- Taufik Wijaya menyatakan warisan budaya takbenda Sumatera Selatan dapat menjadi instrumen diplomasi internasional dan memperkuat citra bangsa.
- Potensi biokultural dan pengetahuan tradisional Sumatera Selatan di Palembang belum sepenuhnya terdokumentasi secara rinci oleh berbagai pihak terkait.
- Kesenian tradisional seperti Wayang Palembang menghadapi tantangan regenerasi sehingga membutuhkan penyesuaian zaman serta dukungan berkelanjutan.
“Kita selalu mengalami hambatan kalau kita bicara keberagaman budaya kita, kita selalu menghambat alasannya ini persoalan anggaran, ini persoalan apa-apa. Padahal itu bisa dilakukan bukan hanya oleh pemerintah, itu bisa dilakukan oleh semua pihak kalau dia bicara tentang identitas dia,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menyoroti pentingnya memperluas peran pelestarian kepada komunitas budaya, akademisi, pekerja seni, jurnalis, lembaga pendidikan, dan masyarakat.
Pendataan yang melibatkan komunitas juga penting untuk memastikan pengetahuan tradisional dicatat dengan memperhatikan konteks dan pemilik pengetahuannya. Dengan begitu, dokumentasi tidak sekadar mengumpulkan informasi, tetapi juga membantu menjaga keberlanjutan praktik budaya.
Meski demikian, besarnya potensi biokultural Sumatera Selatan masih memerlukan pemetaan lebih terperinci. Data mengenai jumlah tradisi yang telah terdokumentasi, tradisi yang terancam kehilangan penerus, serta kebutuhan komunitas budaya dapat menjadi dasar untuk menentukan prioritas kebijakan.
Baca Juga:Pertama Kali di Indonesia, Orkestra Batanghari Sembilan Tampil di Palembang
Generasi muda bukan sekadar penonton kebudayaan
Selain diplomasi internasional, pelestarian warisan budaya berkaitan dengan pendidikan dan pengembangan kemampuan generasi muda.
Akademisi Fakultas Adab dan Humaniora UIN Raden Fatah Palembang, Endang Rochmiatun, menilai kebudayaan lokal perlu dihubungkan dengan pengalaman belajar di sekolah dan lingkungan masyarakat. Pendekatan tersebut dapat membantu generasi muda memahami identitas budayanya secara lebih dekat.
“Mengapa perlu WBTb ini masuk ruang kelas? Yang satunya adalah bagaimana upaya bisa menghubungkan ilmu sekolah dengan pengalaman dan lingkungan beserta budaya, menguatkan identitas, kemudian juga sebagai literasi budaya,” kata Endang.
Menurutnya, tradisi tutur dan seni pertunjukan dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran yang lebih kontekstual. Generasi muda tidak hanya mengenal kebudayaan melalui buku, tetapi juga dapat mempelajari proses penciptaan, makna, dan praktiknya secara langsung.
Baca Juga:Bank Sumsel Babel Dukung Wayang Palembang Bangkit Lewat Kreativitas Generasi Muda
Dokumentasi pertunjukan, produksi konten digital, dan pengembangan materi kreatif berbasis budaya juga dapat membuka ruang bagi anak muda untuk mengasah kemampuan komunikasi, kolaborasi, serta kreativitas.
Dalam konteks ini, teknologi digital bukan sekadar sarana promosi. Jika digunakan secara tepat, teknologi dapat membantu mendokumentasikan tradisi, memperluas akses pengetahuan, dan mempertemukan komunitas budaya dengan audiens yang lebih luas.
Namun, keterlibatan generasi muda perlu melampaui aktivitas promosi. Mereka juga perlu memperoleh kesempatan untuk belajar langsung dari pelaku budaya, terlibat dalam proses pewarisan keterampilan, dan ikut menentukan bagaimana tradisi diperkenalkan kepada masyarakat.
Wayang Palembang menjadi pengingat pentingnya regenerasi
Tantangan pelestarian tersebut terlihat pada Wayang Palembang, salah satu kesenian tradisional Sumatera Selatan yang menghadapi persoalan regenerasi.
Pemimpin Sanggar Sri Wayang Kulit Palembang sekaligus dalang, Kiagus Wirawan Rusdi, menjelaskan bahwa kesenian tersebut mengalami perubahan seiring perkembangan zaman. Ia menilai pelaku seni perlu menyesuaikan bentuk pertunjukan agar tetap memperoleh ruang di tengah masyarakat.