- Ribuan titik panas terdeteksi di Pulau Sumatera sepanjang Januari hingga Maret 2026, memicu kecemasan warga akan krisis kabut asap.
- Pantau Gambut mencatat sebagian besar titik panas berada di area konsesi lahan, mengindikasikan masalah tata kelola lahan serta pengawasan.
- Ancaman fenomena El Nino yang kuat berisiko memperparah kebakaran hutan, emisi karbon, serta membahayakan kesehatan dan ekonomi warga setempat.
SuaraSumsel.id - Ancaman kabut asap kembali menghantui Pulau Sumatera. Saat sebagian warga belum benar-benar melupakan krisis asap yang pernah melumpuhkan aktivitas pada 2015 dan 2019, kini tanda-tanda bahaya mulai terlihat lebih awal.
Ribuan titik panas atau hotspot terdeteksi di sejumlah wilayah di Sumatera sejak awal 2026. Kondisi ini memunculkan kecemasan baru di tengah prediksi fenomena El Nino yang berpotensi datang lebih kuat tahun ini.
Bagi sebagian warga, kabut asap bukan sekadar persoalan cuaca. Peristiwa itu menyisakan trauma panjang yakni mulai dari anak-anak yang terpaksa belajar di rumah, lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), hingga aktivitas ekonomi yang lumpuh akibat jarak pandang terbatas.
Data dari organisasi lingkungan Pantau Gambut mencatat, sepanjang Januari hingga Maret 2026 terdapat 12.118 titik panas di Pulau Sumatera. Angka itu tersebar di sejumlah provinsi, dengan wilayah terparah berada di Riau sebanyak 8.930 titik, disusul Aceh 1.975 titik, Jambi 359 titik, dan South Sumatra atau Sumatera Selatan 164 titik.
Temuan ini membuat banyak warga mulai waspada. Terlebih, pengalaman sebelumnya menunjukkan titik api yang terus meningkat bisa berubah menjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dalam waktu singkat saat cuaca kian kering.
Kecemasan serupa juga dirasakan masyarakat di Sumatera Selatan. Direktur Perkumpulan Rawang, Hairul Sobri, menilai daerah ini kembali berada di ambang krisis asap jika langkah antisipasi tidak dilakukan sejak dini.
“Tanpa perubahan serius, masyarakat Sumatera Selatan akan terus menjadi korban siklus tahunan asap yang seharusnya bisa dicegah,” ujar Hairul saat media briefing dengan tema “Sumatera dalam Kepungan Asap Godzila El Nino, Senin (27/4/2026).
Tak hanya faktor cuaca, persoalan tata kelola lahan dinilai menjadi penyebab kebakaran terus berulang.
Pantau Gambut menemukan 7.526 titik panas berada di dalam area konsesi, terdiri dari 6.192 titik di wilayah Hak Guna Usaha (HGU) dan 1.334 titik di wilayah Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH/IUPHHK).
Baca Juga: Sumsel Didominasi Zona Coklat, BMKG Sebut Kemarau 2026 Lebih Kering dari Normal
Artinya, ancaman kebakaran tak melulu datang dari musim kemarau atau El Nino, tetapi juga diduga terkait praktik pengeringan gambut, pembukaan lahan, dan lemahnya pengawasan.
Manager Program WALHI Jambi, Aditya Prakoso, mengatakan penanganan karhutla tidak cukup hanya fokus pada pemadaman.
“Akar masalahnya ada pada tata kelola lahan, perlindungan ekosistem gambut, dan praktik pembukaan lahan berisiko tinggi di sektor industri,” katanya.
Sementara itu, Direktur Eksekutif WALHI Riau, Eko Yunanda, mengungkap indikasi 100 hotspot tersebar di 10 perusahaan perkebunan sawit dan kayu di Riau.
Di sisi lain, masyarakat hanya bisa berharap bencana kabut asap tak kembali datang.
Indonesia sendiri memiliki lahan gambut tropis terbesar di dunia dengan luas mencapai 13,43 juta hektare. Lahan ini menyimpan sekitar 57 gigaton karbon. Jika terbakar, dampaknya bukan hanya asap yang mengganggu kesehatan, tetapi juga emisi karbon besar yang memperparah perubahan iklim.
Berita Terkait
-
Sumsel Didominasi Zona Coklat, BMKG Sebut Kemarau 2026 Lebih Kering dari Normal
-
Kaleidoskop Sumsel 2025: Menjemput Investasi Asing, Melawan Kepungan Asap dan Banjir
-
Bom Waktu Lingkungan di Sumsel: 3 Bencana Ekologis yang Mengintai Hingga 2030?
-
Pertamina Plaju Salurkan Bantuan Logistik untuk Tim Siaga Karhutla di Pemulutan
-
Asap Karhutla Menyelimuti Sumsel, Luas Lahan Terbakar Capai 2.935 Hektare
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
Pilihan
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
-
Survei SMRC Juli 2026: Elektabilitas Prabowo Anjlok Drastis, Disalip Dedi Mulyadi
-
Malaysia Dikit Lagi Resmi Berstatus Negara Maju, Pendapatan Warga Rp 250 Juta per Tahun
Terkini
-
BI Luncurkan Layanan Baru Penukaran Uang Rusak, Warga Sumsel Kini Punya Lebih Banyak Pilihan
-
Digerebek Lagi, Dua Kilang Minyak Ilegal di Muba Terbongkar, Pemiliknya Masih Buron
-
Karhutla Sumsel Terus Meluas, Mengapa Muba dan Ogan Ilir Jadi Titik Terparah?
-
5 Fakta Kapal Jukung Terbakar di Sungai Musi, Penyebab Kebakaran Masih Diselidiki
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?