- Uji coba Car Free Day di Palembang memicu kemacetan parah akibat pengaturan lalu lintas yang belum optimal.
- Wali Kota Ratu Dewa mengevaluasi minimnya personel di titik krusial serta dampak penutupan jalur Jembatan Ampera.
- Pemerintah Kota Palembang berkomitmen memperbaiki rekayasa lalu lintas dan manajemen ruang publik agar kegiatan berjalan lebih tertib.
SuaraSumsel.id - Uji coba Car Free Day (CFD) di Palembang memang hanya berlangsung sekitar dua jam, tetapi dampaknya terasa jauh lebih lama dari durasi pelaksanaannya. Antusiasme warga yang memadati lokasi sejak pagi seolah menjadi bukti bahwa kebutuhan akan ruang publik begitu tinggi.
Namun di balik itu, kemacetan justru muncul sebagai cerita yang paling banyak dibicarakan.
Perbandingan dengan kota lain pun tak terhindarkan. Banyak warga mulai mempertanyakan, mengapa CFD di sejumlah kota besar bisa berjalan tertib dan lancar, sementara di Palembang justru memicu kepadatan lalu lintas yang cukup parah.
Situasi ini bukan semata soal jumlah pengunjung, melainkan bagaimana sistem di baliknya bekerja. Di Palembang, lonjakan warga yang datang tidak diimbangi dengan kesiapan pengaturan arus kendaraan. Banyak pengendara tetap berusaha mendekati titik utama CFD, sehingga penumpukan terjadi di jalur-jalur penghubung yang seharusnya menjadi alternatif.
Kondisi ini berbeda dengan kota seperti Jakarta yang sudah lebih matang dalam pelaksanaan CFD. Di sana, masyarakat terbiasa memarkir kendaraan di titik tertentu dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Sistem rekayasa lalu lintas juga disiapkan dengan lebih terstruktur, sehingga kendaraan tidak terkonsentrasi di satu titik.
Di Palembang, persoalan ini bahkan mendapat perhatian langsung dari Wali Kota Ratu Dewa. Dalam rapat evaluasi bersama jajaran pemerintah dan pihak terkait, ia menyoroti salah satu penyebab utama kemacetan, yakni belum optimalnya pengaturan lalu lintas di titik-titik krusial.
Ia mengungkapkan bahwa penutupan jalur sepanjang 2,8 kilometer, termasuk kawasan ikonik seperti Jembatan Ampera, berdampak besar terhadap pergerakan kendaraan. Dari pantauannya, kemacetan parah terjadi di kawasan Musi 4 dan Musi 6, yang menjadi jalur penting bagi mobilitas warga.
Yang lebih menjadi sorotan, menurutnya, adalah minimnya kehadiran petugas di titik tersebut. Padahal, kawasan itu justru menjadi simpul pertemuan arus kendaraan yang paling padat. Tanpa pengaturan yang memadai, antrean kendaraan pun mengular dan sulit terurai.
Situasi di lapangan bahkan sempat viral di media sosial. Sejumlah warga melakukan siaran langsung, memperlihatkan kondisi jalan yang tersendat dan melontarkan kritik secara terbuka. Respons publik yang begitu cepat menjadi sinyal kuat bahwa pelaksanaan CFD masih perlu banyak perbaikan.
Baca Juga: CFD Palembang Diprotes Warga, Jalur Terlalu Panjang Bikin Aktivitas Terganggu
Ratu Dewa pun tidak menampik hal tersebut. Ia menegaskan bahwa uji coba ini memang menjadi bahan evaluasi menyeluruh. Pemerintah kota, kata dia, akan meninjau ulang berbagai aspek, mulai dari rekayasa lalu lintas hingga penempatan personel di lapangan, agar kejadian serupa tidak terulang.
