Karhutla Sumsel Mencapai 1.926 Hektare, Ancaman Besarnya Justru Setelah Api Padam

Karhutla Sumsel capai 1.926 ha per Juli 2026. Ancaman terbesar justru terjadi setelah api padam pada lahan gambut yang merusak karbon dan tata air jangka panjang.

Tasmalinda
Selasa, 11 Agustus 2026 | 23:56 WIB
Karhutla Sumsel Mencapai 1.926 Hektare, Ancaman Besarnya Justru Setelah Api Padam
lahan yang mengalami kebakaran lahan dan hutan di Sumatera Selatan
Baca 10 detik
  • Satgas Karhutla Sumsel mencatat luas kebakaran hutan dan lahan mencapai 1.926,22 hektare sepanjang Januari-Juli 2026.
  • Komandan Satgas Brigjen TNI Khabib Mahfud menyatakan kesiapan melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca pada malam hari.
  • Kebakaran pada ekosistem gambut berpotensi merusak penyimpanan karbon jangka panjang meskipun api telah dipadamkan.

Menurut dia, jika kawasan gambut telah dikeringkan, tata airnya berubah dan kemudian terbakar berulang kali, maka persoalannya jauh lebih kompleks daripada sekadar kehilangan pepohonan.

Ia mengingatkan bahwa lingkungan memiliki kemampuan untuk menjaga dirinya sendiri apabila fungsi alaminya tetap dipertahankan. Lahan basah yang masih utuh dapat menyimpan air dan karbon, sementara tutupan vegetasi membantu menjaga kehidupan di dalam ekosistem.

"Ketika fungsi tersebut terus terganggu oleh perubahan bentang alam, kerusakan yang terjadi dapat berlangsung jauh lebih lama dibandingkan satu musim kebakaran," ucapnya.

Khairul juga menyoroti cara pandang pembangunan yang terkadang baru berbicara tentang pemulihan setelah kerusakan terjadi. Menurutnya, perlindungan lingkungan seharusnya tidak hanya diukur dari jumlah bibit yang ditanam atau luas lahan yang dihijaukan kembali, tetapi juga dari seberapa jauh ekosistem yang masih tersisa mampu dipertahankan agar tidak mengalami kerusakan lebih lanjut.

Baca Juga:1.400 Pekerja Sumsel Kena PHK, Mayoritas Tanpa Perselisihan, Ada Apa?

Dalam konteks karhutla, persoalan inilah yang menurut Khairul perlu menjadi perhatian. "Api memang dapat padam dalam hitungan jam atau hari, tetapi pemulihan ekosistem yang rusak bisa membutuhkan waktu jauh lebih panjang. Begitu pula karbon yang terlepas dan fungsi ekologis yang hilang tidak serta-merta kembali hanya karena api telah berhasil dipadamkan," imbuhnya.

Jadi, api yang terlihat hanya bagian paling kasatmata dari persoalan.

Ketika gambut mengalami pengeringan dan penurunan muka air, proses dekomposisi menjadi lebih aktif dan karbon lebih mudah dilepaskan sebagai CO. IPCC mencatat pengeringan tanah gambut meningkatkan emisi CO dan NO, sementara menjaga muka air tetap tinggi merupakan salah satu langkah penting untuk mengurangi emisi.

Artinya, memadamkan api bukan akhir dari pekerjaan. Jika tata air gambut tidak dipulihkan, lahan yang pernah terbakar dapat tetap menjadi lanskap yang rentan terhadap kebakaran berikutnya.

Baca Juga:Ekonomi Sumsel Tumbuh 5,20 Persen, Uangnya Paling Banyak Berputar di Sektor Ini

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini