"Misalnya nanti, bisa juga berbagai upaya dan program pelestarian lebih banyak bisa dilaksanakan di candi ini. Kami pun berharap, perhatian pemerintah pusat bisa juga pada candi-candi seperti candi Bumi Ayu," ujar Kartika.
Untuk lebih mengenalkan nilai sejarah dan wisata di kawasan Candi Bumi Ayu, banyak kegiatan wisata yang dilakukan di kawasan tersebut. Misalnya akhir pekan nanti akan dilakukan pemilihan duta wisata kabupaten Pali di kawasan candi Bumi Ayu.
Meski jumlahnya tak sebanyak candi yang ada di Muara Dua, Provinsi Jambi. Namun Candi Bumiayu termasuk jenis candi unik karena mempunyai bentuk sudut bangunan dengan hiasan makhluk Ghana dari terakota, dan memiliki kemuncak bangunan berbentuk seperti lingga, antefiks, serta sebuah arca tanpa kepala.
Kemudian letaknya yang strategis dikelilingi tiga sungai batanghari, yakni batanghari Tebat Jambu, Lubuk Panjang, dan Piabung (Tebat Siku) menjadikan kawasan cagar budaya Candi Bumi Ayu sebagai pusat perdagangan dan transportasi pada masa Kerajaan Sriwijaya masih berkuasa.
Candi Bumi Ayu
Dari 12 bangunan candi yang ditemukan, 5 diantaranya telah digali dan dipugar ke permukaan tanah. Kelima reruntuhan bangunan candi berstruktur bata itu sesuai urutan pemugarannya dinamakan Candi 1 (tahun 1992), Candi 2 (tahun 2009), Candi 3 (tahun 1997), Candi 7 (tahun 2009), dan Candi 8 (tahun 2000).
Candi ini diperkirakan telah ada sejak abad 7-14 masehi. Sebenarnya Situs Candi yang memiliki luas sekitar 110 hektar (ha), dengan 75 hektar diantaranya masuk sebagai kawasan candi dan sisanya dimanfaatkan sebagai destinasi wisata cabar budaya.
Melansir timesIndonesia-jaringan Suara.com, di candi ini ditemukan arca Siwa, arca Dewa 1 dan arca Dewa 2, Arca Agastya, Relief bergambar Burung Kakak Tua, Peripih Nawasanga yang merupakan wadah benda persembahan pada dewa tertentu.
Selain itu, Kepala Kala yang ditemukan di Candi nomor 8 yang hanya ada di Candi Bumi Ayu. Kemudian Arca Singa, Arca Camundi, Arca Nandi, Arca Stambha, serta patung Lingga yang merupakan lambang Dewa Siwa. Dalam Agama Hindu berbentuk alat kelamin laki-laki serta Yoni sebagai perlambangan alat kelamin wanita sebagai perwujudan Shakti dan Dewi.
Baca Juga: 7 Kabupaten di Sumsel Ditetapkan Wilayah Rawan Karhutla Pada Tahun Ini
Lokasi Cagar Budaya Candi Bumiayu ini juga masih dikunjungi dan dijadikan tempat ritual ibadah dharma bhakti setiap Hari Raya Nyepi, oleh sebagian masyarakat perantau asal Bali.
Berita Terkait
-
7 Kabupaten di Sumsel Ditetapkan Wilayah Rawan Karhutla Pada Tahun Ini
-
Cuaca Hari Ini, 9 Juni 2022: Sumsel Hujan Sedang dan Lebat Hingga Malam Hari
-
Hanya Gegara Terpeleset Karena Pipis Anak, Suami di Palembang Pukul Kepala Istri Hingga Memar
-
Halo Warga Palembang, Hari Ini Distribusi PDAM Tirta Musi Mati 6 Jam
-
Ribuan Sapi di Palembang Terjangkit Penyakit Mulut dan Kaki, Obat Sulit Diperoleh
Terpopuler
- 3 Moisturizer Kolagen untuk Kulit Keriput Usia 45 ke Atas, Bikin Wajah Kencang Sesuai Review
- Guruh Soekarnoputra Sakit Apa? Wafat di Usia 73 Tahun usai Dirawat Intensif
- Transjakarta Resmi Hapus 3 Rute Bus Penghubung Rusun, Warga Diminta Pakai Rute Alternatif
- 5 Novel Sejarah untuk Menelusuri Jejak G30S/PKI, Jangan Lupakan Masa Lalu!
- Perbedaan Pompa Air Jet Pump vs Pompa Celup Submersible untuk Sumur Dalam, Mana yang Cocok?
Pilihan
-
Bayi Dua Hari Ditinggalkan dalam Kardus, Tangisnya Bongkar Misteri di Depan Rumah Warga
-
Tanpa Pengacara, WNI Didakwa Edarkan 25 Kg Heroin: Terancam Hukuman Mati di Malaysia
-
Dramatis! Ubed Persembahkan Medali Emas Asian Games 2026 untuk Indonesia
-
Massa Buruh Mulai Padati Thamrin, Andi Gani Pimpin Langsung Aksi Tuntut Keadilan RUU Ketenagakerjaan
-
Bawa Kentongan Hingga Kenakan Topi Caping, Massa Hari Tani Nasional Mulai Padati Depan Gedung DPR
Terkini
-
Di Balik Parkir Liar Palembang: Ada Bos, Setoran, hingga Klaim Ormas Pernah Masuk
-
Ketika Turbin Kembali Diharapkan Berputar, Rumah Kopi Pelakat Menunggu Energi dari Air
-
Spesial HUT ke-81 KAI, Pelanggan Cukup Bayar 81 Persen untuk Naik KA Sindang Marga
-
Karhutla Sumsel: 43 Orang Ditahan, 16 Korporasi Disidik, Tapi Hotspot Masih Muncul
-
Banpres Karhutla Rp100 Miliar Sudah Turun, Kenapa Asap Masih Kepung Palembang?