facebook

Highlight Terpopuler News Lifestyle Indeks

Kualitas Air Rendah, Sungai di Sumsel Tercemar Industri Pertambangan

Wakos Reza Gautama Senin, 06 Juni 2022 | 09:10 WIB

Kualitas Air Rendah, Sungai di Sumsel Tercemar Industri Pertambangan
Ilustrasi Sungai Musi Palembang. Sungai di Sumsel tercemar industri pertambangan. [Antara/Yudi Abdullah/21]

mengindikasikan jika pencemaran sungai di Sumsel berasal dari aktivitas tambang

SuaraSumsel.id - Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan Provinsi Sumatera Selatan (DLHP Sumsel) melaporkan kualitas air sungai di daerah ini masuk dalam kategori rendah karena pencemaran dari berbagai aktivitas manusia, diantaranya pertambangan.

Kepala Bidang Gakkum DLHP Sumsel Yulkar Pramilus mengatakan, rendahnya kualitas air sungai didapatkan dari hasil pengukuran tim DLHP ke 73 titik pantau di berbagai wilayah aliran sungai.

Hasil pengukuran tim DLHP terakhir yakni pada tahun 2021 mendapatkan angka Indeks Kualitas Air atau IKA sungai kategori rendah hanya mencapai 58,25.

"Angka IKA itu jauh dari target ketetapan yang pada RPJMD seharusnya mencapai 67,05. Dari beberapa beberapa titik pantau dan parameter mengindikasikan jika pencemaran berasal dari aktivitas tambang," katanya dalam Fokus Grup Diskusi terkait Dampak Aktivitas Pertambangan di Sumsel dalam Perspektif Lingkungan Hidup dan Keadilan Ekonomi di Hotel Grand Ina Daira, Palembang.

Baca Juga: Momen Bule Cicip Brengkes Tempoyak Khas Palembang, Reaksinya Bikin Kaget

Meski demikian ia menjelaskan, Pemerintah Provinsi dan DLHP berkomitmen akan meningkatkan standar baku mutu pengelolaan limbah sektor pertambangan yang ada di wilayah sungai, sehingga IKA bisa mencapai target.

Proses peningkatan mutu pengelolaan limbah itu bisa berjalan produktif mengingat berdasarkan Undang-undang Cipta Kerja perusahaan pertambangan wajib menggunakan pendekatan berbasis teknologi.

“Dari sini tentu diharapkan adanya pengawasan yang lebih baik lagi ke depannya,” kata dia, seperti realisasi peningkatan Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) yang keseluruhan sudah di atas target yakni 62,04 menjadi 69,70 pada tahun 2021.

Peneliti Hidrolik dan Lingkungan Universitas Bina Darma Palembang Prof Dato Achmad Syarifuddin mengatakan, dari beberapa penelitian kualitas air sungai yang ada di wilayah pertambangan seperti di Kabupaten Muara Enim, kandungan kimia air sungai mengalami peningkatan yang cukup signifikan ketika melintasi aktivitas tambang batubara.

“Penurunan kualitas air Sungai Enim cenderung meningkat secara signifikan akibat adanya kegiatan industri pertambangan batubara sehingga berpengaruh terhadap kualitas hidup masyarakat,” kata dia.

Baca Juga: Update Pencarian Eril: Jenazah Belum Ditemukan Setelah Pencarian di Sepanjang 29 Km Sungai Aare

Menurutnya, perbaikan kualitas lingkungan hidup utamanya sungai membutuhkan keseriusan dari seluruh instansi terkait, terutama, oleh lembaga pengawasan dalam memberikan sanksi. Sehingga, pelaku usaha di industri pertambangan dapat lebih memperhatikan kondisi air sungai.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait