- Kabut asap pekat akibat kebakaran hutan menyelimuti Kota Palembang pada Senin pagi, 12 Oktober 2026.
- Kualitas udara di Palembang mencapai kategori berbahaya dengan indeks tertinggi sebesar 511 tercatat di kawasan Sukarami.
- BPBD Sumatera Selatan melaporkan Kabupaten Ogan Komering Ilir mendeteksi jumlah titik panas terbanyak mencapai 1.177 titik.
SuaraSumsel.id - Kabut asap kembali menyelimuti Kota Palembang, Sumatera Selatan, pada Senin (12/10/2026) pagi. Kualitas udara berada pada kategori berbahaya dengan indeks mencapai 485, sementara kawasan Sukarami mencatat angka lebih tinggi, yakni 511.
Berdasarkan pemantauan aplikasi IQAir pukul 05.30 WIB, buruknya kualitas udara tidak hanya terpantau di satu kawasan. Musi 2 mencatat indeks 476, sedangkan Demang Lebar Daun mencapai 449. Angka tersebut menunjukkan kondisi udara yang perlu diwaspadai masyarakat, terutama warga yang beraktivitas di luar ruangan.
Kondisi ini menjadi perhatian karena kabut asap masih menyelimuti Palembang di tengah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berlangsung di sejumlah wilayah Sumatera Selatan.
Masyarakat pun perlu mempertimbangkan kondisi udara sebelum beraktivitas di luar rumah, terutama anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki gangguan pernapasan dan penyakit jantung.
Baca Juga:8 Anak Diduga Jadi Korban Pembina Pramuka di Palembang, Kasus Terungkap Setelah 5 Tahun
Buruknya kualitas udara Palembang terpantau sejak dini hari. Sekitar pukul 03.00 WIB, indeks kualitas udara kota tersebut tercatat berada di angka 342.
Pada waktu yang sama, Sukarami mencatat indeks 348 dan Demang Lebar Daun 316. Adapun kawasan Musi 2 berada pada angka 242, yang masuk kategori sangat tidak sehat menurut klasifikasi yang digunakan dalam laporan tersebut.
Beberapa jam kemudian, pemantauan pukul 05.30 WIB menunjukkan indeks kualitas udara Palembang mencapai 485. Sukarami bahkan mencatat angka 511.
Perubahan angka tersebut memperlihatkan bahwa kondisi udara dapat berfluktuasi dalam waktu singkat. Karena itu, masyarakat perlu memantau pembaruan kualitas udara berdasarkan waktu dan lokasi sebelum menentukan aktivitas di luar ruangan.
OKI catat 1.177 titik panas
Baca Juga:Ratu Dewa Bilang Enjoy saat Kabut Asap, Publik Bandingkan dengan Sikap Leonardo DiCaprio
Di tengah memburuknya kualitas udara Palembang, kebakaran hutan dan lahan masih menjadi perhatian di sejumlah kabupaten di Sumatera Selatan.
Berdasarkan data BPBD Provinsi Sumatera Selatan yang dikutip Sumsel Update, jumlah titik panas tercatat mencapai 1.548 titik. Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) menjadi wilayah dengan jumlah terbanyak, yakni 1.177 titik.
Wilayah lain yang turut mencatat titik panas meliputi Musi Banyuasin sebanyak 135 titik, Muara Enim 78 titik, Banyuasin 62 titik, dan Ogan Ilir 27 titik.
Titik panas atau hotspot merupakan indikator awal untuk mendeteksi potensi kebakaran. Namun, keberadaan titik panas tidak selalu berarti kebakaran aktif sehingga tetap memerlukan verifikasi di lapangan.
Data tersebut memperlihatkan bahwa pemantauan karhutla masih penting dilakukan, terutama di wilayah yang memiliki konsentrasi titik panas tinggi.
Ketika kualitas udara berada pada kategori berbahaya, masyarakat perlu mengurangi paparan polusi, khususnya saat melakukan aktivitas fisik di luar rumah.