- Taufik Wijaya menyatakan warisan budaya takbenda Sumatera Selatan dapat menjadi instrumen diplomasi internasional dan memperkuat citra bangsa.
- Potensi biokultural dan pengetahuan tradisional Sumatera Selatan di Palembang belum sepenuhnya terdokumentasi secara rinci oleh berbagai pihak terkait.
- Kesenian tradisional seperti Wayang Palembang menghadapi tantangan regenerasi sehingga membutuhkan penyesuaian zaman serta dukungan berkelanjutan.
SuaraSumsel.id - Warisan budaya takbenda Sumatera Selatan memiliki potensi lebih luas daripada sekadar menjaga identitas masyarakat. Seni pertunjukan, bahasa daerah, adat istiadat, hingga pengetahuan tradisional dapat menjadi modal diplomasi budaya, pendidikan, dan pengembangan industri kreatif apabila dikelola secara berkelanjutan.
Jurnalis sekaligus pekerja budaya, Taufik Wijaya, mengatakan kebudayaan perlu dipandang sebagai instrumen diplomasi atau soft power yang dapat memperkuat citra bangsa di tingkat internasional. Menurutnya, kebudayaan tidak seharusnya berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi perlu dimanfaatkan untuk membangun hubungan antarbangsa.
“Tujuan diplomasi budaya itu secara umum ada tiga, yaitu membangun citra positif sebuah bangsa atau sebuah negara, menciptakan perdamaian, dan mendukung kepentingan nasional,” ujar Taufik dalam lokakarya Perlindungan dan Pemajuan Warisan Budaya Sumatera Selatan di Atrium PTC Mall, Palembang, Minggu (18/10/2026).
Pandangan tersebut menempatkan warisan budaya takbenda atau WBTb sebagai aset yang memiliki nilai strategis. Selain merepresentasikan identitas masyarakat, kebudayaan dapat menjadi sarana pertukaran pengetahuan, memperkuat hubungan internasional, dan membuka ruang bagi generasi muda untuk terlibat dalam diplomasi budaya.
Baca Juga:Pertama Kali di Indonesia, Orkestra Batanghari Sembilan Tampil di Palembang
Namun, peluang tersebut membutuhkan upaya pelestarian yang lebih konkret. Pendataan, dokumentasi, regenerasi pelaku budaya, serta keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting agar warisan budaya tidak hanya dikenal, tetapi juga tetap dipraktikkan dan diwariskan.
Dari identitas lokal menuju diplomasi internasional
Dalam pemaparannya, Taufik mencontohkan seni pertunjukan wayang sebagai salah satu bentuk kebudayaan Indonesia yang memiliki daya tarik lintas negara. Wayang tidak hanya menyajikan pertunjukan, tetapi juga membawa nilai, pandangan hidup, dan gambaran keberagaman masyarakat.
“Kenapa wayang menarik? Karena wayang itu bukan hanya seni pertunjukan, tapi wayang juga menjadi tuntunan hidup. Dia punya nilai-nilai, pijakan nilai, dan juga wayang juga mencerminkan multikultural kita,” katanya.
Bagi Sumatera Selatan, pendekatan tersebut membuka peluang untuk memperkenalkan kekayaan budaya daerah melalui pertukaran seni, forum kebudayaan, kegiatan pendidikan, dan pemanfaatan platform digital.
Baca Juga:Bank Sumsel Babel Dukung Wayang Palembang Bangkit Lewat Kreativitas Generasi Muda
Akan tetapi, potensi diplomasi budaya tidak otomatis terwujud hanya karena suatu tradisi memiliki nilai sejarah. Diperlukan upaya untuk mengenali kekhasannya, mendokumentasikan pengetahuan yang terkandung di dalamnya, serta mengemasnya agar dapat dipahami masyarakat yang memiliki latar belakang budaya berbeda.
Di sinilah kebijakan kebudayaan memiliki peran penting. Pelestarian perlu mencakup keberlanjutan praktik budaya dan keberadaan komunitas pendukungnya, bukan semata-mata pencatatan atau pengakuan formal.
Kekayaan biokultural Sumsel belum sepenuhnya terdokumentasi
Taufik juga menyoroti keberagaman biokultural Sumatera Selatan yang terbentuk melalui hubungan panjang masyarakat dengan lingkungan hutan dan sungai.
Interaksi tersebut melahirkan beragam pengetahuan tradisional, mulai dari pengobatan, teknologi lokal, hingga pangan. Pengetahuan semacam ini bukan hanya bagian dari identitas masyarakat, tetapi juga menyimpan informasi mengenai cara komunitas beradaptasi dengan lingkungan.
Menurut Taufik, potensi tersebut belum seluruhnya tercatat sebagai warisan budaya takbenda resmi. Ia menilai persoalan anggaran dan berbagai hambatan operasional tidak seharusnya membuat upaya pendataan serta pelestarian berhenti.
“Kita selalu mengalami hambatan kalau kita bicara keberagaman budaya kita, kita selalu menghambat alasannya ini persoalan anggaran, ini persoalan apa-apa. Padahal itu bisa dilakukan bukan hanya oleh pemerintah, itu bisa dilakukan oleh semua pihak kalau dia bicara tentang identitas dia,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menyoroti pentingnya memperluas peran pelestarian kepada komunitas budaya, akademisi, pekerja seni, jurnalis, lembaga pendidikan, dan masyarakat.
Pendataan yang melibatkan komunitas juga penting untuk memastikan pengetahuan tradisional dicatat dengan memperhatikan konteks dan pemilik pengetahuannya. Dengan begitu, dokumentasi tidak sekadar mengumpulkan informasi, tetapi juga membantu menjaga keberlanjutan praktik budaya.
Meski demikian, besarnya potensi biokultural Sumatera Selatan masih memerlukan pemetaan lebih terperinci. Data mengenai jumlah tradisi yang telah terdokumentasi, tradisi yang terancam kehilangan penerus, serta kebutuhan komunitas budaya dapat menjadi dasar untuk menentukan prioritas kebijakan.
Generasi muda bukan sekadar penonton kebudayaan
Selain diplomasi internasional, pelestarian warisan budaya berkaitan dengan pendidikan dan pengembangan kemampuan generasi muda.
Akademisi Fakultas Adab dan Humaniora UIN Raden Fatah Palembang, Endang Rochmiatun, menilai kebudayaan lokal perlu dihubungkan dengan pengalaman belajar di sekolah dan lingkungan masyarakat. Pendekatan tersebut dapat membantu generasi muda memahami identitas budayanya secara lebih dekat.
“Mengapa perlu WBTb ini masuk ruang kelas? Yang satunya adalah bagaimana upaya bisa menghubungkan ilmu sekolah dengan pengalaman dan lingkungan beserta budaya, menguatkan identitas, kemudian juga sebagai literasi budaya,” kata Endang.
Menurutnya, tradisi tutur dan seni pertunjukan dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran yang lebih kontekstual. Generasi muda tidak hanya mengenal kebudayaan melalui buku, tetapi juga dapat mempelajari proses penciptaan, makna, dan praktiknya secara langsung.
Dokumentasi pertunjukan, produksi konten digital, dan pengembangan materi kreatif berbasis budaya juga dapat membuka ruang bagi anak muda untuk mengasah kemampuan komunikasi, kolaborasi, serta kreativitas.
Dalam konteks ini, teknologi digital bukan sekadar sarana promosi. Jika digunakan secara tepat, teknologi dapat membantu mendokumentasikan tradisi, memperluas akses pengetahuan, dan mempertemukan komunitas budaya dengan audiens yang lebih luas.
Namun, keterlibatan generasi muda perlu melampaui aktivitas promosi. Mereka juga perlu memperoleh kesempatan untuk belajar langsung dari pelaku budaya, terlibat dalam proses pewarisan keterampilan, dan ikut menentukan bagaimana tradisi diperkenalkan kepada masyarakat.
Wayang Palembang menjadi pengingat pentingnya regenerasi
Tantangan pelestarian tersebut terlihat pada Wayang Palembang, salah satu kesenian tradisional Sumatera Selatan yang menghadapi persoalan regenerasi.
