“Jika Sungai Musi mengalami kerusakan atau perubahan, tentu saja kelompok perempuan yang kali pertama menerima atau merasakan dampaknya. Mulai dari bencana banjir, kekeringan, kesehatan, dan ekonomi,” ungkap ia.
Selain itu dalam pertunjukkan tersebut juga kembali mengingatkan peradaban bahari itu yakni menjunjung nilai-nilai kebhinekaan.
“Sejak berabad-abad lalu Sungai Musi dikunjungi berbagai suku bangsa di dunia. Mereka membaur menjadi masyarakat melayu. Hybrid. Nah, hingga hari ini tercatat tidak pernah terjadi konflik antar suku atau etnis yang menetap di Sungai Musi, meskipun ada perbedaan bahasa, kepercayaan, dan lainnya,” kata Sonia.
Kesemuanya disatukan dengan tradisi yang berajak pada kearifan Sungai Musi, misalnya tata cara mandi, mencuci, mencari ikan, dan berperahu, termasuk pula tata cara berbahasa dan berinteraksi seperti berdagang.
Baca Juga:Mirip Jokowi, Pemkot Palembang Juga Bakal Pindah Kantor
“Semua komunitas mengenal sedekah sungai,” tutup Sonia.