- Pulau Kemaro di Sungai Musi menjadi destinasi wisata yang dikenal luas karena menyimpan beragam mitos kepercayaan masyarakat lokal.
- Legenda cinta Tan Bun An dan Siti Fatimah menjadi daya tarik utama bagi pengunjung yang datang berziarah.
- Mitos pulau tidak pernah tenggelam dan pantangan berkata sembarangan tetap dihormati guna menjaga kesakralan kawasan wisata tersebut.
SuaraSumsel.id - Di tengah aliran Sungai Musi, berdiri sebuah pulau kecil yang tak pernah sepi cerita. Pulau Kemaro bukan hanya destinasi wisata, tetapi juga ruang hidup bagi kisah-kisah lama yang terus dipercaya hingga hari ini.
Sebagian orang datang untuk berfoto atau berziarah, namun tak sedikit pula yang datang dengan rasa penasaran. Sebab di balik keindahannya, Pulau Kemaro menyimpan sejumlah mitos yang masih hidup di tengah masyarakat.
Berikut lima mitos yang hingga kini masih dipercaya warga lokal:
1. Kisah Cinta Tragis yang Diyakini Abadi
Legenda paling terkenal adalah kisah cinta antara Tan Bun An dan Siti Fatimah. Cerita ini berakhir tragis di Sungai Musi, namun dipercaya tidak pernah benar-benar berakhir.
Banyak yang meyakini, arwah keduanya masih “menjaga” Pulau Kemaro. Bahkan, beberapa pengunjung mengaku merasakan suasana berbeda saat berada di sekitar makam yang diyakini terkait kisah tersebut.
2. Pulau yang Tak Pernah Tenggelam
Salah satu kepercayaan yang paling sering diceritakan adalah fakta bahwa Pulau Kemaro tidak pernah tenggelam, bahkan saat air Sungai Musi pasang tinggi.
Bagi sebagian warga, ini bukan sekadar fenomena alam, melainkan sesuatu yang “dijaga”. Nama “Kemaro” sendiri diyakini berasal dari kata “kemarau”, yang berarti kering.
3. Pohon Cinta Pembawa Jodoh
Di kawasan pulau, terdapat pohon yang sering disebut sebagai “pohon cinta”. Banyak pengunjung yang datang untuk menggantungkan harapan atau sekadar berdoa soal jodoh.
Baca Juga: Viral di Sitinjau Lauik, Siapa Arteria Dahlan? Dari Politisi PDIP ke Komisaris PT Pusri
Sebagian percaya, siapa pun yang datang dengan niat tulus akan dipermudah dalam urusan asmara.
4. Pantangan Berkata Sembarangan
Warga lokal kerap mengingatkan pengunjung untuk menjaga ucapan selama berada di Pulau Kemaro.
Konon, berkata kasar atau sombong bisa membawa hal-hal yang tidak diinginkan. Meski terdengar sederhana, pantangan ini masih cukup dihormati hingga sekarang.
5. Suasana Berbeda Saat Malam Hari
Beberapa warga dan pengunjung mengaku merasakan suasana yang berbeda saat malam hari. Pulau yang biasanya ramai terasa lebih sunyi dan “hidup” dengan cara yang berbeda.
Berita Terkait
-
Viral di Sitinjau Lauik, Siapa Arteria Dahlan? Dari Politisi PDIP ke Komisaris PT Pusri
-
Cara Menyimpan Songket Mahal agar Tak Dimakan Ngengat, Rahasia Benang Emas Tetap Berkilau
-
Lakuer Palembang: Kerajinan Kayu Berlapis Emas yang Dulu dari Istana, Kini Diburu Kolektor Dunia
-
WFH untuk Hemat BBM, Transportasi Publik Palembang Belum Sepenuhnya Menjadi Jawaban
-
CFD Palembang Bikin Macet Parah, Rencana Launching Akhirnya Ditunda
Terpopuler
- Kenapa Maudy Ayunda Disebut Tak Napak Tanah? Ini Kronologinya
- 3 Rekomendasi Helm Half Face Rp200 Ribuan yang Paling Dicari Bikers, Nyaman Buat Harian
- Defisit APBN 'Cuma' 0,91 Persen, Purbaya Khawatir Kementerian-Lembaga Minta Anggaran Tambahan
- Viral Karnaval Mirip Ritual Satanisme di Pekalongan, Ada Penyembelihan Hewan dan Okultisme
- Polisi Sebut Wanita di Video Viral Biksu Thailand Mendadak Kaya Sejak Bolak Balik Masuk Kuil
Pilihan
-
Dilantik Jadi Menkeu, Suahasil Akui Tak Berkomunikasi Dengan Purbaya
-
Purbaya Diganti, Nilai Tukar Rupiah Langsung Loyo ke Level Rp17.699
-
Resmi! Menkeu Purbaya Dicopot, Diganti Suahasil Nazara
-
Ada Pelantikan di Istana Sore Ini, Pratikno Ngaku Dapat Undangan Mendadak
-
Update Reshuffle Kabinet Hari Ini: Menlu Sugiono Dikabarkan Diganti
Terkini
-
14 Tahun Jadi Mantri BRI, Dewi Natalia Konsisten Dampingi Nasabah hingga Mandiri
-
Cucu Diduga Bunuh Nenek di Palembang, Pelarian Pelaku Hanya Bertahan 50 Menit
-
Taksi Listrik Hadir di Palembang, Solusi Transportasi atau Sekadar Tren Baru?
-
Derby Sumatera Dimulai! Sumsel United Bidik Balas Kekalahan dari PSMS di Laga Perdana
-
60 Hari Tak Diguyur Hujan, Karhutla Padang Sugihan Picu Kekhawatiran Habitat Gajah