- Menjelang Lebaran, sebagian masyarakat Palembang menjual perhiasan emas untuk membiayai kebutuhan mudik dan hari raya.
- Pemilik toko emas mengamati peningkatan transaksi jual beli emas menjelang Idulfitri untuk kebutuhan mendesak.
- Fenomena ini menunjukkan adanya tekanan ekonomi yang mendorong masyarakat memprioritaskan kebersamaan keluarga.
SuaraSumsel.id - Menjelang Lebaran, satu per satu keputusan sulit mulai diambil. Bukan soal memilih baju baru atau menu hidangan, tapi soal bagaimana caranya tetap bisa pulang.
Di tengah kebutuhan yang meningkat seperti biaya mudik, THR untuk keluarga, hingga kebutuhan harian, sebagian masyarakat memilih jalan yang tak mudah yakni menjual emas yang selama ini disimpan. Bagi mereka, ini bukan sekadar transaksi. Ini tentang prioritas.
Sari (38), warga Palembang, mengaku baru saja menjual gelang emas miliknya seberat 5 gram. Emas itu sebenarnya sudah lama ia simpan sebagai “pegangan darurat”.
“Tadinya nggak mau dijual. Tapi kebutuhan Lebaran banyak. Anak-anak juga pengin pulang kampung,” ujarnya.
Baca Juga:Bagikan THR Lebaran Lebih Mudah, BRI Catat 45,9 Juta Pengguna BRImo Aktif Gunakan Layanan Digital
Menurutnya, keputusan itu bukan tanpa pertimbangan.
“Emas bisa dicari lagi. Tapi momen Lebaran sama keluarga, itu yang nggak bisa diulang,” katanya.
Fenomena ini bukan kasus tunggal. Menjelang Idulfitri, kebutuhan rumah tangga memang meningkat signifikan. Mulai dari tiket perjalanan yang naik, biaya konsumsi, hingga tradisi memberi THR kepada keluarga dan kerabat.
Bagi sebagian orang, terutama yang tidak memiliki cadangan dana cukup, emas menjadi solusi tercepat.
Di salah satu toko emas di kawasan Pasar 16 Ilir Palembang, aktivitas jual beli terlihat lebih ramai dari biasanya.
Baca Juga:Innalillahi, Mantan Gubernur Sumsel Alex Noerdin Meninggal Dunia di Jakarta
“Kalau mendekati Lebaran, memang banyak yang jual emas. Alasannya hampir sama, untuk kebutuhan mudik dan Lebaran,” kata Rudi (45), pemilik toko emas.
Ia menyebut, kebanyakan yang dijual adalah perhiasan kecil seperti cincin atau gelang.
“Jarang yang jual dalam jumlah besar. Biasanya secukupnya saja, yang penting dapat uang cepat,” jelasnya.
Bagi banyak orang, menjual emas bukan hal sepele. Selain nilai materi, sering kali ada nilai emosional di dalamnya, hadiah pernikahan, kenang-kenangan, atau tabungan jangka panjang.
Namun, kondisi memaksa mereka untuk memilih. “Sedih pasti ada. Tapi ya mau gimana, kebutuhan sekarang lebih penting,” kata Sari.
Pengamat ekonomi menilai fenomena ini sebagai indikator tekanan ekonomi masyarakat menjelang Lebaran. Ketika masyarakat mulai menjual aset seperti emas untuk kebutuhan konsumsi, itu menunjukkan adanya tekanan pada daya beli.