- Pemerintah menguji teknologi dry ice di Palembang pada Kamis untuk mengatasi kabut asap akibat karhutla.
- BMKG menyatakan penurunan konsentrasi PM2.5 dan berkurangnya kabut asap belum tentu disebabkan uji coba dry ice.
- Kualitas udara di berbagai wilayah Palembang pada Jumat pagi masih berada pada tingkat yang berbahaya.
Udara masih berbahaya, warga perlu tetap waspada
Pada Jumat (16/10/2026) juga menyebut kualitas udara di sejumlah wilayah Palembang masih berada pada tingkat berbahaya berdasarkan data IQAir yang dikutip media tersebut.
Dalam laporan itu, indeks kualitas udara pada pukul 05.00 WIB disebut mencapai 699. Sejumlah titik, termasuk kawasan Musi 2, Bukit, Sukarami, dan Demang Lebar Daun, juga dilaporkan mencatat angka tinggi.
Perlu diperhatikan bahwa angka indeks kualitas udara dari platform seperti IQAir tidak sama dengan konsentrasi PM2.5 dalam mikrogram per meter kubik. Keduanya menggunakan satuan dan metode pelaporan berbeda sehingga tidak dapat dibandingkan langsung.
Baca Juga:Dry Ice Diuji untuk Atasi Kabut Asap, Mengapa Sumsel Masih Diselimuti Asap Pekat Berbahaya?
Meski kabut terlihat sedikit menipis, masyarakat sebaiknya tidak menjadikan jarak pandang sebagai satu-satunya indikator aman atau tidaknya udara.
Warga dapat memantau informasi kualitas udara terbaru, mengurangi aktivitas luar ruangan ketika polusi tinggi, serta menggunakan respirator yang sesuai, seperti N95 atau KN95, jika harus beraktivitas di tengah asap. Kelompok rentan, termasuk anak-anak, lansia, ibu hamil, dan orang dengan gangguan pernapasan, perlu mendapat perhatian khusus.
Jika mengalami sesak napas atau gejala berat, segera cari pertolongan medis.
Pemerintah perlu membuka hasil evaluasi dry ice
Uji coba dry ice menjadi salah satu upaya yang ditempuh untuk menghadapi kabut asap di Sumatera Selatan. Namun, publik masih membutuhkan hasil evaluasi yang terukur untuk mengetahui sejauh mana teknologi ini memberi dampak.
Baca Juga:Daftar 16 Perusahaan Perkebunan dan HTI Diusut Soal Karhutla Sumsel, Baru PT RAS Punya Tersangka
Pemerintah dan tim teknis perlu menjelaskan data sebelum dan sesudah operasi, kondisi angin saat pengukuran, perubahan PM2.5 di beberapa lokasi, serta berapa lama dampak yang teramati bertahan.
Evaluasi juga perlu membedakan antara perubahan kondisi udara akibat faktor cuaca dan perubahan yang benar-benar dapat dikaitkan dengan teknologi yang diuji.
Untuk saat ini, data menunjukkan PM2.5 di Stasiun Klimatologi Musi II sempat turun setelah operasi dry ice dan kabut asap terlihat sedikit berkurang pada Jumat pagi. Namun, BMKG belum memastikan penyebab penurunan tersebut, sementara kualitas udara di sejumlah wilayah masih dilaporkan sangat buruk.
Pertanyaan utamanya bukan hanya apakah angka PM2.5 sempat turun, melainkan apakah penurunan itu benar-benar disebabkan dry ice, bertahan dalam waktu yang cukup lama, dan membuat udara Palembang lebih aman bagi warganya.