Kenapa CFD di Kota Lain Lancar, Tapi Palembang Macet? Ini Penyebab yang Terungkap

Uji coba Car Free Day di Palembang memicu kemacetan parah akibat pengaturan lalu lintas yang belum optimal.

Tasmalinda
Senin, 13 April 2026 | 14:50 WIB
Kenapa CFD di Kota Lain Lancar, Tapi Palembang Macet? Ini Penyebab yang Terungkap
pelaksanaan car free day di Palembang, Sumatera Selatan
Baca 10 detik
  • Uji coba Car Free Day di Palembang memicu kemacetan parah akibat pengaturan lalu lintas yang belum optimal.
  • Wali Kota Ratu Dewa mengevaluasi minimnya personel di titik krusial serta dampak penutupan jalur Jembatan Ampera.
  • Pemerintah Kota Palembang berkomitmen memperbaiki rekayasa lalu lintas dan manajemen ruang publik agar kegiatan berjalan lebih tertib.

SuaraSumsel.id - Uji coba Car Free Day (CFD) di Palembang memang hanya berlangsung sekitar dua jam, tetapi dampaknya terasa jauh lebih lama dari durasi pelaksanaannya. Antusiasme warga yang memadati lokasi sejak pagi seolah menjadi bukti bahwa kebutuhan akan ruang publik begitu tinggi.

Namun di balik itu, kemacetan justru muncul sebagai cerita yang paling banyak dibicarakan.

Perbandingan dengan kota lain pun tak terhindarkan. Banyak warga mulai mempertanyakan, mengapa CFD di sejumlah kota besar bisa berjalan tertib dan lancar, sementara di Palembang justru memicu kepadatan lalu lintas yang cukup parah.

Situasi ini bukan semata soal jumlah pengunjung, melainkan bagaimana sistem di baliknya bekerja. Di Palembang, lonjakan warga yang datang tidak diimbangi dengan kesiapan pengaturan arus kendaraan. Banyak pengendara tetap berusaha mendekati titik utama CFD, sehingga penumpukan terjadi di jalur-jalur penghubung yang seharusnya menjadi alternatif.

Baca Juga:CFD Palembang Diprotes Warga, Jalur Terlalu Panjang Bikin Aktivitas Terganggu

Kondisi ini berbeda dengan kota seperti Jakarta yang sudah lebih matang dalam pelaksanaan CFD. Di sana, masyarakat terbiasa memarkir kendaraan di titik tertentu dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Sistem rekayasa lalu lintas juga disiapkan dengan lebih terstruktur, sehingga kendaraan tidak terkonsentrasi di satu titik.

Di Palembang, persoalan ini bahkan mendapat perhatian langsung dari Wali Kota Ratu Dewa. Dalam rapat evaluasi bersama jajaran pemerintah dan pihak terkait, ia menyoroti salah satu penyebab utama kemacetan, yakni belum optimalnya pengaturan lalu lintas di titik-titik krusial.

Ia mengungkapkan bahwa penutupan jalur sepanjang 2,8 kilometer, termasuk kawasan ikonik seperti Jembatan Ampera, berdampak besar terhadap pergerakan kendaraan. Dari pantauannya, kemacetan parah terjadi di kawasan Musi 4 dan Musi 6, yang menjadi jalur penting bagi mobilitas warga.

Yang lebih menjadi sorotan, menurutnya, adalah minimnya kehadiran petugas di titik tersebut. Padahal, kawasan itu justru menjadi simpul pertemuan arus kendaraan yang paling padat. Tanpa pengaturan yang memadai, antrean kendaraan pun mengular dan sulit terurai.

Situasi di lapangan bahkan sempat viral di media sosial. Sejumlah warga melakukan siaran langsung, memperlihatkan kondisi jalan yang tersendat dan melontarkan kritik secara terbuka. Respons publik yang begitu cepat menjadi sinyal kuat bahwa pelaksanaan CFD masih perlu banyak perbaikan.

Baca Juga:CFD Palembang Hari Pertama Diserbu Warga, Jalanan Malah Lumpuh dan Tuai Protes

Ratu Dewa pun tidak menampik hal tersebut. Ia menegaskan bahwa uji coba ini memang menjadi bahan evaluasi menyeluruh. Pemerintah kota, kata dia, akan meninjau ulang berbagai aspek, mulai dari rekayasa lalu lintas hingga penempatan personel di lapangan, agar kejadian serupa tidak terulang.

Tak hanya CFD, evaluasi juga menyasar pelaksanaan Car Free Night (CFN) yang digelar sebelumnya. Meski dinilai cukup berhasil menghidupkan suasana malam kota, masih ditemukan sejumlah catatan seperti persoalan sampah, kurangnya fasilitas tempat pembuangan, hingga penataan parkir yang belum maksimal.

Di sisi lain, perbedaan budaya mobilitas juga menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan. Di kota seperti Bandung dan Surabaya, masyarakat sudah terbiasa menggunakan transportasi umum atau berjalan kaki saat CFD berlangsung. Sementara di Palembang, penggunaan kendaraan pribadi masih sangat dominan, sehingga tekanan pada jalan alternatif menjadi jauh lebih besar.

Meski demikian, CFD tetap dianggap sebagai langkah positif untuk menghadirkan ruang publik yang sehat dan inklusif. Hanya saja, tanpa perencanaan yang matang dan evaluasi berkelanjutan, kegiatan ini berpotensi menimbulkan masalah baru di tengah masyarakat.

CFD Palembang kini tidak lagi sekadar menjadi agenda olahraga pagi, tetapi juga cermin bagaimana sebuah kota mengelola ruang publiknya. Harapan warga sederhana, kegiatan ini tetap berjalan, namun dengan pengaturan yang lebih baik agar tidak lagi identik dengan kemacetan.

Karena pada akhirnya, CFD bukan hanya soal menutup jalan, melainkan membuka ruang hidup yang lebih nyaman bagi semua.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak