Tasmalinda
Rabu, 28 Oktober 2026 | 19:58 WIB
Sejumlah kendaraan melintas di simpang susun Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) ruas Palembang-Lampung yang tertutup kabut asap di Desa Ibul Besar III, Pemulutan, Ogan Ilir (OI), Sumatera Selatan, Selasa (13/10/2026). 438 ribu kasus ISPA di Sumsel, siapa menghitung kerugian perempuan dan anak akibat Karhutla? [ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/tom]
Baca 10 detik
  • Manager Legal RAWANG, Kartika Lestari, memaparkan kerugian akibat karhutla di Sumatera Selatan pada 28 Oktober 2026.
  • Kebakaran hutan dan lahan menyebabkan 438.120 kasus ISPA serta memaksa siswa sekolah menjalani pembelajaran jarak jauh selama 47 hari.
  • Organisasi RAWANG mengusulkan kajian ekonomi berbasis gender dan penggunaan ukuran DALY untuk menghitung kerugian dampak karhutla.

"RAWANG mengusulkan penggunaan Disability-Adjusted Life Year (DALY), yakni ukuran beban penyakit yang memperhitungkan tahun hidup sehat yang hilang akibat kematian dini maupun kondisi sakit atau disabilitas," ujarnya.

Dalam simulasi yang dipaparkan, organisasi tersebut memperkirakan 18.747 balita dengan ISPA dapat berkaitan dengan sekitar 281 tahun hidup sehat yang hilang, berdasarkan asumsi durasi sakit 14 hari dan bobot disabilitas tertentu. RAWANG juga membuat simulasi yang mengonversi estimasi beban kesehatan menjadi nilai ekonomi.

RAWANG turut menyoroti kerentanan ekosistem gambut, pengeringan lahan, perubahan fungsi kawasan, dan pengawasan konsesi sebagai persoalan yang perlu ditelusuri dalam upaya mencegah kebakaran berulang.

Organisasi tersebut menilai penanganan karhutla tidak cukup berfokus pada pemadaman setelah titik api muncul. Perlindungan gambut, pengawasan pengelolaan lahan, dan pencegahan kebakaran harus berjalan beriringan dengan perlindungan kesehatan serta pendidikan masyarakat.

RAWANG juga mengusulkan penguatan layanan kesehatan bagi masyarakat terdampak, kajian kerugian ekonomi berbasis gender, pendanaan pemulihan gambut, serta peningkatan akses keadilan bagi warga yang terdampak kabut asap.

Load More