Tak hanya CFD, evaluasi juga menyasar pelaksanaan Car Free Night (CFN) yang digelar sebelumnya. Meski dinilai cukup berhasil menghidupkan suasana malam kota, masih ditemukan sejumlah catatan seperti persoalan sampah, kurangnya fasilitas tempat pembuangan, hingga penataan parkir yang belum maksimal.
Di sisi lain, perbedaan budaya mobilitas juga menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan. Di kota seperti Bandung dan Surabaya, masyarakat sudah terbiasa menggunakan transportasi umum atau berjalan kaki saat CFD berlangsung. Sementara di Palembang, penggunaan kendaraan pribadi masih sangat dominan, sehingga tekanan pada jalan alternatif menjadi jauh lebih besar.
Meski demikian, CFD tetap dianggap sebagai langkah positif untuk menghadirkan ruang publik yang sehat dan inklusif. Hanya saja, tanpa perencanaan yang matang dan evaluasi berkelanjutan, kegiatan ini berpotensi menimbulkan masalah baru di tengah masyarakat.
CFD Palembang kini tidak lagi sekadar menjadi agenda olahraga pagi, tetapi juga cermin bagaimana sebuah kota mengelola ruang publiknya. Harapan warga sederhana, kegiatan ini tetap berjalan, namun dengan pengaturan yang lebih baik agar tidak lagi identik dengan kemacetan.
Karena pada akhirnya, CFD bukan hanya soal menutup jalan, melainkan membuka ruang hidup yang lebih nyaman bagi semua.
Tag
Berita Terkait
-
CFD Palembang Diprotes Warga, Jalur Terlalu Panjang Bikin Aktivitas Terganggu
-
CFD Palembang Hari Pertama Diserbu Warga, Jalanan Malah Lumpuh dan Tuai Protes
-
CFN Sukses Besar, CFD Palembang Malah Picu Macet Parah di Hari Pertama
-
Wajah Baru Pedestrian Atmo Diserbu Warga, CFN Palembang Jadi Magnet Baru Kota Palembang
-
CFN Malam Ini dan CFD Besok di Palembang, Jalan Ditutup dan Cara Hindari Macet
Terpopuler
- Presiden RI Minta Maaf ke Malaysia - Singapura Akibat Asap, Tapi Itu SBY...
- Survei: 55 Persen Pemilih Prabowo Tidak Akan Memilihnya Kembali pada Pilpres 2029
- Rudy Masud Senyum Semringah Bersama Istri di Singapura, Media Asing: Rakyatnya Sesak Nafas
- 5 Sabun Cuci Muka Retinol untuk Atasi Penuaan: Bikin Wajah Halus, Cerah, dan Kencang
- Rapor Prabowo-Gibran dan Para Menteri Anjlok, Purbaya yang Dicopot Justru Jadi Menteri Terbaik
Pilihan
-
Belajar Hadapi Kekeringan dari Romo Kirjito, Mamanen Air Hujan yang Jatuh dari Langit
-
Krisis! Kelangkaan BBM Meluas Tak Hanya Bali, Antrean Berjam-jam
-
Gubernur Kaltim Rudy Mas'ud Bungkam usai Viral Sarapan di Singapura
-
KPK Kembali Gelar OTT: Amankan Sejumlah Pihak di BNPB
-
Ungkap Banyak Kasus Besar, Dirtipideksus Bareskrim Brigjen Ade Safri Justru Diganti
Terkini
-
Sumsel Jadi Proyek Percontohan Teknologi Dry Ice, Benarkah Bisa Mengatasi Kabut Asap?
-
Kabut Asap Belum Usai, 6 Penerbangan Bandara SMB II Palembang Kembali Terganggu
-
Demo Karhutla Berujung Pengeroyokan 2 Wartawan, Polisi Tangkap Terduga Provokator dan Sita 2 Sajam
-
AJI Palembang Desak Pelaku Pengeroyokan Wartawan di Polda Sumsel Ditangkap
-
POSPERA Sumsel Kecam Aksi Premanisme Ormas di Polda Sumsel, Desak Korporasi Pelaku Karhutla Ditindak