- Lembaga ICRAF mendampingi petani Desa Ganesha Mukti mengelola lahan gambut tanpa membakar sejak Juli 2024.
- Petani menerapkan teknik hugelkultur, pupuk organik, dan agroforestri untuk menjaga kesuburan tanah gambut secara berkelanjutan.
- Pembentukan Tim Petani Pelopor pada Mei 2025 memperluas penyebaran praktik pertanian ramah lingkungan kepada warga.
Kebun belajar yang tumbuh di lahan petani
Praktik pengelolaan lahan tersebut dapat dilihat melalui kebun belajar yang dikembangkan di lahan milik Tuwon. Kebun ini mulai ditanami pada Juli 2024 dan menjadi salah satu ruang belajar bagi petani untuk mencoba teknik budidaya yang sesuai dengan karakter lahan setempat.
Berbagai tanaman buah dikembangkan di kebun tersebut, antara lain durian, mangga, alpukat, manggis, jambu kristal, dan kelengkeng.
“Di antara tanaman tahunan itu, petani juga menanam tanaman pangan seperti kacang panjang dan talas,” ujarnya.
Baca Juga:Dosen Unsri Kembangkan Laboratorium Hidup Biomassa Sebagai Sumber Ekonomi Desa Ganesha Mukti
Pola tanam yang beragam menjadi bagian dari praktik agroforestri, yakni mengombinasikan tanaman kehutanan atau tahunan dengan tanaman pangan dalam satu kawasan.
“Dengan pola tersebut, lahan tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan satu jenis komoditas,
Kebun belajar juga memperlihatkan bagaimana teknik hugelkultur diterapkan untuk menyesuaikan kondisi lahan. Petani dapat mengamati proses pertumbuhan tanaman, mempelajari pengelolaan media tanam, sekaligus bertukar pengalaman mengenai jenis tanaman yang berpotensi dikembangkan.
Keberadaan kebun ini penting karena pengetahuan pertanian lebih mudah dipahami ketika petani dapat melihat dan mencoba langsung. “Pengalaman dari satu lahan dapat menjadi bahan pembelajaran bagi anggota kelompok lainnya,” sambung Tuwon.
Upaya membangun pertanian tanpa membakar tidak berhenti pada satu kebun atau kelompok. Pada Mei 2025, dibentuk Tim Petani Pelopor dan Petani Penggerak Cerdas Iklim (TP2CI) yang melibatkan 20 petani pelopor dari Desa Ganesha Mukti dan Desa Daya Murni.
Baca Juga:Dari Pekarangan ke Pasar, Perempuan Ganesha Mukti Membangun Kemandirian Pangan
Para petani tersebut mendapatkan penguatan kapasitas, termasuk melalui kegiatan Training of Trainers. Mereka diharapkan dapat membagikan pengetahuan dan pengalaman kepada petani lain di lingkungan masing-masing.
Model pembelajaran antar petani ini menjadi penting bagi keberlanjutan praktik pertanian ramah gambut. Perubahan tidak hanya bergantung pada kehadiran pendamping, tetapi juga pada kemampuan warga untuk saling mengajarkan dan menerapkan pengetahuan yang sudah diperoleh.
Melalui kelompok belajar, kebun percontohan, dan petani pelopor, praktik pengelolaan lahan tanpa membakar memiliki ruang untuk berkembang lebih luas.
“Petani tidak hanya menjadi penerima pelatihan, tetapi juga dapat berperan sebagai penggerak perubahan di desanya.” Pungkas Tawon.
Pada akhirnya, menjaga lahan gambut tetap produktif membutuhkan cara pandang yang lebih panjang. Lahan bukan hanya tempat menanam dan memanen, melainkan ekosistem yang perlu dirawat agar tetap memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat.
Pengalaman Ganesha Mukti memperlihatkan bahwa langkah menuju pertanian tanpa bakar dapat dimulai dari perubahan praktik di tingkat petani. Dari kebun belajar milik warga, pengetahuan itu kemudian dibagikan kepada kelompok lain. Harapannya, semakin banyak petani yang mampu mengelola lahan secara produktif tanpa harus menggunakan api hingga menghasilkan asap racun.