- Ratusan sopir truk FKPSSB berunjuk rasa di kantor Gubernur Sumsel menuntut ketersediaan akses solar subsidi.
- Para sopir memprotes pembatasan kuota pembelian solar dan praktik pungutan liar di jalur angkutan.
- Pemprov Sumsel berjanji menindaklanjuti dengan rapat bersama *stakeholder* dalam dua minggu ke depan.
SuaraSumsel.id - Suasana halaman kantor Gubernur Sumsel mendadak memanas. Ratusan sopir truk dari berbagai daerah berkumpul, membentangkan spanduk dan menyuarakan tuntutan mereka dengan suara lantang. Mereka datang bukan untuk membuat keributan, tetapi untuk menuntut sesuatu yang mereka anggap sebagai urat nadi kehidupan: akses solar subsidi.
Para sopir yang tergabung dalam Forum Komunikasi Pengemudi Sumatera Selatan Bersatu (FKPSSB) mengaku sudah kehabisan kesabaran sejak aturan baru pengaturan solar diberlakukan. Solar yang dulu mudah dibeli kini hanya tersedia di SPBU tertentu pada waktu terbatas.
Di atas kertas SPBU disebut buka 24 jam, namun di lapangan banyak sopir mengaku pasokan solar kosong dan antrean panjang menjadi pemandangan sehari-hari.
Keluhan lain datang dari pembatasan kuota pembelian solar subsidi. Sopir truk roda empat hanya boleh membeli senilai Rp200 ribu, sementara roda enam dibatasi Rp400 ribu. Mereka menganggap pembatasan ini tidak cukup untuk menunjang operasional, terutama sopir jarak jauh yang bekerja hingga tengah malam. Banyak truk akhirnya mangkrak di jalan raya, pekerjaan tertunda, sementara kebutuhan keluarga terus berjalan.
Aksi protes juga menyinggung masalah pungli dan premanisme di sejumlah titik jalur angkutan barang. Para sopir menyebut situasi ketidakpastian solar memunculkan oknum yang memanfaatkan keadaan. Ada yang harus membayar agar dapat antre lebih cepat, ada pula yang terpaksa membeli solar eceran dengan harga jauh lebih tinggi karena tidak ingin kehilangan orderan.
Kedatangan massa sopir truk hari itu langsung menarik perhatian jajaran pemerintah provinsi. Setelah perwakilan massa menyampaikan aspirasi, pihak Pemprov Sumsel menyatakan akan menindaklanjuti tuntutan para sopir. Pemerintah berjanji mengadakan rapat pembahasan bersama stakeholder terkait dalam dua minggu ke depan, termasuk penyedia BBM, perwakilan sopir, dan aparat keamanan.
Namun para sopir menegaskan bahwa janji bukan satu-satunya yang mereka harapkan. Mereka ingin perubahan nyata. Mereka ingin kepastian bahwa solar subsidi benar-benar tersedia 24 jam tanpa batasan kuota yang memberatkan. Mereka ingin kebijakan yang memihak pekerja lapangan, bukan sekadar peraturan yang terlihat ideal di kertas tetapi menghancurkan penghidupan di dunia nyata.
Salah satu sopir bahkan berteriak di tengah kerumunan, suaranya menggetarkan barisan massa. “Kalau truk tidak jalan, barang tidak sampai. Kalau barang tidak sampai, industri berhenti. Kalau industri berhenti, ekonomi lumpuh. Tapi kenapa kami yang terpenting justru paling dipersulit?”
Aksi besar ini menjadi pengingat bahwa transportasi darat adalah tulang punggung distribusi barang di Sumatera Selatan. Kelangkaan solar bukan hanya masalah sopir, tetapi juga menyangkut harga kebutuhan pokok, kelancaran logistik, hingga stabilitas ekonomi daerah.
Baca Juga: Yuk Merapat! Bank Sumsel Babel Hadir di Pagar Alam Coffee Festival 2025
Semua mata kini tertuju pada pemerintah provinsi. Mampukah aspirasi para sopir benar-benar diakomodasi? Akankah aturan solar direvisi demi keadilan bagi pekerja angkutan barang? Publik masih menunggu, dan para sopir menyatakan siap kembali turun ke jalan jika kebutuhan mereka tetap diabaikan.
Tag
Berita Terkait
-
Kemana Mengalir Dana 99 Proyek Fiktif di Palembang? Publik Tunggu Nama Penerima Dana Sebenarnya
-
Yuk Merapat! Bank Sumsel Babel Hadir di Pagar Alam Coffee Festival 2025
-
Bank Sumsel Babel Hadirkan Layanan Syariah di Tugumulyo OKI, Akses Keuangan Kini Lebih Dekat
-
Bank Sumsel Babel & Pemprov Sumsel Bersatu Bantu Korban di Aceh, Sumut, dan Sumbar
-
Borong Penghargaan Nasional, HLM Sumsel-BI Mantapkan Roadmap Stabilitas Harga 2026
Terpopuler
- Masuk Red Notice Interpol, Erick Soedjasa Ditangkap Bareskrim di Bandara Juanda
- 5 Sabun Mandi Vitamin C Terbaik untuk Mencerahkan Kulit Belang, Lengkap dengan Review Pengguna
- Daftar Shio yang Paling Tidak Cocok dengan Shio Macan dalam Bisnis dan Asmara
- Arti Weton Bumi Kapetak Menurut Primbon Jawa: Karakter Tangguh dan Tahan Banting Menuju Sukses
- Gubernur Sulsel Telepon Langsung Pemilik SPBU
Pilihan
-
Pakar UNS Soroti Pemangkasan Anggaran Kebencanaan: Negara Kita Suka Kejadian Dulu Baru Dikaji!
-
Catat! Jadwal Resmi Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026: Lawan Malaysia di SUGBK
-
Rp11 Triliun Disiapkan untuk Isi Rekening Massal, Seorang Dapat Berapa?
-
Harusnya Bisa Kenyang dan Sehat, 230 Siswa di Pati Malah Keracunan Usai Santap MBG
-
Drone Thermal Dikerahkan, SAR Perluas Pencarian 5 Jurnalis Hilang di Perairan Anak Krakatau
Terkini
-
CIP Award 2026, Wadah PTBA Ubah Gagasan Jadi Solusi Nyata
-
Sultan Muda Goes to OKU Timur, Dorong UMKM Melek Keuangan dan Akses Pembiayaan
-
Pertamina Patra Niaga Kilang Plaju Peduli Masyarakat Sungai Rebo, Salurkan PMT dan Edukasi Parenting
-
Rumah BUMN Bukit Asam Dorong Kreativitas Masyarakat lewat Pelatihan Lilin Aromatik Bernilai Usaha
-
Paket Pernikahan Ciatok di Wyndham Opi Hotel Palembang Mulai Rp4,8 Juta per Meja