- Dinas Kehutanan Sumatera Selatan mendeteksi 1.917 titik panas pada Senin, 12 Oktober 2026, dengan mayoritas berada di lahan gambut.
- Indeks kualitas udara Kota Palembang tercatat mencapai angka 433 dan masuk dalam kategori berbahaya bagi kesehatan warga.
- BPBD Sumsel bersama berbagai unsur terkait melakukan pemantauan serta penanganan karhutla melalui patroli dan pemadaman dini.
SuaraSumsel.id - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi ancaman di Sumatera Selatan. Sebanyak 1.917 titik panas terdeteksi di wilayah ini pada Senin (12/10/2026), dengan mayoritas berada di lahan gambut. Pada saat yang sama, kualitas udara Kota Palembang masih berada dalam kategori berbahaya.
Berdasarkan peta sebaran titik panas harian Dinas Kehutanan Sumatera Selatan yang diperbarui pukul 05.00 WIB, terdapat 1.153 titik panas di lahan gambut dan 764 titik di lahan mineral.
Data tersebut menunjukkan bahwa sekitar 60 persen titik panas yang terdeteksi berada di lahan gambut. Kondisi ini menjadi perhatian karena kebakaran di kawasan gambut dapat menimbulkan persoalan pemadaman yang kompleks, terutama ketika api menjalar ke lapisan tanah dan sulit dijangkau dari permukaan.
Kabid Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman, mengatakan pemantauan titik panas terus dilakukan untuk mengetahui perkembangan potensi karhutla di sejumlah wilayah.
Baca Juga:ISPA di Sumsel Tembus 52.483 Kasus, September Jadi yang Terburuk dan Kian Mengkhawatirkan
Meski demikian, titik panas atau hotspot merupakan indikator awal yang perlu diverifikasi di lapangan. Data tersebut tidak otomatis menunjukkan bahwa seluruh titik merupakan kebakaran aktif.
Ribuan titik panas terdeteksi di lahan gambut
Dari total 1.917 titik panas yang terpantau, sebanyak 1.153 titik berada di lahan gambut. Sisanya, 764 titik, terdeteksi di lahan mineral.
Perbedaan ini penting karena karakteristik lahan memengaruhi penanganan kebakaran. Pada lahan gambut yang mengering, api dapat merambat di bawah permukaan sehingga titik kebakaran tidak selalu mudah terlihat dan dipadamkan melalui penyiraman dari atas.
Kondisi tersebut membuat pemantauan dan deteksi dini menjadi bagian penting dalam pengendalian karhutla. Petugas perlu memastikan lokasi titik panas, memeriksa kondisi lapangan, serta menentukan kebutuhan pemadaman berdasarkan karakteristik wilayah yang terdampak.
Baca Juga:Indeks Udara Palembang Masih Berbahaya, Ribuan Titik Panas Masih Terdeteksi di Sumsel
Tingginya jumlah titik panas di lahan gambut juga menjadi pengingat pentingnya menjaga kondisi hidrologis gambut agar tidak mudah mengering, terutama selama musim kemarau.
Namun, data titik panas pada hari tersebut belum cukup untuk memastikan luas lahan yang terbakar maupun tingkat kerusakan yang terjadi. Informasi tersebut membutuhkan hasil verifikasi dan pendataan lapangan.
Di tengah tingginya jumlah titik panas di Sumatera Selatan, masyarakat Palembang masih menghadapi persoalan kualitas udara.
Dalam laporan Sumsel Update, indeks kualitas udara Palembang tercatat mencapai 433 dan masuk kategori berbahaya. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena paparan polusi udara dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan.
Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki penyakit pernapasan atau jantung perlu lebih berhati-hati ketika kualitas udara memburuk.
Warga disarankan mengurangi aktivitas fisik di luar ruangan, menutup pintu dan jendela ketika asap masuk ke rumah, serta menggunakan masker yang mampu menyaring partikel halus jika harus bepergian.