Tasmalinda
Jum'at, 08 Mei 2026 | 22:09 WIB
Pekan reksadana yang diselenggarakan di Palembang, Sumatera Selatan
Baca 10 detik
  • OJK Sumsel menyelenggarakan edukasi reksa dana pada 23 April 2026 untuk meningkatkan literasi keuangan bagi para generasi muda.
  • Kegiatan tersebut bertujuan memberikan pemahaman investasi jangka panjang di tengah kenaikan harga kebutuhan pokok dan laju inflasi.
  • Data menunjukkan investor muda mendominasi pasar modal, namun partisipasi keseluruhan penduduk masih rendah sehingga perlu edukasi instrumen investasi.

SuaraSumsel.id - Pagi ini, Fitri membuka aplikasi mobile banking di ponselnya. Gaji bulanannya baru saja masuk beberapa hari lalu. Namun saldo yang tersisa tak sebanyak yang ia bayangkan. Tagihan listrik sudah terpotong.

Cicilan bulanan menunggu. Belum lagi kebutuhan dapur, ongkos transportasi, dan pengeluaran kecil yang sering datang tanpa aba-aba. “Sekarang uang rasanya cepat sekali habis,” ujar Fitri (28), pekerja swasta di Palembang.

Perempuan yang telah bekerja selama beberapa tahun itu mengaku penghasilannya tak banyak berubah, sementara harga kebutuhan sehari-hari terus merangkak naik. “Dulu uang Rp500 ribu masih bisa cukup untuk kebutuhan seminggu. Sekarang belum tentu. Apalagi kalau ada kebutuhan mendadak,” katanya.

Situasi seperti yang dialami Fitri tampaknya bukan cerita tunggal.

Di tengah kenaikan harga kebutuhan pokok, ongkos transportasi, hingga biaya gaya hidup yang ikut meningkat, banyak anak muda dan pekerja muda mulai berpikir ulang soal cara mengelola keuangan. Menabung masih terasa aman. Namun di tengah inflasi, menyimpan uang saja tak selalu cukup untuk menjaga nilainya.

Keresahan serupa terasa dalam kegiatan Roadshow PINTAR Reksa Dana yang digelar di Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sumatera Selatan, Kamis (23/4/2026).

Sejak pagi, aula kantor OJK Sumsel dipenuhi ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Sumatera Selatan. Sebagian sibuk memotret slide presentasi, sebagian lain mencatat poin-poin penting di buku kecil atau ponsel mereka.

Di salah satu sudut ruangan, Ali (21), seorang mahasiswa di Palembang, tampak serius menyimak materi yang disampaikan narasumber. Sesekali ia mengangkat ponselnya untuk mengabadikan slide tentang reksa dana pasar uang. Ia mengaku datang karena penasaran dengan investasi yang belakangan ramai dibicarakan di media sosial.

“Awalnya saya pikir investasi itu harus modal besar, jadi belum kepikiran untuk coba. Apalagi kalau dengar cerita orang rugi, jadi makin takut,” ujar Ali.

Baca Juga: Euforia Investasi Anak Muda Meningkat, BI Ingatkan Bahaya Keputusan Finansial Emosional

Ali mengaku selama ini sering melihat teman-temannya mulai berinvestasi melalui aplikasi digital seperti Bibit. Di media sosial seperti TikTok, topik investasi juga semakin sering muncul, mulai dari cerita untung besar hingga konten flexing hasil investasi.

“Sering lihat teman posting hasil investasinya, terus di TikTok juga sering muncul. Jadi penasaran, tapi masih bingung mulainya dari mana,” katanya.

Namun setelah mengikuti sesi edukasi, pandangan Ali mulai berubah. “Setelah dijelaskan tadi, ternyata ada reksa dana pasar uang yang cocok untuk pemula dan bisa dimulai dari nominal kecil. Jadi saya tertarik untuk mulai belajar investasi sedikit demi sedikit,” ujarnya.

