Satu Klik Mengubah Nasib: Paket Rp50 Ribu Telkomsel Buka Ruang Belajar Tanpa Batas

Kisah Sessi menggambarkan perubahan yang lebih luas dari sekadar penggunaan teknologi baru

Tasmalinda
Minggu, 30 November 2025 | 16:53 WIB
Satu Klik Mengubah Nasib: Paket Rp50 Ribu Telkomsel Buka Ruang Belajar Tanpa Batas
suasana belajar yang dilalui sesi di kampus Universitas Sriwijaya
Baca 10 detik
  • Mahasiswi Unsri, Sessi, terbantu efisiensi penelitian menggunakan ChatGPT 5.0, namun terhambat biaya langganan tinggi sebelumnya.
  • Telkomsel berkolaborasi dengan OpenAI menghadirkan paket ChatGPT Go terjangkau, mengubah aksesibilitas AI bagi masyarakat.
  • Akses AI yang lebih mudah diharapkan memperluas manfaat teknologi bagi mahasiswa dan pelaku UMKM di seluruh Indonesia.

SuaraSumsel.id - Malam itu, mata Sessi Anggraini memerah setelah berjam-jam menatap layar laptop. Di depannya terbuka jurnal ekonomi berbahasa Inggris yang harus ia pahami untuk menyusun tugas penelitian, tetapi pikirannya terasa buntu.

Sudah hampir satu tahun ia mengandalkan ChatGPT 5,0 untuk membantu memahami literatur akademik, mengurai teori yang rumit, hingga merapikan data penelitian. Teknologi itu membantunya bertahan di tengah tugas kampus, namun harga langganan Rp75.000 per bulan membuatnya beberapa kali harus berpikir dua kali, bahkan sesekali patungan dengan teman saat saldo e-wallet tidak cukup.

Malam itu ia kembali berada di titik yang sama. Tenggat waktu terus mendekat, sementara langganan ChatGPT sudah tidak aktif. Ia membuka aplikasi MyTelkomsel, awalnya hanya untuk membeli kuota, ketika ingatannya tertuju pada pemberitaan mengenai promo paket ChatGPT Go seharga Rp50.000. Angka itu terdengar seperti pintu besar menuju napas lega bagi seorang mahasiswa yang setiap hari bertarung dengan tuntutan akademik.

Ia mencari paket itu dengan penuh harapan. Menu promo, paket digital, kolom pencarian. Namun penawaran itu tidak muncul di nomornya. Sessi menutup aplikasi sambil menahan helaan kecewa.

Baca Juga:Bank Sumsel Babel Night Run 2025 Berlangsung Meriah, Ribuan Peserta Padati JSC Malam Ini

“Andai semua mahasiswa bisa mendapat AI dengan harga terjangkau,” ucapnya pelan.

Meskipun belum berhasil mendapatkan promo itu, Sessi tetap menggunakan AI sebisanya. Ia mengunggah jurnal dalam format PDF, memasukkan tabel data, hingga mengirimkan grafik mata kuliah ekonomi manajerial untuk diminta analisis.

Proses yang sebelumnya menghabiskan waktu berjam-jam menjadi jauh lebih efisien. “Bukan untuk menghindari belajar, tapi supaya waktu yang ada dipakai untuk memahami,” katanya. Dengan bantuan AI, ia mampu menyelesaikan dua bab kajian pustaka dalam waktu yang sebelumnya hanya cukup untuk satu. Perlahan, tekanan belajar bergeser menjadi rasa percaya diri.

Kisah Sessi mencerminkan perubahan yang jauh lebih besar dari sekadar pemanfaatan teknologi. Kecerdasan buatan tidak lagi identik dengan sesuatu yang eksklusif dan mahal. Kolaborasi Telkomsel dan OpenAI menghadirkan peluang baru melalui paket bundling ChatGPT, menjadikan AI lebih dekat bagi pelajar, pekerja kreatif, dan pelaku UMKM.

Telkomsel memposisikan kolaborasi itu sebagai langkah memperluas akses kecerdasan buatan di Indonesia. Melalui konektivitas yang menjangkau lebih dari 98 persen populasi nasional, perusahaan berharap siapa pun di pusat kota maupun daerah pinggiran dapat memanfaatkan AI untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas kerja.

Baca Juga:Herman Deru: Kunci Ketahanan Pangan Sumsel pada Integrasi HuluHilir, Bukan Sekadar Produksi

Vice President Technology Strategy and Consumer Product Development Telkomsel, Ronald Limoa, menegaskan hal tersebut. “ChatGPT Go menjadi cara Telkomsel menghadirkan kecerdasan buatan yang lebih mudah diakses oleh seluruh masyarakat Indonesia dengan harga yang terjangkau. Melalui kolaborasi Telkomsel dan OpenAI, kini teknologi AI dapat dinikmati oleh lebih banyak orang berkat konektivitas digital Telkomsel yang telah menjangkau lebih dari 98 persen populasi Indonesia,” ujarnya.

Di dunia kampus, perubahan mulai terlihat. Mahasiswa kini tidak lagi hanya berburu jurnal untuk difotokopi, tetapi berdiskusi mengenai cara menggunakan AI untuk mengolah data. Para dosen mengingatkan bahwa integritas akademik harus dijaga, tetapi mereka juga mengakui bahwa teknologi mempercepat proses belajar dan meningkatkan kualitas penelitian.

Sessi merasakan dampaknya langsung. Waktu yang dulu habis untuk menyunting dokumen kini dapat ia gunakan untuk menganalisis bacaan, menyusun argumen, dan merefleksikan pengetahuan.

Di balik rasa yang masih tersisa, ia menyimpan harapan sederhana. Teknologi, pikirnya, seharusnya menjadi jembatan bagi setiap mahasiswa yang ingin bertahan dan berkembang, bukan fasilitas eksklusif bagi mereka yang memiliki cukup uang.

Sessi kembali menatap layar laptop yang sama malam itu. Tugasnya belum selesai, tetapi pikirannya terus bekerja, bukan hanya untuk menyelesaikan jurnal, melainkan untuk memperjuangkan mimpi yang lebih besar. Pengetahuan seharusnya tidak memandang saldo e-wallet.

AI seharusnya menjadi ruang belajar yang terbuka, di mana setiap mahasiswa, dari latar ekonomi apa pun, bisa masuk. Dan mungkin, di masa depan, perubahan itu tidak akan dimulai dari peluncuran teknologi besar, tetapi dari hal paling sederhana: keinginan seorang mahasiswa untuk membuka ruang belajar tanpa batas hanya dengan Rp50.000.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak