- Lembaga ICRAF mendampingi petani Desa Ganesha Mukti mengelola lahan gambut tanpa membakar sejak Juli 2024.
- Petani menerapkan teknik hugelkultur, pupuk organik, dan agroforestri untuk menjaga kesuburan tanah gambut secara berkelanjutan.
- Pembentukan Tim Petani Pelopor pada Mei 2025 memperluas penyebaran praktik pertanian ramah lingkungan kepada warga.
SuaraSumsel.id - Sementara adopsi teknologi masih terbatas, mengelola lahan gambut tanpa membakar bukan perkara mudah bagi petani. Karakter tanah yang memiliki tingkat kesuburan terbatas, perubahan cuaca, serta ancaman kekeringan membuat warga perlu mencari cara agar lahan tetap produktif tanpa harus mengandalkan api saat membuka atau membersihkannya.
Di Desa Ganesha Mukti, Kecamatan Muara Sugihan, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, upaya mengelola lahan gambut tanpa membakar mulai dibangun melalui pendampingan lembaga riset International Center for Research in Agroforestry (ICRAF).
Melalui program tersebut, petani diperkenalkan pada praktik pertanian yang lebih ramah terhadap ekosistem gambut, mulai dari pengolahan tanah, pemanfaatan bahan organik, hingga pembuatan bedengan khusus yang disesuaikan dengan karakteristik lahan.
Fasilitator ICRAF, Syamsul, mengungkapkan bahwa pendampingan tersebut turut mendorong perubahan cara warga mengelola lahan. Berdasarkan pengamatannya, warga tidak lagi ditemukan membakar lahan ketika membuka area pertanian. Perubahan ini menjadi salah satu gambaran tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk mengelola lahan gambut secara lebih bijak tanpa mengandalkan api.
Baca Juga:Dosen Unsri Kembangkan Laboratorium Hidup Biomassa Sebagai Sumber Ekonomi Desa Ganesha Mukti
“Perubahan cara mengelola lahan menjadi penting di wilayah yang memiliki kerentanan terhadap kebakaran,” ujarnya.
Pada musim kemarau, gambut yang mengering dapat menjadi lebih mudah terbakar. Ketika api masuk ke lapisan gambut, penanganannya juga tidak sederhana karena bara dapat merambat di bawah permukaan tanah.
Ancaman tersebut masih menjadi persoalan di Sumatera Selatan. Berdasarkan pemantauan SiPongi Kementerian Kehutanan yang diberitakan pada 31 Oktober 2026, terdapat 84 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di Sumatera Selatan. Sebanyak 26 titik terdeteksi di lahan gambut dan 58 lainnya di lahan mineral.
Angka itu menunjukkan bahwa kewaspadaan terhadap kebakaran tetap diperlukan, terutama di wilayah yang memiliki ekosistem gambut.
Menyesuaikan cara bertani dengan karakter gambut
Baca Juga:Dari Pekarangan ke Pasar, Perempuan Ganesha Mukti Membangun Kemandirian Pangan
Salah satu pendekatan yang dikembangkan di Ganesha Mukti adalah memperbaiki cara petani mengolah lahan. Melalui pendampingan Land4Lives, warga mempelajari pengelolaan tanah gambut, penggunaan pupuk organik, arang sekam, serta teknik penanaman yang disesuaikan dengan kondisi lahan.
Salah satu teknik yang diperkenalkan adalah hugelkultur.
Metode ini menggunakan bahan organik, seperti kayu dan sisa tanaman, sebagai bagian dari struktur bedengan yang ditinggikan. Bentuk bedengan atau raised bed membantu tanaman tumbuh pada media tanam yang lebih terkelola, sekaligus menyesuaikan kondisi lahan yang berpotensi tergenang.
Teknik tersebut menjadi salah satu pilihan untuk mengembangkan kebun di kawasan gambut yang memiliki tantangan tata air. Selain itu, petani juga diperkenalkan pada pemanfaatan kompos dan arang sekam untuk mendukung pengelolaan media tanam.
“Pendekatan ini tidak hanya menekankan bagaimana tanaman bisa tumbuh, tetapi juga bagaimana petani memanfaatkan sumber daya yang tersedia di sekitar mereka. Sisa pertanian yang sebelumnya kurang dimanfaatkan dapat diolah menjadi bahan pendukung kegiatan budidaya,” terang Syamsul.
Dengan pengetahuan tersebut, petani memiliki lebih banyak pilihan dalam merawat lahan. Pengelolaan pertanian tidak lagi semata-mata bertumpu pada pembukaan lahan, tetapi juga pada upaya menjaga kondisi tanah agar dapat digunakan secara berkelanjutan.