Film 'Mother Earth' Jadi Titik Balik, Warga Semende Ingin Terus Menjaga Adat Tunggu Tubang

Ketua Ghompok Kolektif, Muhammad Tohir, mengatakan film ini sengaja dibuat untuk masyarakat Semende agar mereka bisa menikmati budaya mereka

Tasmalinda
Selasa, 07 Oktober 2025 | 12:24 WIB
Film 'Mother Earth' Jadi Titik Balik, Warga Semende Ingin Terus Menjaga Adat Tunggu Tubang
nonton bareng film Tunggu Tubang Tak Akan Tumbang
Baca 10 detik
  • Warga Semende berkumpul menonton film Mother Earth yang mengangkat kisah adat Tunggu Tubang di layar tancap desa.

  • Film ini menjadi ruang refleksi bagi masyarakat untuk memahami kembali makna adat dan warisan leluhur mereka.

  • Pemutaran film ini membangkitkan semangat warga untuk terus menjaga dan melestarikan adat Tunggu Tubang.

SuaraSumsel.id - Malam di Semende Darat Tengah, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan (Sumsel) terasa berbeda pada Senin (6/10/2025). Di tengah udara sejuk perbukitan, warga Desa Kota Agung, Palak Tanah, dan Muara Tenang berbondong-bondong datang. Mereka bukan menonton film biasa, melainkan menonton kisah mereka sendiri, yakni kisah tentang adat yang membentuk jati diri: Tunggu Tubang.

Film berdurasi satu jam berjudul “Mother Earth: Tunggu Tubang Tak Akan Tumbang, Kedaulatan Pangan Berkelanjutan” diputar dengan konsep layar tancap di tengah desa. Film karya Komunitas Ghompok Kolektif itu seketika menjelma menjadi ruang nostalgia sekaligus refleksi bagi masyarakat Semende.

Sejak pukul 19.30 WIB, warga sudah memenuhi area pemutaran. Lampu-lampu desa nan redup serta layar putih sederhana menjadi saksi bagaimana budaya yang diwariskan selama 15 generasi kembali hidup dalam cahaya proyektor.

Bagi masyarakat Semende, Tunggu Tubang bukan sekadar adat. Ia adalah sistem sosial yang mengatur pewarisan rumah dan sawah kepada anak perempuan pertama dalam keluarga, warisan yang tidak boleh diperjualbelikan.

Baca Juga:Dewan Kopi Sumsel: Filosofi Tunggu Tubang Jadi Inspirasi Pelestarian Kopi Semendo

Adat ini menjaga ketahanan pangan, memperkuat solidaritas, dan memastikan keberlanjutan kehidupan di tanah leluhur.

“Lewat film ini, kami tidak sekadar menonton. Kami seperti diajak pulang ke akar kami sendiri,” kata Eliana (46), seorang Tunggu Tubang dari Desa Kota Agung.

“Kalau dulu layar tancap menayangkan film hiburan, sekarang kami menonton sejarah dan adat kami sendiri. Rasanya haru sekali,” sambungnya.

Bagi generasi muda, kegiatan ini menjadi pengalaman langka dan berkesan. Siska Damaiyanti (24), warga Desa Palak Tanah, mengaku baru dua kali menonton layar tancap di desanya, pertama saat penayangan film Pak Pandir sekitar sepuluh tahun lalu, dan kedua pada malam pemutaran Mother Earth.

“Film ini membuka mata kami,” ucapnya.

Baca Juga:Saksikan Kisah Tunggu Tubang di UIN Raden Fatah Palembang: Film, Foto, dan Diskusi Publik

“Sebagai pemuda, kami belajar bahwa adat Tunggu Tubang bukan sesuatu dari masa lalu, tapi warisan yang harus dijaga agar desa kami tetap kuat,” sambungnya.

Ketua Ghompok Kolektif, Muhammad Tohir, mengatakan film ini sengaja dibuat untuk masyarakat Semende agar mereka bisa menikmati budaya mereka sendiri dengan cara yang akrab.

“Kami ingin film ini menjadi cermin bagi masyarakat. Mereka bisa menonton, mengenali diri, dan merefleksikan makna adat yang selama ini hidup di sekitar mereka,” ujarnya menjelaskan.

Film Mother Earth merupakan bagian dari proyek yang didukung oleh Kementerian Kebudayaan melalui Dana Indonesiana dan LPDP, serta sebelumnya telah ditayangkan dalam kegiatan diseminasi di UIN Raden Fatah Palembang bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumatera Selatan.

Camat Semende Darat Tengah, Zulfikar, menyampaikan apresiasinya atas inisiatif ini.

“Film ini bukan hanya menghidupkan kembali tradisi layar tancap, tetapi juga menumbuhkan kebanggaan terhadap adat Tunggu Tubang,” ujarnya.

“Kami berharap kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut agar generasi muda memahami dan menjaga identitas budaya mereka,” ucapnya.

Malam itu, di bawah langit Semende yang jernih, layar tancap bukan sekadar tontonan. Ia menjadi jembatan antara adat dan masa depan, antara nilai leluhur dan cita-cita generasi selanjutnya.

Dari sanalah, pesan film ini bergema: Tunggu Tubang tak akan tumbang, selama semangat menjaga bumi dan budaya tetap hidup di hati masyarakat Semende.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Seberapa Sehat Jam Tidurmu Selama Bulan Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Paling Cocok Jadi Takjil Apa saat Buka Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis: Jajal Seberapa Jawamu Lewat Tebak Kosakata Jatuh
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tebak Jokes Bapak-bapak, Cek Seberapa Lucu Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak