SuaraSumsel.id - Anggota Komisi II DPR RI Teddy Setiadi menilai penetapan jadwal pemilu pada 14 Februari 2024 oleh Pemerintah, DPR RI, dan Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI sepatutnya mengakhiri perdebatan isu penundaan Pemilu 2024.
“Sekarang, DPR dan Pemerintah sudah sepakat bahwa Pemilu 2024 dilakukan pada 14 Februari 2024. Sementara itu, Pilkada 2024 dilakukan pada 27 November 2024. Seharusnya, tidak ada lagi isu atau polemik yang menjadi hingar bingar di tengah masyarakat tentang penundaan pemilu atau perpanjangan masa jabatan presiden karena secara konstitusi sudah ada penetapan tanggal, bahkan telah disepakati Pemerintah, DPR RI, dan KPU RI,” ujar Teddy Setiadi.
Hal tersebut saat menjadi pembicara dalam diskusi virtual Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Legislative Corner bertajuk “Bersiasat Tunda Pemilu: Untuk Kepentingan Siapa?”, seperti dipantau di Jakarta, Jumat.
Teddy mengungkapkan keprihatinannya terkait isu penundaan Pemilu 2024 yang disuarakan sejumlah pihak.
Segenap bangsa Indonesia menjelang Pemilu 2024 seharusnya menyerukan ajakan untuk berkontestasi secara baik.
“Terkadang, saya merasa sedih karena seharusnya (segenap bangsa Indonesia) menyerukan, ‘ayo kita berkontestasi untuk 2024’. Kalau ada persoalan-persoalan lain terkait dengan pemilu, itu bisa dibicarakan,” kata Teddy.
Ia memandang tidak ada alasan yang dapat dibenarkan untuk menunda Pemilu 2024.
Sejumlah pihak yang mengatakan Pemilu 2024 perlu ditunda karena masyarakat masih dihadapkan pada kondisi pandemi COVID-19, paparnya, alasan tersebut tidak sesuai dengan keberhasilan Indonesia menyelenggarakan Pilkada 2020.
“Pilkada serentak di 270 kota dan kabupaten, termasuk beberapa provinsi pada Desember 2020 dilakukan di masa pandemi COVID-19. Sebetulnya, tidak ada alasan menunda Pemilu 2024. Kalau kemudian alasannya biaya yang mahal, sebagaimana merujuk pada konstitusi, memang demokrasi yang kita lakukan ada biaya yang harus dikeluarkan. Tinggal, bagaimana kita melakukan efisiensi karena tidak mungkin pemilu dan pilkada serentak tanpa biaya,” ujar Teddy. (ANTARA)
Baca Juga: Bisnis KTP, Ijazah dan SIM Palsu di Sumsel Terbongkar, Selembar KTP Palsu Dinilai Rp300.000
Tag
Berita Terkait
-
Beredar Surat Undangan Rakor Kemenkopolhukam - KPU, Analis: Pertanda Isu Penundaan Pemilu Bukan Isapan Jempol
-
Pengamat: Penundaan Pemilu 2024 Merupakan Pengkhianatan Reformasi Total
-
Hasil Survei, Mayoritas Masyarakat Lampung Tolak Penundaan Pemilu 2024
-
Pengamat Politik UNEJ: Penundaan Pemilu Sebagai Penghianatan Terhadap Reformasi
-
Beredar Surat Kemenko Polhukam soal Rakor Penundaan Pemilu, Begini Jawaban Mahfud MD
Terpopuler
- Korupsi Rp18,7 Miliar, Wakil Bupati Indramayu Resmi Ditahan, Lucky Hakim Masih Bungkam
- 5 Rekomendasi Sepatu untuk Jalan Kaki 20 Ribu Langkah, Empuk dan Tidak Cepat Pegal
- Cetak 6 Gol dalam 6 Laga Bersama Persija, Shin Tae-yong Angkat Topi untuk Alexander Jeremejeff
- Cara Menggunakan Minyak Zaitun Mustika Ratu untuk Wajah dan Rambut
- Bisakah Bedak Marcks dan Air Mawar Viva untuk Mengunci Makeup? Begini Caranya
Pilihan
-
Prabowo Tak Takut Ancaman MSCI, OJK: Kita Tetap Usaha Jadi Emerging Market
-
Pasar Bergejolak, Kapan Waktunya Beli, Tahan, atau Jual Saham?
-
Aktivis Greenpeace: Kalau Rakyat Menanggung Semua Krisis Sendiri, Apa Kerja Pemerintah?
-
Polisi Bunuh Polisi karena Bully, Bharatu Valdo 4 Kali Didor dan Digorok Junior
-
Kamaruddin Simanjuntak Pengacara Brigadir J Meninggal Dunia di RS Pelni
Terkini
-
Kabut Asap Kembali Selimuti Palembang, 4 Wilayah Catat Kualitas Udara Berbahaya
-
Karhutla Sumsel: 20 Korporasi Masuk Penyidikan, Identitas 4 Perusahaan Baru Belum Dibuka
-
KMP Batumandi Terbakar di Merak, 4 ASN Ogan Ilir Hendak Konsultasi ke BKN dan Kemendagri
-
Bobby Rizaldi Disebut dalam Dakwaan Suap Rp500 Juta, Temuan BPK Muara Enim Turun Jadi Rp2,32 Miliar
-
Ngaku Pegawai Kemenkumham, Pria di Palembang Tipu Korban Rp250 Juta demi Lulus CPNS