Kegiatan yang digelar OJK bersama Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI), Bursa Efek Indonesia (BEI), serta pelaku industri jasa keuangan itu merupakan bagian dari rangkaian pre-event Pekan Reksa Dana 2026 dan kampanye nasional #ReksaDanaAja, untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan masyarakat, khususnya generasi muda.

Apa yang dirasakan Ali ternyata juga tergambar dalam data industri pasar modal Indonesia.

Dalam paparan APRDI, jumlah investor pasar modal Indonesia per Desember 2025 baru sekitar 20 juta orang atau sekitar 7 persen dari total populasi Indonesia yang mencapai 288 juta jiwa. Artinya, tingkat partisipasi masyarakat dalam investasi masih relatif rendah.

Meski demikian, investor muda justru mendominasi. Berdasarkan data KSEI Januari 2026, investor berusia di bawah 30 tahun mencapai lebih dari 50 persen dari total investor pasar modal.

Namun jika dibandingkan dengan jumlah penduduk usia 15 hingga 34 tahun yang mencapai 88,96 juta jiwa, investor reksa dana di kelompok usia tersebut baru sekitar 11,41 juta atau 12,82 persen. Ini menunjukkan peluang pertumbuhan investor muda masih sangat besar.

Pengurus Dewan Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI), Gresia Kusyanto, mengatakan minat generasi muda terhadap investasi memang terus meningkat. Namun, sebagian besar investor muda masih cenderung berorientasi pada keuntungan instan.

“Jangan sampai generasi muda hanya ikut tren investasi karena fear of missing out atau sekadar melihat konten flexing di media sosial, tanpa memahami risiko dan pentingnya investasi jangka panjang,” ujar Gresia.

Menurut dia, investasi seharusnya menjadi bagian dari perencanaan keuangan, bukan sekadar mengikuti tren. Salah satu instrumen yang dinilai cocok bagi pemula adalah reksa dana pasar uang.

Jenis investasi ini menempatkan dana pada instrumen pasar uang seperti deposito dan surat utang jangka pendek. Karakteristiknya cenderung minim fluktuasi, berisiko relatif rendah, dan likuid sehingga relatif mudah dicairkan saat dibutuhkan.

Dalam materi edukasi APRDI, reksa dana pasar uang disebut cocok bagi investor pemula karena sifatnya lebih stabil dibanding saham dan dapat dimulai dari nominal kecil. Bahkan, produk ini kerap menjadi alternatif penyimpanan dana darurat yang tetap berpotensi memberikan imbal hasil.

Kepala OJK Provinsi Sumatera Selatan, Arifin Susanto, menegaskan pentingnya pemahaman keuangan sejak dini agar generasi muda lebih siap mengelola keuangan pribadi sekaligus membangun masa depan yang lebih mandiri.

Bagi Fitri, penjelasan soal reksa dana pasar uang terasa menenangkan. “Kalau memang bisa mulai dari nominal kecil dan risikonya lebih rendah, saya jadi tertarik untuk coba. Yang penting mulai dulu pelan-pelan,” ujarnya.

Sore itu, Fitri pulang dengan satu pemahaman baru.

Gaji bulan depan mungkin belum tentu naik. Harga kebutuhan sehari-hari mungkin masih terus bergerak.

Namun setidaknya, ia mulai memahami bahwa mengelola keuangan bukan sekadar soal menabung atau mengejar keuntungan instan.

Melainkan tentang memahami cara kerja uang, menyusun prioritas, dan menyiapkan masa depan secara bertahap.

Mungkin Fitri belum akan langsung kaya dari Rp100 ribu pertamanya.

Namun hari itu, ia pulang membawa sesuatu yang lebih penting: keberanian untuk mulai memahami uang, sebelum uang kembali habis tanpa arah.

Sebab di tengah harga yang terus naik, memahami cara menjaga uang tetap bernilai mungkin bukan lagi pilihan—melainkan kebutuhan.

Load More