Tasmalinda
Rabu, 14 Januari 2026 | 22:26 WIB
keributan guru di SMK di Jambi
Baca 10 detik
  • Pada Selasa (13/1/2026), terjadi keributan antara guru Agus Saputra dan siswa di SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi.
  • Guru Agus mengakui menampar siswa karena emosi saat menegakkan disiplin, namun siswa menuduh ada penghinaan "miskin."
  • Agus Saputra dilaporkan sempat mengacungkan celurit untuk membubarkan kerumunan siswa yang disebut telah mengeroyoknya.

SuaraSumsel.id - Suasana belajar di SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi, mendadak berubah mencekam pada Selasa (13/1/2026). Seorang guru bernama Agus Saputra terlibat keributan dengan sejumlah siswanya di lingkungan sekolah saat jam pelajaran masih berlangsung.

Insiden itu menjadi perhatian publik setelah beredar kabar bahwa Agus sempat dikeroyok oleh siswa. bahkan mengacungkan sebilah celurit untuk membubarkan kerumunan yang semakin tak terkendali.

Menurut penuturan Agus, kejadian bermula dari upayanya menegakkan disiplin di kelas. Ia menegur seorang siswa yang berteriak menggunakan kata-kata tidak pantas. Namun, ketika diminta mengakui perbuatannya, siswa tersebut justru menantang.

“Dalam kondisi refleks saya menampar. Itu murni karena emosi sesaat, bukan niat menyakiti,” ujar Agus. Ia menegaskan tindakannya dilakukan sebagai bentuk penegakan disiplin, bukan kekerasan.

Namun, versi berbeda datang dari pihak siswa. Mereka menuding Agus sempat menghina murid dengan sebutan “miskin”, yang memicu kemarahan. Tuduhan tersebut dibantah keras oleh Agus.

“Saya tidak menghina. Yang saya sampaikan itu konteks motivasi. Saya bilang, ‘kalau kita kurang mampu, kalau bisa jangan bertingkah macam-macam’. Itu untuk menyadarkan, bukan merendahkan,” jelasnya.

Upaya mediasi sempat dilakukan di lingkungan sekolah, namun tidak mencapai kesepakatan. Situasi justru memanas setelah Agus menuju ruang guru. Ia mengaku dikeroyok oleh beberapa siswa hingga mengalami memar di sejumlah bagian tubuh.

Keributan berlanjut hingga sore hari, bahkan disertai lemparan batu di area sekolah. Dalam kondisi terdesak, Agus mengakui sempat mengacungkan celurit. Ia menegaskan senjata tajam itu hanya sebagai gertakan agar para siswa membubarkan diri.

“Saya tidak menyerang siapa pun. Itu hanya untuk menakuti supaya mereka berhenti dan bubar,” katanya.

Baca Juga: Gebyar Kredit Serbaguna Bank Sumsel Babel, Ajukan Kredit Langsung Bawa Pulang Hadiah

Atas insiden tersebut, Agus telah melaporkan kejadian itu ke Dinas Pendidikan Provinsi Jambi. Pihak sekolah dan dinas terkait diharapkan segera turun tangan untuk mengusut peristiwa ini secara menyeluruh, mengingat kasus ini menyangkut keselamatan, wibawa pendidik, serta iklim pendidikan di lingkungan sekolah.

Kasus ini pun memantik diskusi publik tentang batas penegakan disiplin di sekolah, perlindungan guru, serta hak-hak siswa, sebuah persoalan lama yang kembali mencuat dengan wajah baru.

Load More