Tasmalinda
Minggu, 01 November 2026 | 22:30 WIB
Suasana Lebaran Art Palembang di Panche Hub, Palembang, yang berlangsung pada 23 Oktober hingga 1 November 2026. [Mohamad Shabir Fikri/suara.com]
Baca 10 detik
  • Panche Hub menyelenggarakan acara Lebaran Art Palembang di Palembang pada tanggal 23 Oktober hingga 1 November 2026.
  • Acara tersebut menghadirkan berbagai aktivitas seperti pameran karya, pasar seni, dan pertunjukan untuk mendekatkan seni kepada masyarakat.
  • Kegiatan ini bertujuan menjembatani seniman lokal dengan masyarakat awam agar karya seni lebih mudah dijangkau publik.

Pendekatan ini menjadi salah satu cara memperkenalkan seni melalui medium yang lebih kasual. Karya tidak selalu harus hadir dalam bentuk lukisan berukuran besar atau instalasi yang dipajang di ruang pamer. Ilustrasi, merchandise, dan barang koleksi juga dapat menjadi medium untuk mengenalkan karakter visual serta gagasan seorang kreator.

Ghaly mengatakan, salah satu persoalan yang ingin dijembatani Panche Hub adalah anggapan bahwa seni sulit dijangkau masyarakat awam, baik dari sisi pemahaman maupun harga.

"Kami ingin seni itu dianggap bernilai tinggi karena bagi kami seni memiliki value. Cuma ada beberapa hal yang membuat seni itu bisa dijangkau oleh masyarakat awam, contohnya seperti melalui acara art market ini," ujarnya.

Ia menjelaskan, produk art made buatan ilustrator, seperti cenderamata berbasis karakter visual maupun barang koleksi lainnya, dapat menjadi alternatif bagi masyarakat yang ingin mulai mengenal dan memiliki karya seni dengan harga lebih ramah di kantong.

Dengan demikian, art market tidak hanya menjadi ruang transaksi, tetapi juga membuka kemungkinan lahirnya hubungan baru antara seniman dan penikmat seni.

Memutus Sekat Ekosistem Seni Palembang

Di balik penyelenggaraan Lebaran Art, terdapat persoalan yang lebih besar mengenai perkembangan seni rupa di Palembang. Ghaly tidak menampik bahwa ekosistem seni di kota ini masih cenderung terkotak-kotak. Karya dan pesan yang dibawa para seniman belum sepenuhnya menjangkau masyarakat umum.

Kondisi tersebut membuat seni berisiko hanya berputar di lingkungan yang sudah memiliki ketertarikan terhadap dunia kreatif.

"Kami masuk di sini sebagai orang yang ingin, agar orang luar wajib tahu bahwa di Palembang sendiri itu ada seni. Orang-orang harus lihat kalau seni di Palembang bisa juga bersaing seperti seni-seni di pulau lain. Makanya kami mengadakan Lebaran Seni Palembang dengan konsep utama art market," kata Ghaly.

Baca Juga: Nomor yang Tak Pernah Berganti, IM3 Temani Zelvan dari Bangku SMP hingga Cari Penghasilan

Menurutnya, Palembang memiliki potensi kesenian lokal yang perlu mendapatkan ruang lebih luas agar dikenal masyarakat, termasuk publik dari luar daerah.

Tantangannya bukan hanya menghasilkan karya, tetapi juga membangun ekosistem yang memungkinkan karya tersebut bertemu dengan audiens baru.

Dalam konteks itulah ruang kreatif memiliki peran penting. Kehadirannya dapat menjadi penghubung antara seniman, komunitas, pelaku industri kreatif, dan masyarakat yang selama ini belum banyak bersentuhan dengan seni.

Merayakan Seni sebagai Bagian dari Identitas Kota

Nama Lebaran Art Palembang sendiri memiliki cerita tersendiri. Ghaly menjelaskan, pemilihan kata lebaran berkaitan dengan keinginan Panche Hub menjadikan seni sebagai sesuatu yang dirayakan secara berkala. Inspirasi tersebut juga merujuk pada gelaran Art Jog di Yogyakarta yang dikenal sebagai salah satu perayaan seni rupa.

"Enam tahun bertumbuhnya Panche itu artinya ulang tahun Panche dan kami ingin merayakannya. Salah satu kata yang dekat dengan merayakan itu adalah lebaran, jadi kami pakai diksi dari lebarannya sendiri. Konsep dari lebaran itu biasanya merayakan sesuatu yang ada satu tahun sekali. Kami juga ingin kesenian di Palembang dirayakan satu tahun sekali," jelasnya.

Load More