- PT Bukit Asam mencatat peningkatan produksi dan penjualan batu bara sepanjang 2025 di tengah penurunan harga pasar global.
- Perusahaan berhasil meraih laba bersih Rp2,93 triliun melalui strategi efisiensi operasional serta perluasan pasar ekspor ke Eropa.
- PTBA menargetkan peningkatan target produksi dan penjualan batu bara menjadi 49,5 juta ton pada tahun 2026 ini.
SuaraSumsel.id - Di saat harga batu bara global tertekan dan anjlok hingga 22 persen, satu nama justru melaju ke arah sebaliknya. PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mencatat lonjakan produksi dan penjualan sepanjang 2025, yakni sebuah anomali yang memancing perhatian di tengah lesunya pasar komoditas energi.
Alih-alih tertekan, perusahaan pelat merah ini justru menunjukkan daya tahan bisnis yang solid. Sepanjang 2025, PTBA berhasil meningkatkan produksi sebesar 9 persen menjadi 47,2 juta ton. Sementara itu, volume penjualan juga ikut terdongkrak 6 persen menjadi 45,4 juta ton.
Tak hanya itu, volume angkutan batu bara turut naik dari 38,2 juta ton menjadi 40,4 juta ton, atau tumbuh sekitar 6 persen. Kinerja ini menunjukkan bahwa mesin operasional perusahaan tetap berjalan agresif meski pasar global sedang tidak bersahabat.
Direktur Utama PTBA, Arsal Ismail, menyebut capaian ini sebagai bukti ketahanan perusahaan menghadapi tekanan eksternal.
“Tahun 2025 adalah pembuktian atas resiliensi operasional kami. Meski harga jual rata-rata terkoreksi akibat penurunan indeks Newcastle sebesar 22 persen, PTBA mampu menjawab tantangan tersebut melalui efisiensi dan perluasan pasar,” ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (2/4/2026).
Di balik angka-angka tersebut, ada strategi yang tidak banyak disorot: efisiensi operasional dan ekspansi pasar global secara agresif.
PTBA tetap mengalokasikan 54 persen penjualan untuk kebutuhan domestik—menjaga perannya sebagai penopang ketahanan energi nasional. Namun di saat yang sama, perusahaan mulai memperluas sayap ke pasar internasional dengan porsi ekspor mencapai 46 persen.
Selain mempertahankan pasar tradisional seperti India, Vietnam, dan Korea Selatan, PTBA juga mulai menembus pasar baru di Eropa, termasuk Spanyol dan Rumania. Langkah ini menjadi sinyal penting bahwa peta ekspor batu bara Indonesia mulai berubah.
Secara tidak langsung, strategi ini menunjukkan bahwa PTBA tidak lagi hanya bergantung pada harga komoditas, melainkan mulai mengandalkan diversifikasi pasar dan efisiensi sebagai kunci bertahan.
Meski harga global melemah, PTBA tetap mencatatkan kinerja keuangan yang relatif solid. Sepanjang 2025, perusahaan membukukan laba bersih sebesar Rp2,93 triliun dengan EBITDA mencapai Rp6,08 triliun.
Baca Juga: PTBA Akselerasi Transformasi PETI: Dari Aktivitas Ilegal Menuju Motor Ekonomi Desa Berkelanjutan
Yang menarik, arus kas operasi justru melonjak 24 persen menjadi Rp6,26 triliun—indikasi kuat bahwa fundamental bisnis perusahaan masih sehat.
Total aset perusahaan juga meningkat menjadi Rp43,92 triliun, didorong oleh investasi strategis, termasuk pengembangan infrastruktur angkutan batu bara relasi Tanjung Enim–Kramasan.
Realisasi belanja modal (capex) mencapai Rp4,55 triliun, yang difokuskan pada penguatan rantai pasok jangka panjang.
Target 2026: Lebih Agresif
Memasuki 2026, PTBA tidak mengendurkan langkah. Perusahaan menargetkan produksi dan penjualan sebesar 49,5 juta ton.
Strategi cost leadership tetap menjadi andalan, termasuk melalui selective mining dan optimalisasi rantai pasok.
Berita Terkait
-
Penumpang Kereta di Sumsel Naik 15 Persen, Tembus 296 Ribu, Ini Penyebabnya
-
Nasabah Setia Bank Sumsel Babel Lubuklinggau Dapat Kejutan Mobil Toyota Rush
-
Rp8,68 Miliar untuk Rumah Dinas DPRD Sumsel di 2026, Apa Pertimbangan di Baliknya?
-
Awal Bulan, Momentum Tepat Upgrade Lemari dengan Promo Spesial Bank Sumsel Babel
-
ASN Sumsel WFH Tiap Jumat, Enak atau Justru Jadi Ujian Disiplin?
Terpopuler
- Megawati: Saya Dipanggil Polisi 3 Kali, Diperiksa Jaksa Sampai Malam
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- Besok, Front Mahasiswa UI hingga IPB Siap Gelar Aksi 'Merebut Kemerdekaan' di Jakarta
- Sunscreen Apa yang Bisa Memudarkan Flek Hitam di Wajah? Ini 9 Rekomendasi Terbaiknya
- PJJ Jakarta 18 Agustus 2026 Besok: Berlaku untuk Sekolah Negeri-Swasta, ASN Boleh WFH 50 Persen
Pilihan
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
Terkini
-
5.990 PPPK di Sumsel Masih Menunggu Kepastian, Harapan Jadi Penuh Waktu Tergantung Anggaran
-
PHR Zona 4 Perkuat Budaya HSSE, Keselamatan Kerja Jadi Prioritas Operasi Hulu Migas
-
HUT RI ke-81, Mitra Grab Palembang Rayakan Semangat Gotong Royong Bersama 810 Mitra
-
Pemkot Palembang Tak Lagi Menanggung 5.502 Guru PPPK, Ini Dampaknya bagi APBD
-
PTBA Perkuat Transformasi Digital dan Tata Kelola melalui Integrasi Sistem 1MINDER SAP