-
Inflasi Sumatera Selatan pada Oktober 2025 tercatat sebesar 0,13 persen.
-
Kenaikan harga emas perhiasan, telur ayam, dan daging ayam menjadi penyumbang utama inflasi.
-
Bank Indonesia dan TPID Sumsel menjaga stabilitas harga melalui operasi pasar dan penguatan ketahanan pangan.
SuaraSumsel.id - Provinsi Sumatera Selatan kembali menunjukkan ketahanan ekonominya di tengah tekanan harga komoditas strategis. Bank Indonesia (BI) Provinsi Sumatera Selatan mencatat inflasi sebesar 0,13 persen (mtm) pada Oktober 2025, menurun dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 0,27 persen.
Meski secara tahunan inflasi meningkat tipis dari 3,44 persen menjadi 3,49 persen (yoy), angka ini masih dalam rentang sasaran inflasi nasional sebesar 2,5±1 persen.
Kepala Perwakilan BI Sumatera Selatan Bambang Pramono menyampaikan bahwa capaian tersebut menunjukkan kestabilan harga di tengah dinamika ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian.
Menurutnya, peningkatan inflasi tahunan yang sejalan dengan tren nasional bukanlah sinyal pelemahan, melainkan konsekuensi logis dari meningkatnya aktivitas ekonomi di daerah.
“Inflasi Sumatera Selatan masih dalam batas aman. Kami terus memastikan stabilitas harga dengan memperkuat sinergi antara Bank Indonesia, pemerintah daerah, dan pelaku usaha,” ujar Bambang di Palembang, Kamis (7/11/2025).
Inflasi bulan Oktober terutama dipicu oleh naiknya harga emas perhiasan, telur ayam ras, dan daging ayam ras. Emas memberikan andil tertinggi terhadap inflasi bulanan sebesar 0,15 persen, diikuti telur ayam ras sebesar 0,06 persen, serta daging ayam ras sebesar 0,05 persen.
Kenaikan harga emas terjadi seiring ketidakpastian ekonomi global yang mendorong masyarakat memilih emas sebagai aset lindung nilai. Sementara kenaikan harga ayam dan telur disebabkan meningkatnya biaya pakan serta distribusi yang belum sepenuhnya pulih.
Bambang menambahkan, tekanan tambahan juga datang dari komoditas hortikultura seperti wortel dan ketimun akibat terganggunya pasokan karena curah hujan tinggi di sejumlah sentra produksi. Ia menegaskan, faktor cuaca memang masih menjadi variabel penting dalam pengendalian harga pangan di Sumatera Selatan.
Menjelang akhir tahun, BI memperkirakan masih ada potensi tekanan inflasi baru seiring meningkatnya konsumsi masyarakat pada periode Natal dan Tahun Baru 2026. Kondisi musim hujan yang berbarengan dengan masa tanam padi dan hortikultura juga bisa berpengaruh pada produktivitas. Untuk mengantisipasi hal itu, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sumatera Selatan memperkuat strategi pengendalian inflasi berbasis empat pilar: keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.
Baca Juga: Rayakan HUT ke 68, Bank Sumsel Babel Hadirkan 5 Transformasi Lewat Semangat Change to Accelerate
Upaya konkret yang dilakukan antara lain melalui operasi pasar murah, gerakan pangan murah, dan koordinasi dengan Perum Bulog untuk memperlancar distribusi beras SPHP.
TPID juga menggencarkan penyaluran bahan pangan melalui Toko KePo (Kebutuhan Pokok), Rumah Pangan Kita, dan Toko Penyeimbang milik Perumda Pasar Palembang Jaya.
Selain itu, sidak ke pasar dan distributor dilakukan secara berkala, termasuk di Pasar Induk Jakabaring, guna memastikan harga sesuai ketentuan dan stok tersedia dalam jumlah cukup.
Untuk memperkuat pasokan antarwilayah, TPID Sumatera Selatan juga menjalin kerja sama dengan sejumlah daerah di Sumatera Barat. Kerja sama tersebut diwujudkan melalui pengiriman 14 ton bawang merah dari Kabupaten Solok ke Kota Palembang pada akhir Oktober lalu.
Bagi Bambang, kerja sama semacam ini bukan sekadar pengiriman komoditas, tetapi strategi penting membangun ekosistem pangan yang saling menopang antar daerah.
Selain menjaga pasokan jangka pendek, Sumatera Selatan juga menguatkan ketahanan pangan melalui Gerakan Sumsel Mandiri Pangan (GSMP) 2025. Program ini digerakkan dengan tiga inisiatif utama: GSMP Menyapa Lingkungan Desa (Menyala), GSMP Goes to Panti Sosial, dan GSMP Goes to Office.
Tag
Berita Terkait
-
Rayakan HUT ke 68, Bank Sumsel Babel Hadirkan 5 Transformasi Lewat Semangat Change to Accelerate
-
Konsorsium Pelabuhan Tanjung Carat Resmi Terbentuk, tapi Bisakah Tetap Jaga Mangrove?
-
HUT ke 68 Bank Sumsel Babel, Jajan Cuma Rp68 Pakai QRIS BSB Mobile
-
Daftar Tunggu Masih Panjang, Tapi Kuota Haji Sumsel 2026 Naik Jadi 5.895 Orang
-
5 Fakta Kinerja Tangguh Bank Sumsel Babel, Pertahankan Peringkat idA+ dari PEFINDO
Terpopuler
- 6 HP Samsung Rp2 Jutaan Terbaik: Kamera Tajam, NFC hingga Koneksi 5G
- 7 Lukisan Pembawa Hoki Menurut Feng Shui untuk Dipajang di Ruang Tamu
- 3 HP Infinix Memori 256 GB dan NFC Harga Rp1 Jutaan, Solusi Multitasking hingga Gaming
- 12 Sepeda Gunung United Detroit Lengkap dengan Harga dan Spesifikasinya
- 5 Rekomendasi Rice Cooker Digital, Nasi Tetap Pulen hingga 48 Jam
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Jatuh dari Tongkang di Sungai Baung OKI, Dua Korban Ditemukan Meninggal
-
Karhutla Dekati Runway Bandara Atung Bungsu, Penerbangan Pagar Alam Masih Normal?
-
Baru 2 Hari Direhab, Anak Mantan DPRD Muratara Kabur Usai Dobrak Pintu Yayasan
-
Program Cetak Sawah Berhadapan dengan Karhutla, Api Membakar Lahan di Muara Enim
-
Menyamar Jadi Polisi, Pria Ini Curi Susu di 6 Minimarket Palembang, Gunakan KTA Polri Palsu