- BNPB menguji penggunaan 2,4 ton dry ice di Sumatera Selatan pada 15-16 Oktober 2026 untuk mengurangi dampak kabut asap.
- Kepala BNPB Kristomei Sianturi menyatakan evaluasi efektivitas dan biaya menentukan penerapan teknologi tersebut di wilayah Indonesia lainnya.
- BNPB menegaskan teknologi dry ice hanya sebagai pendukung, sehingga pencegahan dan pemadaman langsung tetap sangat diperlukan.
SuaraSumsel.id - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengkaji kemungkinan penerapan teknologi dry ice atau es kering untuk membantu menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai wilayah Indonesia. Evaluasi dilakukan setelah teknologi tersebut diuji coba untuk mengurangi dampak kabut asap di Sumatera Selatan.
Kepala BNPB Letjen TNI Kristomei Sianturi mengatakan pihaknya telah menerima paparan dari komandan satuan tugas operasi penanganan karhutla mengenai upaya yang dilakukan di Sumatera Selatan. Hasil evaluasi akan menjadi pertimbangan untuk menentukan apakah teknologi serupa dapat diterapkan di daerah lain.
"Kalau memang teknologi ini dianggap bagus, tidak terlalu makan banyak biaya, dan bisa kita aplikasikan di seluruh wilayah Indonesia, ya kenapa tidak," kata Kristomei di Palembang, Minggu (18/10/2026), dikutip dari ANTARA.
Teknologi dry ice telah diuji coba sebanyak dua kali di Sumatera Selatan untuk mendukung operasi modifikasi cuaca. Evaluasi diperlukan guna mengetahui efektivitas metode tersebut dalam membantu mengurangi konsentrasi asap dan mendukung upaya penanganan karhutla.
Penggunaan dry ice menjadi perhatian ketika kabut asap di Palembang mengganggu aktivitas masyarakat dan penerbangan. Pemerintah kemudian menguji pendekatan modifikasi atmosfer untuk membantu mengurangi asap yang terperangkap di dekat permukaan.
Berbeda dari penyemaian awan yang menggunakan bahan seperti natrium klorida atau garam untuk mendukung pembentukan hujan, metode dry ice diarahkan untuk memengaruhi kondisi atmosfer yang membuat asap tertahan.
Pada kondisi tertentu, lapisan inversi dapat menghambat pergerakan udara vertikal sehingga asap dan polutan menumpuk di dekat permukaan. Penyemaian dry ice ditujukan untuk membantu mengganggu kestabilan lapisan tersebut agar pergerakan udara menjadi lebih baik dan konsentrasi asap berpotensi berkurang.
Namun, hasil uji coba di Sumatera Selatan masih perlu dievaluasi lebih lanjut. Keberhasilan penerapan teknologi ini tidak cukup dinilai dari perubahan jarak pandang dalam periode tertentu, tetapi juga perlu dilihat berdasarkan data kualitas udara, kondisi atmosfer, durasi dampak, dan biaya operasional.
Sebanyak 2,4 Ton Dry Ice Telah Digunakan
Baca Juga: Bukan Sekadar Asap Kiriman, 452 Hektare Lahan Palembang Terbakar di Tengah Ekspansi Properti
Sebelumnya, operasi modifikasi cuaca menggunakan dry ice di Sumatera Selatan telah menghabiskan sekitar 2,4 ton bahan semai dalam tiga penerbangan pada 15–16 Oktober 2026.
Badan penanggulangan bencana daerah menyebut adanya perbaikan jarak pandang setelah pelaksanaan penyemaian. Meski demikian, efektivitas metode tersebut dalam mengurangi kabut asap masih perlu dikaji bersama instansi terkait.
Perubahan jarak pandang juga perlu dibaca bersama kondisi cuaca, pergerakan angin, konsentrasi partikel polutan, serta aktivitas kebakaran yang masih berlangsung. Dengan demikian, perubahan kondisi udara tidak serta-merta dapat dikaitkan hanya dengan satu faktor.
Evaluasi tersebut penting sebelum teknologi dry ice diperluas penggunaannya ke wilayah lain yang menghadapi persoalan serupa.
BNPB Ingatkan Pencegahan Karhutla Tidak Bisa Mengandalkan Teknologi
Selain mengevaluasi teknologi modifikasi atmosfer, Kristomei menekankan perlunya keterlibatan pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat, dan perusahaan pemegang konsesi untuk mencegah karhutla.
Tag
Berita Terkait
-
Bukan Sekadar Asap Kiriman, 452 Hektare Lahan Palembang Terbakar di Tengah Ekspansi Properti
-
Rangkuman Kericuhan Demo Karhutla Sumsel: Ormas Berbaju Hitam, 2 Jurnalis Dianiaya, 2 Tersangka
-
794 Titik Panas Terdeteksi di Sumsel, 473 Berada di OKI, Udara Palembang Masih Berbahaya
-
Udara Palembang Kembali Berbahaya, PM2.5 Tembus 627,8 Setelah Penyemaian Dry Ice
-
452 Hektar Lahan Terbakar di Palembang, 93 Hektar Berada di Kawasan Rawa Konservasi
Terpopuler
- Hasil Survei Terbaru SMRC Soal Capres: Prabowo Hanya Raih 9,8 Persen, Kalah Telak Dari Dedi Mulyadi
- Kronologi Gubernur Bali Wayan Koster Diamuk Pegawai SPBU
- Wacana Gaji ASN Disalurkan Lewat Koperasi Merah Putih Dinilai Sebagai Langkah Mundur
- Indonesia Masuk Nominasi AFC Awards 2026, PSSI Bersaing dengan Kamboja dan Myanmar
- 4 Slip On Lokal Terbaik Menurut Review Pengguna, Empuk Buat Jalan Jauh hingga Jogging
Pilihan
-
Mantan Kadiv Hubinter Napoleon Bonaparte Meninggal, Pengacara: Doakan Bapak Diampuni Dosa-dosanya
-
Pekan Kelam IHSG: Drama BYAN Haji Isam, Turun Kelas MSCI Hingga Rekor Terburuk Bursa
-
Rakyat Kecil Jadi Korban Antrean BBM, dari Ojol Kehilangan Pendapatan hingga Kampus Terpaksa WFH
-
Singapura Bongkar 7 Perusahaan Indonesia Terkait Karhutla, Ini Daftar Lengkapnya
-
Asap Karhutla Hari Ini Sudah Sampai Jakarta dan Banten!
Terkini
-
Bukan Sekadar Asap Kiriman, 452 Hektare Lahan Palembang Terbakar di Tengah Ekspansi Properti
-
Rangkuman Kericuhan Demo Karhutla Sumsel: Ormas Berbaju Hitam, 2 Jurnalis Dianiaya, 2 Tersangka
-
Butuh Lapor Polisi di Sumsel? Ini Nomor WhatsApp Kapolda dan 18 Kapolres
-
794 Titik Panas Terdeteksi di Sumsel, 473 Berada di OKI, Udara Palembang Masih Berbahaya
-
Udara Palembang Kembali Berbahaya, PM2.5 Tembus 627,8 Setelah Penyemaian Dry Ice