- PT Pertamina Patra Niaga RU Plaju melaksanakan audit internal lintas fungsi pada 15-18 September 2026.
- Audit tersebut mengevaluasi empat standar manajemen untuk memastikan kesesuaian proses kerja operasional kilang.
- Hasil evaluasi akan ditindaklanjuti guna memperkuat kualitas kerja dan keandalan operasional perusahaan.
SuaraSumsel.id - Upaya menjaga integritas dan keandalan operasional tidak hanya dilakukan melalui pengawasan, tetapi juga dengan mengevaluasi kembali proses kerja di setiap lini. Hal itu dilakukan PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) Plaju melalui Cross Function Internal Audit (CFIA) Sistem Manajemen Terintegrasi dan Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP).
Audit yang berlangsung pada 15–18 September 2026 tersebut menjadi momentum bagi Kilang Plaju untuk mengevaluasi penerapan sistem manajemen sekaligus memastikan setiap fungsi menjalankan proses sesuai standar yang telah ditetapkan.
Ada empat standar yang menjadi cakupan audit, yakni ISO 9001:2015 tentang Sistem Manajemen Mutu, ISO 14001:2015 tentang Sistem Manajemen Lingkungan, ISO 45001:2018 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), serta ISO 37001:2016 tentang Sistem Manajemen Anti Penyuapan.
Audit Lintas Fungsi, Bukan Sekadar Periksa Dokumen
Baca Juga:Harumkan Nama Indonesia di Kancah Dunia, 6 Pekerja Kilang Plaju Borong 3 Penghargaan
Pelaksanaan CFIA dilakukan dengan melibatkan berbagai fungsi di lingkungan RU Plaju. Auditor dan auditee tidak hanya mengevaluasi kesesuaian proses terhadap persyaratan, tetapi juga bertukar pandangan dan memberikan masukan untuk memperkuat penerapan sistem manajemen.
Executive General Manager RU Plaju, Khabibullah Khanafie, mengatakan audit menjadi kesempatan untuk melihat secara lebih dekat bagaimana proses kerja diterapkan dalam aktivitas operasional.
“Tiga hari ini kita gunakan untuk melihat proses kerja secara lebih dekat, termasuk hal-hal yang selama ini mungkin sudah berjalan baik dan bagian yang masih perlu diperkuat. Masukan dari audit ini penting untuk memastikan setiap fungsi tidak hanya menjalankan proses sesuai ketentuan, tetapi juga memahami alasan di balik setiap proses yang dijalankan,” ujar Khabibullah.
Menurutnya, evaluasi tersebut penting agar sistem manajemen tidak berhenti pada pemenuhan persyaratan administratif, tetapi benar-benar dipahami dan diterapkan dalam pekerjaan sehari-hari.
Empat Aspek Jadi Fokus Evaluasi
Baca Juga:Kilang Plaju Kembali Salurkan Bantuan Logistik untuk Satgas Karhutla Sumsel
Penerapan sistem manajemen terintegrasi di RU Plaju mencakup sejumlah aspek yang saling berkaitan, mulai dari mutu, lingkungan, keselamatan dan kesehatan kerja, hingga integritas dan pencegahan penyuapan.
Keselarasan keempat aspek tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga konsistensi proses kerja sekaligus mendukung keandalan operasional kilang.
Dalam pelaksanaannya, CFIA juga membuka ruang komunikasi dua arah antar-fungsi. Berbagai masukan yang muncul selama audit menjadi bahan evaluasi untuk melihat efektivitas proses, termasuk bagian yang masih dapat disederhanakan, diperkuat, maupun ditingkatkan penerapannya.
Dengan demikian, audit tidak hanya menjadi proses pemeriksaan, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran bersama bagi fungsi-fungsi yang terlibat.
Hasil Audit Jadi Bahan Perbaikan
Rangkaian CFIA 2026 ditutup pada Jumat (18/9). Selanjutnya, hasil evaluasi akan ditindaklanjuti sebagai bagian dari penguatan penerapan sistem manajemen dalam kegiatan operasional Kilang Plaju.