- Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan melanjutkan penyemaian dry ice dan modifikasi cuaca untuk mengatasi karhutla.
- BMKG mencatat operasi hingga 22 Oktober mencakup 18 sorti penerbangan menggunakan dry ice dan garam NaCl.
- Gubernur Herman Deru menyatakan penanganan karhutla di dua juta hektare gambut harus terus dilanjutkan.
SuaraSumsel.id - Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan masih mengandalkan teknologi penyemaian dry ice dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk menangani dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Langkah ini tetap dilanjutkan meskipun hujan mulai mengguyur sejumlah wilayah.
Namun, di tengah upaya tersebut, persoalan penting yang perlu dijawab adalah seberapa efektif teknologi modifikasi cuaca dalam mengurangi kabut asap dan membantu mengendalikan karhutla yang berulang di Sumatera Selatan.
Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru mengatakan pemerintah daerah tidak ingin lengah meskipun sejumlah kawasan mulai diguyur hujan. Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kondisi cuaca diperkirakan masih berpotensi kembali kering sebelum musim hujan berlangsung lebih merata pada akhir November hingga awal Desember 2026.
"Kita tidak boleh lengah meskipun sekarang sudah mulai turun hujan. Berdasarkan prediksi BMKG, masih ada potensi cuaca kembali kering sehingga penanganan karhutla melalui berbagai upaya tetap harus dilanjutkan," kata Herman Deru setelah meninjau lokasi karhutla di Kecamatan Tulung Selapan, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Minggu (1/11/2026).
Menurut Herman Deru, penyemaian dry ice dilakukan dengan mengerahkan satu unit pesawat. Sementara pelaksanaan OMC didukung dua pesawat Hercules untuk membantu distribusi dan pelaksanaan operasi modifikasi cuaca.
Upaya tersebut diharapkan dapat mengurangi konsentrasi asap yang terperangkap di atmosfer sekaligus meningkatkan peluang terbentuknya awan hujan di wilayah terdampak karhutla.
Dry ice bukan pemadam kebakaran, bagaimana cara kerjanya?
Penggunaan dry ice dalam penanganan kabut asap menjadi salah satu teknologi yang mendapat perhatian dalam penanganan karhutla Sumatera Selatan tahun ini.
Berdasarkan penjelasan BMKG, penyemaian dry ice atau es kering diarahkan untuk membantu mengganggu lapisan inversi atmosfer. Lapisan ini dapat menyebabkan asap dan polutan terperangkap di dekat permukaan sehingga konsentrasinya meningkat.
Dalam kondisi inversi, udara yang lebih hangat berada di atas lapisan udara lebih dingin dekat permukaan. Situasi tersebut menghambat pergerakan udara secara vertikal sehingga asap sulit terdispersi.
Baca Juga: Karhutla Sumsel Berulang, 43 Perusahaan Pemegang Konsesi Didorong Pulihkan Gambut, Siapa Mengawasi?
Melalui penyemaian dry ice, BMKG berupaya memengaruhi kondisi suhu atmosfer agar lapisan inversi melemah. Dengan demikian, asap diharapkan dapat terdispersi dan peluang pertumbuhan awan hujan meningkat.
Namun, teknologi ini bukan metode untuk memadamkan api secara langsung. Pemadaman sumber kebakaran tetap membutuhkan penanganan petugas di darat maupun dukungan operasi udara.
Artinya, keberhasilan penyemaian dry ice tidak bisa hanya dinilai dari terlaksananya penerbangan atau jumlah bahan yang disemai. Perlu ada evaluasi mengenai perubahan kondisi atmosfer, konsentrasi asap, kualitas udara, dan dampaknya terhadap masyarakat.
OMC bergantung pada kondisi atmosfer
Selain penyemaian dry ice, pemerintah juga melanjutkan OMC menggunakan bahan semai natrium klorida (NaCl) atau garam untuk mendukung pembentukan hujan.
BMKG sebelumnya menjelaskan bahwa penggunaan dry ice dan NaCl memiliki tujuan berbeda dalam operasi modifikasi cuaca.
Tag
Berita Terkait
-
Karhutla Sumsel Berulang, 43 Perusahaan Pemegang Konsesi Didorong Pulihkan Gambut, Siapa Mengawasi?
-
Bank Sumsel Babel Luncurkan Sultan Muda Corner, Perkuat Pembiayaan UMKM dan Wirausaha Muda
-
PT RAS Jadi Tersangka Karhutla, Polda Sumsel Tangani 20 Perkara yang Melibatkan Korporasi
-
Gambut Sumsel Terbakar 99.906 Hektar, Pemuda Desak Pemerintah Buka Data dan Tindak Pelanggaran
-
Mahasiswa Kemah di Kantor Gubernur Sumsel saat Sumpah Pemuda, Desak Transparansi Anggaran Karhutla
Terpopuler
- Banyak UMKM Mundur dari Rans Carnival Jogja, Warganet Pasang Badan Bantu Larisin
- Tak Ingin Sakiti Hati Warga Jogja, OM Wawes Pilih Batal Manggung di RANS Carnival
- 5 Sunscreen untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- Tolak Andrea Bocelli, GPCI Bakal Gelar Konser Besar Galang Dana Palestina
- Konser Andrea Bocelli di Borobudur Tetap Digelar, KIBBM Siapkan Tablig Akbar Penolakan
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
2 Juta Hektare Gambut Sumsel Punya Potensi Ekonomi, Bambu Betung dan Jelutung Diuji
-
Nelayan Air Nyatoh Kehilangan Penghasilan, Tangkapan Ikan Teri Turun akibat Laut Keruh
-
Hujan Sudah Turun, Karhutla Sumsel Belum Tuntas, Seberapa Efektif Dry Ice dan OMC?
-
Kambang Iwak Diterjang Pohon Tumbang, Palembang Hadapi Ancaman Pohon Tua saat Musim Hujan
-
Membaca Jongot: Hutan Warisan Suku Musi yang Menawarkan Harapan di Tengah Krisis Iklim