- Warga menemukan seekor anak kucing kuwuk liar yang dilindungi di persawahan Ogan Ilir pada 26 September 2026.
- Tim WRU BKSDA Sumsel mengevakuasi satwa tersebut akibat kebakaran lahan yang merusak habitat aslinya.
- Petugas membawa anak kucing liar itu ke Pusat Rehabilitasi Satwa Punti Kayu untuk menjalani pemeriksaan kesehatan.
Di Pemulutan, kebakaran lahan memang menjadi persoalan berulang sepanjang September. Pada 26 September, misalnya, kebakaran di Desa Muara Baru, Kecamatan Pemulutan, dilaporkan membakar sekitar 28 hektare lahan. Penanganannya menghadapi kendala keterbatasan sumber air dan melibatkan berbagai unsur, termasuk water bombing.
Di wilayah Pemulutan lainnya, penanganan karhutla juga berlangsung sepanjang September. Polisi sebelumnya melakukan patroli pencegahan di Desa Tanjung Pasir dan sejumlah desa lain yang dinilai rawan kebakaran.
Namun, temuan anak kucing kuwuk ini memberi gambaran bahwa dampak kebakaran tidak berhenti ketika api dinyatakan padam.
Satwa yang kehilangan ruang hidup bisa berpindah mendekati area manusia. Dalam kasus tertentu, kondisi tersebut membuat satwa lebih rentan terluka, kehilangan induk, kekurangan makanan atau bahkan berhadapan dengan risiko lain seperti perburuan.
Baca Juga:Gambut Tak Kenal Batas Konsesi, Mengapa Tata Air Jadi Kunci Cegah Karhutla?
BKSDA Sumsel sebelumnya juga menangani kucing kuwuk hasil serahan masyarakat. Pada Februari 2026, dua individu kucing kuwuk yang sebelumnya menjalani rehabilitasi di Pusat Rehabilitasi Satwa Punti Kayu dilepasliarkan kembali. Satu satwa dilepasliarkan di TWA Lembah Serelo, Lahat, dan satu lainnya di Suaka Margasatwa Padang Sugihan, Ogan Komering Ilir, setelah dinilai sehat dan mampu beradaptasi.
Artinya, Punti Kayu bukan sekadar tempat penampungan sementara. Satwa yang masuk harus melalui proses pemeriksaan kesehatan, pemantauan perilaku dan evaluasi kemampuan beradaptasi sebelum dapat dikembalikan ke habitat yang sesuai.
Kini, anak kucing kuwuk dari Tanjung Pasir masih menjalani proses tersebut. Nasibnya akan bergantung pada kondisi kesehatan dan perkembangan kemampuan bertahan hidupnya sebelum BKSDA menentukan langkah konservasi selanjutnya.
Di tengah karhutla yang kembali menghanguskan lanskap Sumatera Selatan, seekor anak kucing berusia dua bulan itu menjadi pengingat bahwa yang hilang dalam sebuah kebakaran bukan hanya hamparan rumput dan pepohonan.
Ada pula ruang hidup satwa yang perlahan ikut terbakar.
Baca Juga:Sumsel Dikepung 2.639 Titik Panas Hari Ini, Apa yang Sebenarnya Sedang Terjadi?