SuaraSumsel.id - Dibukanya menara Jembatan Ampera sebagai destinasi wisata terbatas seakan menghidupkan kembali jejak sejarah yang tertanam kokoh di Palembang. Dari atas puncaknya, Sungai Musi membentang luas, menghamparkan panorama kota nan berdenyut dalam irama kehidupan dan warisan masa lalu.
Namun, di balik pesonanya, terselip kekhawatiran—akankah ikon berusia hampir 60 tahun mampu bertahan dari gelombang eksploitasi wisata?
Keputusan Pemerintah Kota Palembang untuk membatasi akses ke menara Ampera bukan sekadar kehati-hatian, tetapi bentuk penghormatan terhadap nilai historisnya. Sebuah mahakarya yang lahir dari diplomasi alot Presiden Soekarno, Ampera bukan hanya jembatan, melainkan monumen yang berdiri di atas kisah perjuangan dan pengorbanan.
Tak heran, para pegiat sejarah berharap, wisata di menara ini tetap berpegang pada prinsip pelestarian, bukan sekadar daya tarik komersial belaka. Jembatan Ampera telah menjadi saksi perjuangan rakyat hingga dinamika politik yang mengubah namanya.
Kini, menara jembatan itu akan dibuka bagi segelintir orang terpilih—sebuah simbol penghormatan bagi mereka yang berprestasi. Namun, dalam langkah penuh kehati-hatian ini, tersirat harapan bahwa kejayaan Ampera tidak hanya dikenang dalam sejarah, tetapi tetap lestari di masa depan.
Balai Jalan wilayah Sumatera Selatan (Sumsel) juga disebutkan masih menunggu izin dari Kementerian Pekerjaan Umum (PU) atas pembukaan menara tower tersebut. Karena jembatan Ampera ialah infrastuktur yang berada dalam wewenang dari Pemerintah pusat, yakni Kementerian PU.
Pejabat (Pj) Wali Kota Palembang, Cheka Virgowansyah mengatakan pembukaan menara atau tower Ampera akan dilakukan terbatas dengan sistem undangan. "Kita akan invitasi (mengundang) dulu yang berprestasi, baik siswa dan mahasiswa yang berprestasi, guru berprestasi, RT berprestasi,” kata PJ Wali kota Palembang Cheka Virgowansyah kepada awak media.
Cheka juga memastikan jika puncak menara Ampera direncanakan akan dibuka satu minggu dua kali yakni pada hari Rabu dan Sabtu, pukul 10.00 WIB.
Pada setiap harinya, akan ada dua kali perjalanan dengan peserta paling banyak 15 orang. Pemerintah juga belum menetapkan tarif saat menaiki menara tower nantinya "Kami belum menentukan tarif naik, ini masih dikaji, jadi selama itu belum ada (tarif) sehingga masih gratis,” katanya.
Baca Juga: Melihat Palembang dari Atas! Tower Ampera Dibuka dengan Akses Terbatas
Wisata jembatan Ampera pun sebenarnya masih membutuhkan kajian mengenai aspek pelestarian sekaligus menjawab upaya pemerintah guna mendapatkan pendapatan asli daerah dari sektor ini.
Pemerintah juga hendaknya memnformulasikan wisata kota seperti yang berada di bagunan cagar budaya, seperti jembatan Ampera.
Sejarah Jembatan Ampera bermula dari sebuah diplomasi nan alot. Pada masa pemerintahan Presiden Soekarno, Indonesia bernegosiasi dengan Jepang untuk menuntut tanggung jawab moral dan material atas penjajahan di masa lalu.
Dari perundingan yang panjang dan penuh ketegangan, lahirlah kesepakatan yang akhirnya mengalirkan dana sebagai kompensasi atas kerusakan akibat prang. Dari dana itulah, Soekarno membangun Jembatan Ampera, sebuah proyek monumental yang diharapkan menjadi penghubung, bukan hanya secara fisik, tetapi juga sosial dan ekonomi bagi masyarakat Palembang.
Jembatan yang awalnya bernama Jembatan Soekarno ini membentang gagah di atas Sungai Musi, dengan panjang 1.100 meter dan lebar 22 meter. Lebih dari sekadar konstruksi baja dan beton, Jembatan Ampera adalah perwujudan tekad bangsa yang baru saja merdeka, membangun infrastruktur dengan teknologi canggih di saat itu.
Soekarno menginginkan jembatan ini menjadi lambang persatuan antara masyarakat hulu dan hilir, membawa kemudahan bagi rakyatnya, serta memperkuat identitas Palembang sebagai kota maritim yang sarat sejarah.
Tag
Berita Terkait
-
Melihat Palembang dari Atas! Tower Ampera Dibuka dengan Akses Terbatas
-
Festival Glowtopia Hadir di Palembang, Cahaya Aesthetic yang Wajib Dikunjungi
-
Air Tak Mengalir, Tagihan Warga Palembang Justru Bengkak hingga Rp700 Ribu
-
Mengenang Perang Lima Hari Lima Malam, Palembang Gelar Pameran Arsip Sejarah
-
Tanpa Aplikasi, Pemeriksaan Kesehatan Gratis Warga Palembang Berlaku Februari
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
Terkini
-
BRI Siap Optimalkan Likuiditas dari Dana SAL untuk Perkuat Kredit Produktif
-
Sebulan Beroperasi, KA Rajabasa Ekonomi Premium Layani 66.521 Penumpang, Hubungkan Sumsel-Lampung
-
Kasus Korupsi Lampu Jalan Palembang Merembet, Wali Kota dan Wawako Bisa Diperiksa
-
Ketimpangan Sumsel Makin Rendah, Tapi Jurang Pengeluaran Kota dan Desa Masih Terasa
-
Kemiskinan Sumsel Turun, Tapi 870 Ribu Warga Masih Hidup di Bawah Garis Miskin