Agar bisa lebih menikmati indah lekukmu...
Bait pertama puisi naratif berjudul “Keruh Tubuhmu” yang ditulis Kemas Yudha [24 tahun] di atas semacam pengakuan dirinya sebagai generasi Gen Z terhadap Sungai Musi.
Meskipun dirinya lahir dan tumbuh di kampung yang berada di tepian Sungai Musi [selama 24 tahun], dia merasa tidak memberikan sesuatu yang berarti terhadap sungai terpanjang di Sumatera Selatan tersebut yang terus mengalami pencemaran.
Yudha pun berandai menjadi “antu banyu” agar mampu memahami Sungai Musi. Antu banyu adalah mitos tentang makhluk yang hidup di Sungai Musi, yang sering menangkap anak-anak yang tengah mandi atau berenang.
Ketidakpedulian terhadap Sungai Musi pada akhirnya menjadi semacam penerimaan terhadap kerusakan dan pencemaran yang terjadi di sungai yang panjangnya sekitar 750 kilometer. Pasrah menunggu masa depan Sungai Musi.
Musi, pada sendu muaramu
Aku menyusup dengan peluk dalam pelikmu
Musi, ku terima semua limbahmu
Sebagai bumbu pemantik nafsu
Cukup sepi dan sunyi malam ini menjadi saksi