SuaraSumsel.id - Pemerintah Provinsi atau Pemprov Sumatera Selatan terus gencar melaksanakan program mandiri pangan. Program yang mengajak masyarakat untuk mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangan lokal atau pangan keluarga.
Program yang diklaim sudah mampu menjaga harga pangan meski berlangsung selama setahun terakhir. Dalam sosialisasnya, Gubernur Herman Deru mengenalkan mandiri pangan ini semacam program mendorong pemanfaatan lahan sempit di perkarangan rumah untuk ditanami beragam kebutuhan pangan.
Beragam kebutuhan pangan yang dibutuhkan keluarga seperti sayur mayur, hingga kebutuhan protein lainnya seperti memelihara ikan dan beternak.
Mesti Sumsel sudah memiliki program mandiri pangan, harga cabai diprotes oleh kalangan ibu-ibu. Di Palembang misalnya, Nila Ertina, Ibu rumah tangga ini mengeluhkan membeli cabai hingga Rp120.000 per kilogram. Harga tinggi ini masih bertahan semenjak mendekati Idul Fitri lalu. "Sekarang sudah mau Idul Adha, harga masih tinggi, binggung juga," aku ia.
Bahkan untuk memenuhi kebutuhan pangan cabai, ia memilih mengurangi jumlah cabai yang biasa dikonsumsi. "Pilihannya irit dengan mengurangi, misalnya biasanya masak hambis setengah kilo, namun sekarang tidak sampai segitu," aku dia.
Gerakan mandiri pangan sendiri, diusulkan ia, butuh praktek bersama dengan pemerintah kota dan kabupaten.
Sementara petani cabai di Sumsel menilai, kenaikan harga cabai lebih disebabkan karena pasokan yang menurun. Petani cabai di Belitang Kabupaten Ogan Komering Uliu Timur (OKUT) Joni Ariyanto mengungkapkan jika penyebab harga naik karena pasokannya yang kian menurun.
Petani cabai keriting ini mengungkapkan jika terakhir kali menjual di harga Rp70.000 - Rp 80.000 per kilogram. Harga ini tertinggi sepanjang tiga tahun terakhir.
"Jika harganya Rp 120.000 per kilogram di pasar, atau di konsumen, sih wajar. Ini memang tertinggi sepanjaang tahun ini, atau sepanjang tiga tahun belakangan," ujarnya saat dihubungi Suara.com, Selasa (28/6/2022).
Baca Juga: Cuaca Hari Ini: Sumsel Hujan Sedang Pada Malam Hari
Dikatakan Joni, stok atau persediaan yang terbatas ini yang mendongkrak harga bisa tinggi. "Hukum pasar kan demikian, harga tinggi, karena pasokan menurun. Tidak banyak ada di pasaran," sambung dia.
Kenaikan harga ini, diakui petani dengan produksi 1 ton sekali panen membuat petani yang mempertahankan cabai menjadi senang. "Ya ini, hari-hari bagus juga bagi kami yang masih mempertahankan menanam cabai," ujar ia.
Sementara petani-petani lainnya, diakui Joni, telah beralih bertanam komoditas lainnya. "Misalnya nih ada yang ke sayur mayur, hortikultura atau tanaman yang lebih cepat. Sebenarnya bertanam cabai ini tidak begitu sulit, yang disertai perawatannya rutin. Petani cenderung mau instan sekarang," ujarnya.
Sementara melansir ANTARA, Gubernur Herman Deru mengatakan Sumsel menjadi daerah yang mampu menjaga ketahanan pangannya, atau tidak tergantung lagi dengan daerah lain.
"Para ibu dinilai menjadi ujung tombak dari keberhasilan program ini seperti adanya gerakan menanam cabai di dalam pot," ujar Gubernur Sumsel Herman Deru melansir ANTARA.
Tag
Berita Terkait
-
Keluarga Tahanan Tewas di Polres Empat Lawang Lapor Propam: Jasad Penuh Luka, Diduga Anggota Terlibat
-
Fakta-Fakta Tahanan Polres Empat Lawang Tewas: Ditangkap, Dianiaya, Tewas di Sel
-
Cuaca Hari Ini: Sumsel Hujan Sedang Pada Malam Hari
-
Pemerintah Tetapkan Idul Adha 1443 Hijriah 10 Juli, Muhammadiyah 9 Juli
-
Buntut Promosi Miras "Muhammad-Maria", Holywings Palembang Ditutup Sementara
Terpopuler
- Malaysia Tegur Keras Menkeu Purbaya: Selat Malaka Bukan Hanya Milik Indonesia!
- Lipstik Merek Apa yang Tahan Lama? 5 Produk Lokal Ini Anti Luntur Seharian
- 5 Pilihan Jam Tangan Casio Anti Air Mulai Rp100 Ribuan, Stylish dan Awet
- Warga 'Serbu' Lokasi Pembangunan Stadion Sudiang Makassar, Ancam Blokir Akses Pekerja
- 5 HP Infinix Rp3 Jutaan Spek Dewa untuk Gaming Lancar
Pilihan
-
Kopral Rico Pramudia Gugur, Menambah Daftar Prajurit TNI Korban Serangan Israel di Lebanon
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
-
Terungkap Jalur Gelap 10 Ton Pupuk Subsidi di Sumsel, Dijual ke Pihak Tak Berhak
Terkini
-
Laba Rp57,13 Triliun, BRI Salurkan Dividen Besar Kepada Pemegang Saham
-
Palembang Banjir Lagi di Hari Bumi 2026, Wali Kota Pernah Dinyatakan Bersalah Soal Banjir
-
Gawat! 3 Tahanan Narkoba Kabur dari Rutan Baturaja Usai Sidang, Lepas Borgol Pakai Kawat
-
Siapa Ferizka Utami? Sosok Asal Palembang di Balik Video Totok Daun Sirih pada Bayi Menangis
-
Aksi Jambret di Depan Palembang Icon Berujung Apes, Korbannya Ternyata Polisi