Tasmalinda
Jum'at, 27 Februari 2026 | 15:42 WIB
Kepergian Alex Noerdin juga disampaikan di aplikasi Roblox
Baca 10 detik
  • Pemain Roblox berkumpul di replika Bundaran Sekayu pada Rabu, 25 Februari 2026, untuk berduka atas kepergian Alex Noerdin.
  • Aktivitas virtual ini menunjukkan ruang digital berfungsi sebagai tempat ekspresi solidaritas dan memori kolektif generasi muda.
  • Fenomena ini menggarisbawahi bahwa dunia virtual kini menjadi ruang sosial tempat peristiwa nyata memicu reaksi kolektif.

SuaraSumsel.id - Kepergian Alex Noerdin pada Rabu, 25 Februari 2026, bukan hanya menjadi perbincangan di ruang-ruang publik dan media sosial. Gelombang duka itu bahkan menjalar hingga ke dunia virtual.

Di platform gim Roblox, sejumlah pemain terlihat “berkumpul” di sebuah map yang menampilkan Bundaran Sekayu, Musi Banyuasin. Lokasi yang biasa menjadi titik temu warga di dunia nyata itu kini hadir dalam versi digital, dan mendadak dipenuhi avatar yang berdiri berjejer.

Sebagian menuliskan pesan seperti “Turut berduka cita” dan “Terima kasih atas pengabdiannya untuk Sumsel”. Ada pula yang memilih diam, membiarkan karakter mereka berdiri sebagai simbol penghormatan.

Bundaran Sekayu dikenal sebagai salah satu ikon Kabupaten Musi Banyuasin. Dalam versi Roblox, area tersebut direka ulang menyerupai kondisi aslinya, lengkap dengan jalan melingkar dan ruang terbuka di tengahnya.

Di titik itulah para pemain berkumpul. Tangkapan layar dan potongan video momen tersebut beredar cepat di media sosial, memancing reaksi warganet. Banyak yang menyebutnya sebagai bentuk empati generasi muda yang mengekspresikan duka dengan cara mereka sendiri.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana peristiwa di dunia nyata kini dapat merambat cepat ke ruang digital, bahkan ke platform gim yang identik dengan anak-anak dan remaja.

Bagi generasi muda, dunia virtual bukan sekadar tempat bermain, tetapi juga ruang sosial. Roblox memungkinkan pemain menciptakan kota, sekolah, hingga replika lokasi nyata. Fitur percakapan dan interaksi membuatnya menjadi medium berkumpul yang fleksibel.

Ketika kabar wafatnya Alex Noerdin menyebar, sebagian pemain memilih cara yang berbeda untuk menyampaikan duka — bukan lewat karangan bunga atau spanduk fisik, melainkan lewat avatar dan pesan digital.

Di tengah perkembangan teknologi, batas antara dunia nyata dan dunia virtual semakin tipis. Ruang digital kini menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat.

Baca Juga: Innalillahi, Mantan Gubernur Sumsel Alex Noerdin Meninggal Dunia di Jakarta

Sementara prosesi penghormatan di dunia nyata berlangsung dengan khidmat, di dunia maya tercipta suasana sunyi versi digital. Server gim yang biasanya riuh oleh permainan dan percakapan santai, sejenak berubah menjadi ruang refleksi.

Peristiwa ini menjadi cerminan bagaimana generasi sekarang membangun solidaritas. Bagi mereka, berkumpul tidak selalu berarti hadir secara fisik. Dunia virtual pun bisa menjadi tempat berbagi rasa.

Apa Itu Roblox?

Roblox adalah platform gim daring yang memungkinkan pengguna membuat dan memainkan berbagai permainan dalam satu ekosistem virtual. Diluncurkan pada 2006, Roblox populer di kalangan anak-anak dan remaja karena memberi kebebasan membangun dunia mereka sendiri.

Di dalamnya, pemain bisa menciptakan map kota, taman, atau lokasi nyata seperti Bundaran Sekayu. Dengan fitur obrolan dan interaksi sosial, Roblox kerap menjadi ruang berkumpul komunitas secara digital.

Peristiwa ini memperlihatkan bagaimana ruang sosial telah bergeser. Roblox yang selama ini merupakan platform bermain dan berkreasi ternyata juga berfungsi sebagai tempat interaksi sosial yang serius.

Para pemain tidak hanya membangun kota dan menjalankan misi permainan, tetapi juga membangun memori kolektif. Dalam konteks kepergian tokoh publik seperti Alex Noerdin, ruang virtual berubah menjadi tempat refleksi.

Bagi generasi Z dan Alpha yang tumbuh bersama internet, dunia digital bukan sekadar hiburan. Ia adalah ruang pertemanan, ruang diskusi, sekaligus ruang ekspresi emosional.

Bundaran Sekayu versi Roblox menjadi simbol bagaimana batas antara dunia nyata dan digital semakin tipis. Ketika kabar wafat menyebar, respons tidak hanya muncul di media konvensional, tetapi juga di ruang-ruang kreatif yang diciptakan pengguna. Hal ini menunjukkan bahwa budaya memorial telah berevolusi mengikuti perkembangan teknologi.

Fenomena tersebut juga menjadi cerminan perubahan cara masyarakat membangun solidaritas. Dunia gim yang biasanya riuh dengan aktivitas dan percakapan santai sejenak berubah menjadi ruang hening yang sarat makna.

Di tengah perkembangan teknologi yang terus melaju, peristiwa ini mengingatkan bahwa duka dan penghormatan tidak lagi terbatas pada ruang fisik. Mereka kini juga hidup di dunia virtual, tercatat dalam server dan memori digital para pemainnya.

Load More