Udaranya lebih sejuk tahun ini, tidak seperti tahun lalu, apalagi tahun 2015 lalu. Masyarakat desa pun berkeinginan agar kebakaran lahan dan hutan tidak terulang seperti tahun-tahun sebelumnya.
“Air rawa masih tinggi di bulan September ini, tidak banyak terdengar kebakaran besar di lahan perusahaan BMH dan perusahaan lainnya,” ujar Tokoh Masyarakat Jerambah Rengas, Muhammad Syukrie di awal bulan Oktober lalu.
Desa di Kabupaten Ogan Komering Ilir ini menjadi salah satu pencatat bencana kebakaran Sumatera Selatan.
Desa di Kecamatan Pangkalan Lampan ini diapit lahan konsesi perusahaan, baik sawit maupun hutan tanaman industri dan kerap terdampak akibat kebakaran tersebut.
Baca Juga:Jejak Penyulut Api Karhutla di Sumsel, Siapa Bertanggungjawab? (1)
Menurut Syukrie, pada tahun ini kebakaran hutan dan lahan tidak seperti tahun 2019 apalagi 2015.
Pada medio Agustus, titik panas sempat membara di Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan namun Camat Tulung Selapan, Jemi menceritakan kebakaran lebih banyak pada lahan tidak produktif.
Kebakaran 2019 dengan musim kemarau lebih panjang menjadi pengalaman di Tulung Selapan.
“Sekarang ini, justru pada lahan-lahan yang tidak produktif. Tidak diusahakan, tidak terpantau aktif tapi di tahun ini jauh berkurang dibandingkan tahun-tahun lalu,” ungkapnya.
Berdasarkan data HaKI Sumatera Selatan pada tahun ini, terjadi titik panas yang tidak begitu signifikan.
Baca Juga:Disdik Sumsel; Belajar Tatap Muka Diperbolehkan Bukan Diwajibkan
Sejumlah perusahaan juga menyulut api kebakaran hutan dan lahan seperti tahun-tahun sebelumnya hanya saja tingkat kepercayaan titik panas kurang dari 75%, atau membutuhkan analisis lebih lanjut mengenai kebakaran tersebut.