Pemimpin Sanggar Sri Wayang Kulit Palembang sekaligus dalang, Kiagus Wirawan Rusdi, menjelaskan bahwa kesenian tersebut mengalami perubahan seiring perkembangan zaman. Ia menilai pelaku seni perlu menyesuaikan bentuk pertunjukan agar tetap memperoleh ruang di tengah masyarakat.
Salah satu pendekatan yang dilakukan sanggarnya adalah mempersingkat durasi pertunjukan. Jika dahulu wayang dapat dimainkan semalam suntuk, kini penampilannya dapat dikemas menjadi hitungan menit untuk menyesuaikan kebutuhan panggung tertentu.
“Kita harus mengikuti zaman, kalau tidak seperti itu kita tidak akan panggung-panggung yang kita dapatkan, orang-orang tidak akan menikmatinya,” ujar Wirawan.
Pengalaman Wayang Palembang memperlihatkan bahwa pelestarian tidak selalu berarti mempertahankan seluruh bentuk penyajian tanpa perubahan. Penyesuaian dapat menjadi strategi agar kesenian tradisional tetap hadir di ruang publik, selama nilai dan karakter pentingnya tetap dijaga.
Namun, inovasi pertunjukan perlu berjalan beriringan dengan regenerasi. Tanpa penerus yang mempelajari keterampilan pedalangan dan memahami tradisinya, perubahan format saja tidak cukup untuk menjamin keberlanjutan kesenian.
Karena itu, upaya pelestarian perlu memperhatikan kebutuhan para pelaku seni, termasuk ruang pertunjukan, kesempatan belajar, pendokumentasian, dan keberlanjutan ekonomi mereka.
Kebijakan budaya perlu bergerak melampaui pengakuan
Kepala Seksi Nilai Budaya dan Bahasa Daerah, Dian Permata Suri, menjelaskan bahwa warisan budaya takbenda mencakup berbagai ekspresi, pengetahuan, keterampilan, dan unsur budaya nonmateri yang diakui oleh komunitas sebagai bagian dari warisan mereka.
“Contohnya seperti seni, bahasa, ritus, adat istiadat, dan pengetahuan tradisional,” kata Dian.
Menurutnya, penetapan warisan budaya takbenda penting untuk memperkuat identitas bangsa dan menjalankan amanat hukum nasional maupun internasional.
Namun, pengakuan formal perlu diikuti upaya yang memastikan tradisi tersebut tetap hidup. Dokumentasi, pendidikan, dukungan terhadap komunitas, dan regenerasi pelaku budaya menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pelestarian.
Dalam konteks Sumatera Selatan, peluang menjadikan budaya sebagai modal diplomasi internasional perlu disertai kebijakan yang berorientasi pada keberlanjutan. Pendataan warisan budaya dapat membantu mengidentifikasi kekayaan yang belum terdokumentasi, sementara keterlibatan lembaga pendidikan dan komunitas dapat memperluas proses pewarisan.
Pemerintah, akademisi, komunitas, dan pekerja budaya juga dapat membangun kolaborasi untuk memperkenalkan kebudayaan daerah melalui program pertukaran, kegiatan kreatif, serta dokumentasi digital. Bentuk dan prioritas program tersebut perlu disesuaikan dengan kebutuhan komunitas dan dukungan yang tersedia.
Pada akhirnya, kekuatan diplomasi budaya tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak warisan yang memperoleh pengakuan. Ukurannya juga terletak pada kemampuan masyarakat menjaga tradisi, meneruskan pengetahuan, dan memperkenalkan identitasnya tanpa melepaskan akar budaya.
Warisan budaya Sumatera Selatan memiliki peluang untuk menjangkau panggung internasional. Namun, peluang itu membutuhkan langkah yang lebih jauh daripada seremoni: memastikan tradisi tetap dipraktikkan, pelakunya memiliki ruang untuk berkembang, dan generasi berikutnya memperoleh kesempatan untuk meneruskannya.