- Panche Hub menyelenggarakan acara Lebaran Art Palembang di Palembang pada tanggal 23 Oktober hingga 1 November 2026.
- Acara tersebut menghadirkan berbagai aktivitas seperti pameran karya, pasar seni, dan pertunjukan untuk mendekatkan seni kepada masyarakat.
- Kegiatan ini bertujuan menjembatani seniman lokal dengan masyarakat awam agar karya seni lebih mudah dijangkau publik.
Pendekatan ini menjadi salah satu cara memperkenalkan seni melalui medium yang lebih kasual. Karya tidak selalu harus hadir dalam bentuk lukisan berukuran besar atau instalasi yang dipajang di ruang pamer. Ilustrasi, merchandise, dan barang koleksi juga dapat menjadi medium untuk mengenalkan karakter visual serta gagasan seorang kreator.
Ghaly mengatakan, salah satu persoalan yang ingin dijembatani Panche Hub adalah anggapan bahwa seni sulit dijangkau masyarakat awam, baik dari sisi pemahaman maupun harga.
"Kami ingin seni itu dianggap bernilai tinggi karena bagi kami seni memiliki value. Cuma ada beberapa hal yang membuat seni itu bisa dijangkau oleh masyarakat awam, contohnya seperti melalui acara art market ini," ujarnya.
Ia menjelaskan, produk art made buatan ilustrator, seperti cenderamata berbasis karakter visual maupun barang koleksi lainnya, dapat menjadi alternatif bagi masyarakat yang ingin mulai mengenal dan memiliki karya seni dengan harga lebih ramah di kantong.
Dengan demikian, art market tidak hanya menjadi ruang transaksi, tetapi juga membuka kemungkinan lahirnya hubungan baru antara seniman dan penikmat seni.
Memutus Sekat Ekosistem Seni Palembang
Di balik penyelenggaraan Lebaran Art, terdapat persoalan yang lebih besar mengenai perkembangan seni rupa di Palembang. Ghaly tidak menampik bahwa ekosistem seni di kota ini masih cenderung terkotak-kotak. Karya dan pesan yang dibawa para seniman belum sepenuhnya menjangkau masyarakat umum.
Kondisi tersebut membuat seni berisiko hanya berputar di lingkungan yang sudah memiliki ketertarikan terhadap dunia kreatif.
"Kami masuk di sini sebagai orang yang ingin, agar orang luar wajib tahu bahwa di Palembang sendiri itu ada seni. Orang-orang harus lihat kalau seni di Palembang bisa juga bersaing seperti seni-seni di pulau lain. Makanya kami mengadakan Lebaran Seni Palembang dengan konsep utama art market," kata Ghaly.
Baca Juga: Nomor yang Tak Pernah Berganti, IM3 Temani Zelvan dari Bangku SMP hingga Cari Penghasilan
Menurutnya, Palembang memiliki potensi kesenian lokal yang perlu mendapatkan ruang lebih luas agar dikenal masyarakat, termasuk publik dari luar daerah.
Tantangannya bukan hanya menghasilkan karya, tetapi juga membangun ekosistem yang memungkinkan karya tersebut bertemu dengan audiens baru.
Dalam konteks itulah ruang kreatif memiliki peran penting. Kehadirannya dapat menjadi penghubung antara seniman, komunitas, pelaku industri kreatif, dan masyarakat yang selama ini belum banyak bersentuhan dengan seni.
Merayakan Seni sebagai Bagian dari Identitas Kota
Nama Lebaran Art Palembang sendiri memiliki cerita tersendiri. Ghaly menjelaskan, pemilihan kata lebaran berkaitan dengan keinginan Panche Hub menjadikan seni sebagai sesuatu yang dirayakan secara berkala. Inspirasi tersebut juga merujuk pada gelaran Art Jog di Yogyakarta yang dikenal sebagai salah satu perayaan seni rupa.
"Enam tahun bertumbuhnya Panche itu artinya ulang tahun Panche dan kami ingin merayakannya. Salah satu kata yang dekat dengan merayakan itu adalah lebaran, jadi kami pakai diksi dari lebarannya sendiri. Konsep dari lebaran itu biasanya merayakan sesuatu yang ada satu tahun sekali. Kami juga ingin kesenian di Palembang dirayakan satu tahun sekali," jelasnya.
Tag
Berita Terkait
-
Nomor yang Tak Pernah Berganti, IM3 Temani Zelvan dari Bangku SMP hingga Cari Penghasilan
-
7 Fakta Midang Morge Siwe, Tradisi Lebaran di Kayuagung yang Ramai Diserbu Wisatawan
-
Tak Perlu Mahal, 7 Tempat Ngedate Romantis di Palembang, dari Rooftop hingga Sungai Musi
-
10 Cafe 24 Jam di Palembang 2026 untuk Begadang & Kerja Malam, Lengkap Lokasi dan Rute
-
Belajar dari Ikan Betok dan Gabus dalam Lukisan: Saat Alam Kehilangan Aman
Terpopuler
- Banyak UMKM Mundur dari Rans Carnival Jogja, Warganet Pasang Badan Bantu Larisin
- Tak Ingin Sakiti Hati Warga Jogja, OM Wawes Pilih Batal Manggung di RANS Carnival
- 5 Sunscreen untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- Tolak Andrea Bocelli, GPCI Bakal Gelar Konser Besar Galang Dana Palestina
- Konser Andrea Bocelli di Borobudur Tetap Digelar, KIBBM Siapkan Tablig Akbar Penolakan
Pilihan
-
Gempa M 5,5 Guncang Laut Barat Laut Tanimbar, Getaran Terasa hingga Saumlaki
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
Terkini
-
2 Juta Hektare Gambut Sumsel Punya Potensi Ekonomi, Bambu Betung dan Jelutung Diuji
-
Nelayan Air Nyatoh Kehilangan Penghasilan, Tangkapan Ikan Teri Turun akibat Laut Keruh
-
Dari Nongkrong hingga Koleksi Karya, Cara Anak Muda Palembang Menikmati Seni
-
Hujan Sudah Turun, Karhutla Sumsel Belum Tuntas, Seberapa Efektif Dry Ice dan OMC?
-
Kambang Iwak Diterjang Pohon Tumbang, Palembang Hadapi Ancaman Pohon Tua saat Musim Hujan