- BNPB menguji penggunaan 2,4 ton dry ice di Sumatera Selatan pada 15-16 Oktober 2026 untuk mengurangi dampak kabut asap.
- Kepala BNPB Kristomei Sianturi menyatakan evaluasi efektivitas dan biaya menentukan penerapan teknologi tersebut di wilayah Indonesia lainnya.
- BNPB menegaskan teknologi dry ice hanya sebagai pendukung, sehingga pencegahan dan pemadaman langsung tetap sangat diperlukan.
Menurut dia, upaya pemadaman akan sulit mencapai hasil optimal apabila pembakaran lahan masih terus terjadi.
"Mari sama-sama, baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, kemudian masyarakat, swasta, kita sama-sama bersatu padu. Kita atasi kebakaran ini, karena dampaknya itu juga semua yang terkena," ujarnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa teknologi dry ice merupakan salah satu pendekatan pendukung penanganan dampak asap, bukan pengganti upaya pencegahan kebakaran maupun pemadaman langsung di lokasi.
Pengawasan lahan, pencegahan pembakaran, penegakan hukum, dan pemadaman sumber api tetap diperlukan untuk mengendalikan karhutla dari sumbernya.
Efektivitas dan Biaya Jadi Pertimbangan Penerapan di Daerah Lain
Rencana penerapan teknologi dry ice di daerah lain masih bergantung pada hasil evaluasi. BNPB perlu memastikan manfaat yang diperoleh sebanding dengan biaya yang dikeluarkan dan sesuai dengan kondisi atmosfer di wilayah sasaran.
Jika hasil kajian menunjukkan teknologi tersebut efektif dan layak secara operasional, metode ini berpotensi menjadi salah satu pilihan untuk mendukung penanganan kabut asap di wilayah terdampak karhutla.
Namun, penerapannya tetap harus disesuaikan dengan kebutuhan daerah dan hasil pemantauan di lapangan. Penanganan karhutla membutuhkan kombinasi langkah, mulai dari pemadaman, pencegahan kebakaran, pemantauan kualitas udara, hingga perlindungan kesehatan masyarakat.
Bagi Sumatera Selatan, evaluasi ini penting karena persoalan karhutla tidak hanya menyangkut kebakaran lahan, tetapi juga kabut asap yang berdampak terhadap aktivitas warga, kesehatan, dan transportasi.
Baca Juga: Bukan Sekadar Asap Kiriman, 452 Hektare Lahan Palembang Terbakar di Tengah Ekspansi Properti
Keputusan BNPB mengenai kemungkinan penerapan dry ice di wilayah lain akan bergantung pada hasil evaluasi terhadap efektivitas, kebutuhan teknis, serta efisiensi biaya teknologi tersebut.
Tag
Berita Terkait
-
Bukan Sekadar Asap Kiriman, 452 Hektare Lahan Palembang Terbakar di Tengah Ekspansi Properti
-
Rangkuman Kericuhan Demo Karhutla Sumsel: Ormas Berbaju Hitam, 2 Jurnalis Dianiaya, 2 Tersangka
-
794 Titik Panas Terdeteksi di Sumsel, 473 Berada di OKI, Udara Palembang Masih Berbahaya
-
Udara Palembang Kembali Berbahaya, PM2.5 Tembus 627,8 Setelah Penyemaian Dry Ice
-
452 Hektar Lahan Terbakar di Palembang, 93 Hektar Berada di Kawasan Rawa Konservasi
Terpopuler
- Hasil Survei Terbaru SMRC Soal Capres: Prabowo Hanya Raih 9,8 Persen, Kalah Telak Dari Dedi Mulyadi
- Kronologi Gubernur Bali Wayan Koster Diamuk Pegawai SPBU
- Wacana Gaji ASN Disalurkan Lewat Koperasi Merah Putih Dinilai Sebagai Langkah Mundur
- Indonesia Masuk Nominasi AFC Awards 2026, PSSI Bersaing dengan Kamboja dan Myanmar
- 4 Slip On Lokal Terbaik Menurut Review Pengguna, Empuk Buat Jalan Jauh hingga Jogging
Pilihan
-
Mantan Kadiv Hubinter Napoleon Bonaparte Meninggal, Pengacara: Doakan Bapak Diampuni Dosa-dosanya
-
Pekan Kelam IHSG: Drama BYAN Haji Isam, Turun Kelas MSCI Hingga Rekor Terburuk Bursa
-
Rakyat Kecil Jadi Korban Antrean BBM, dari Ojol Kehilangan Pendapatan hingga Kampus Terpaksa WFH
-
Singapura Bongkar 7 Perusahaan Indonesia Terkait Karhutla, Ini Daftar Lengkapnya
-
Asap Karhutla Hari Ini Sudah Sampai Jakarta dan Banten!
Terkini
-
Bukan Sekadar Asap Kiriman, 452 Hektare Lahan Palembang Terbakar di Tengah Ekspansi Properti
-
Rangkuman Kericuhan Demo Karhutla Sumsel: Ormas Berbaju Hitam, 2 Jurnalis Dianiaya, 2 Tersangka
-
Butuh Lapor Polisi di Sumsel? Ini Nomor WhatsApp Kapolda dan 18 Kapolres
-
794 Titik Panas Terdeteksi di Sumsel, 473 Berada di OKI, Udara Palembang Masih Berbahaya
-
Udara Palembang Kembali Berbahaya, PM2.5 Tembus 627,8 Setelah Penyemaian Dry Ice