- Lakuer Palembang merupakan warisan budaya berupa kerajinan kayu berlapis getah dan emas yang berasal dari masa Kesultanan Palembang Darussalam.
- Proses pembuatan kerajinan ini dilakukan secara manual dengan tingkat ketelitian tinggi untuk menghasilkan motif elegan khas budaya lokal Palembang.
- Produk bernilai prestisius ini kini menembus pasar global, meskipun menghadapi tantangan penurunan jumlah perajin dan persaingan dengan barang modern.
SuaraSumsel.id - Di tengah dominasi kuliner seperti pempek, ada satu warisan budaya yang diam-diam menyimpan nilai tinggi dan prestise internasional yakni lakuer Palembang.
Kerajinan kayu berlapis warna hitam pekat dengan hiasan emas ini bukan sekadar benda dekoratif, melainkan simbol kemewahan, sejarah, dan identitas budaya yang telah hidup sejak ratusan tahun lalu.
Bagi kolektor seni, lakuer bukan hanya barang pajangan. Ia adalah karya bernilai tinggi yang merepresentasikan kehalusan tangan perajin dan kekayaan tradisi lokal yang tak tergantikan.
Lakuer atau dikenal juga sebagai lacquerware adalah kerajinan berbahan dasar kayu yang dilapisi getah khusus (resin) dan dihias menggunakan teknik lukis serta tempelan emas. Di Palembang, kerajinan ini berkembang menjadi ciri khas yang berbeda dari daerah lain.
Warna dasar hitam menjadi kanvas utama, sementara motif bunga, sulur, dan ornamen klasik dilukis menggunakan warna emas yang mencolok namun elegan. Perpaduan ini menciptakan kesan mewah yang langsung dikenali.
Sejarah lakuer Palembang tak bisa dilepaskan dari masa kejayaan Kesultanan Palembang Darussalam. Pada masa itu, lakuer digunakan sebagai perlengkapan istana—mulai dari kotak perhiasan, tempat sirih, hingga perabotan khusus untuk kalangan bangsawan.
Nilainya yang tinggi membuat lakuer menjadi simbol status sosial. Semakin halus detail dan semakin kaya ornamen emasnya, semakin tinggi pula prestise pemiliknya.
Kini, fungsi itu bergeser. Lakuer tidak lagi hanya milik kalangan elite lokal, tetapi telah masuk ke pasar global. Banyak kolektor mancanegara memburu lakuer Palembang karena keunikannya yang tidak dimiliki kerajinan lain.
Salah satu alasan mengapa lakuer memiliki nilai tinggi adalah proses pembuatannya yang tidak sederhana. Kayu harus dihaluskan, dilapisi bahan khusus berkali-kali, lalu dikeringkan dalam waktu tertentu.
Baca Juga: WFH untuk Hemat BBM, Transportasi Publik Palembang Belum Sepenuhnya Menjadi Jawaban
Setelah itu, barulah proses dekorasi dimulai—mulai dari menggambar motif hingga menempelkan atau melukis emas secara manual. Semua tahap dilakukan dengan tangan, membutuhkan ketelitian tinggi dan kesabaran luar biasa.
Kesalahan kecil saja bisa merusak keseluruhan hasil. Inilah yang membuat setiap produk lakuer bersifat unik dan tidak bisa disamakan satu sama lain.
Ciri Khas Lakuer Palembang yang Diburu Kolektor
Yang membuat lakuer Palembang begitu diminati bukan hanya karena keindahannya, tetapi juga karakter visualnya yang kuat. Kombinasi warna hitam pekat dan emas menciptakan kontras elegan yang sulit ditiru.
Motif yang digunakan umumnya terinspirasi dari alam dan budaya lokal, seperti bunga melati, sulur tanaman, hingga ornamen khas Melayu. Setiap motif memiliki filosofi tersendiri, mencerminkan keindahan, kesucian, dan keharmonisan.
Bagi kolektor, keaslian dan detail pengerjaan menjadi faktor utama. Semakin halus garis emas dan semakin rapi lapisan laknya, semakin tinggi pula nilai jualnya.
Ironisnya, di tengah nilai tinggi yang dimiliki, keberadaan lakuer Palembang justru menghadapi tantangan besar. Jumlah perajin semakin berkurang, sementara minat generasi muda untuk meneruskan keahlian ini tidak sebanyak dulu.
Tag
Berita Terkait
-
WFH untuk Hemat BBM, Transportasi Publik Palembang Belum Sepenuhnya Menjadi Jawaban
-
CFD Palembang Bikin Macet Parah, Rencana Launching Akhirnya Ditunda
-
Kenapa CFD di Kota Lain Lancar, Tapi Palembang Macet? Ini Penyebab yang Terungkap
-
Filosofi Ikan Belido dalam Budaya Palembang: Simbol Kebanggaan di Balik Pempek
-
Viral Kunjungan Komisaris Pusri di Padang, Rombongan Arteria Dahlan Foto di Tikungan Ekstrem
Terpopuler
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- Sempat Diamankan saat OTT, Sestama BNPB Rustian Kini Diperiksa KPK di Gedung Merah Putih
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Ramai Tren Downgrade Lifestyle, Desainer Pilih Bedakan Produk Retail dan Wastra
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
Sumsel United Tak Terkalahkan 4 Laga, Tegar Hening Absen Jelang Derby Sumatera
-
Laba PTBA Tembus Rp4,41 Triliun, Pendapatan Naik 12 Persen hingga Kuartal III 2026
-
Nasib Bayi yang Ditemukan di Toilet Tol Terpeka: Sudah Boleh Pulang, 5 Keluarga Berminat Mengadopsi
-
Bank Sumsel Babel Luncurkan Sultan Muda Corner, Perkuat Pembiayaan UMKM dan Wirausaha Muda
-
Hari Listrik Nasional ke-81, Pertamina Kilang Plaju Dukung Kemandirian Energi lewat PLTMh