Saat remaja, ia terdiagnosa gangguan bipolar. Ini membuat ayahnya, Dedi yang terlalu protektif, sehingga Niskala tidak bisa melanjutkan sekolah dan hanya bisa bergaul bersama Dinda dan Oktavinus, teman-temannya sejak kecil.
Ketika ayahnya keluar untuk bekerja, Dinda dan Oktavinus selalu mengajaknya ke kuliah, dengan sepengetahuan ibunya, Mella.
Suatu hari di kampus, seorang murid bernama Pram melihat Niskala dan jatuh cinta kepadanya. Pram memiliki pekerjaan sebagai pelayan di kafe bernama Antalogi dan juga gemar membuat musik akustik, namun bosnya tidak yakin nyanyiannya cocok kafe.
Keesokan harinya, ia menawarkan bantuan ujian Niskala menolak dan ia mendapatkan nilai sempurna. Sesuai perjanjian, Pram mentraktirnya, Dinda, dan Oktavinus di Antalogi. Niskala menentangnya untuk bernyanyi, lagunya yang politis membuat orang-orang pergi, namun Niskala menyukainya.
Baca Juga:Kasus Positif COVID-19 Ditemukan di Palembang, Dinkes Sumsel: Warga Kurangi Perjalanan
Mereka semakin dekat dan, setelah rekaman nyanyin mereka berdua menjadi viral, bos Pram membuat slot jadwal musik untuk mereka berdua. Niskala semakin bahagia setelah bersama Pram.
Semakin hari, Mella semakin cemas akan keberadaan Niskala yang semakin jarang di rumah, ia pun menegur Dinda dan Oktavinus.
Di akun media sosial sang sutradara, warganet meminta agar film ini bisa dibuat series.