- Dua wartawan mengalami pengeroyokan saat meliput demonstrasi karhutla di Polda Sumatera Selatan pada Selasa.
- Insiden kekerasan terjadi setelah korban dituduh membawa senjata tajam dan berniat menusuk seseorang.
- Kedua korban menderita luka-luka dan langsung menjalani perawatan medis di Rumah Sakit Bhayangkara Palembang.
Kehadiran jurnalis di lokasi aksi merupakan bagian dari kerja jurnalistik untuk merekam peristiwa dan menyampaikan informasi kepada masyarakat. Kekerasan terhadap wartawan ketika bertugas berpotensi menghambat kerja peliputan serta hak publik untuk memperoleh informasi.
Hingga informasi yang dihimpun dalam pemberitaan tersebut disusun, identitas pihak yang diduga melakukan pengeroyokan dan perkembangan penanganan perkara oleh kepolisian masih perlu dikonfirmasi.
AJI Palembang kecam kekerasan terhadap jurnalis
Ketua AJI Palembang, RM Resha A Usman, mengutuk intimidasi dan pemukulan terhadap kedua jurnalis tersebut. Ia menegaskan bahwa wartawan seharusnya mendapat perlindungan ketika menjalankan tugas peliputan.
Baca Juga:2 Wartawan Dikeroyok Saat Liput Demo Karhutla di Polda Sumsel, Sempat Diintimidasi Hapus Video
“Kedua jurnalis itu diintimidasi, nyaris dirampas handphonenya, bahkan dipukuli. Kami mengutuk hal itu karena Jurnalis seharusnya dilindungi hukum saat bertugas,” ujar Resha dalam pernyataan AJI Palembang.
AJI Palembang meminta aparat mengusut tuntas kasus tersebut, menangkap dan memproses pihak yang terbukti melakukan kekerasan, serta membuka perkembangan penyidikan secara transparan.
AJI juga mengingatkan aparat keamanan mengenai kewajiban melindungi jurnalis yang sedang bekerja, termasuk ketika meliput demonstrasi atau situasi yang berkembang menjadi kericuhan.
Redaksi minta kekerasan terhadap wartawan diusut
Kecaman juga disampaikan Redaksi Tribun Sumsel dan Sriwijaya Post. Dalam pernyataan bersama yang diberitakan SuaraSumsel.id, redaksi menyebut wartawan mereka mengalami serangan ketika sedang melakukan siaran langsung melalui Facebook dari lokasi demonstrasi.
Baca Juga:Pantau Api, Website Berbasis AI Buatan Dosen MDP Palembang untuk Prediksi Kabut Asap Sumsel
Pernyataan tersebut juga menyebut adanya intimidasi dan permintaan agar jurnalis menghapus foto serta video yang direkam. Redaksi mengecam kekerasan tersebut dan menegaskan bahwa keselamatan wartawan tidak boleh dianggap sebagai risiko yang wajar dalam pekerjaan jurnalistik.
Namun, keterangan mengenai intimidasi, permintaan menghapus rekaman, dan dugaan perampasan telepon genggam tetap perlu ditelusuri dalam proses penyelidikan agar seluruh rangkaian kejadian dapat diungkap secara utuh.