai Padati Depan Gedung DPR
Terkini
-
Pestapora 2026 Makin Meriah Bareng BRImo, Ada Cashback hingga Aktivitas Berhadiah
-
PHR dan Kejaksaan Agung Kawal Kerja Sama Produksi Sumur Minyak BUMD, Koperasi, dan UMKM
-
Dari Energi untuk Negeri, Kilang Plaju Hadirkan Harapan Dengan Donor Darah
-
Sumsel Raih 3 Penghargaan TPID dan TP2DD Awards 2026
-
Dua Pulau Baru Muncul di Dekat Anak Krakatau, Apakah Ini Pusat Erupsi Baru?